Sunday, May 20, 2012

Kidang Ku Kan Kembali

10 hari aku berkesempatan belajar dengan serius--agak terpaksa, namun lama-lama terasa menyenangkan karena bergabung dalam sebuah tim yang baru lagi. Akhir bulan April yang lalu, aku berkesempatan ikut penggalian lagi dengan tim dari Balar Yogyakarta di situs Gua Kidang, Blora. Yap! Itu adalah situs yang menjadi obyek dari skripsis-tercinta-ku. Kesempatan untuk ikut penelitian disana pun karena ketua tim tau aku mengerjakan situs hunian masa prasejarah ini sebagai tiket menuju kelulusan (yang belum selesai juga sampai sekarang). Demikian sejarah ku bergabung dalam tim ini bersama seorang adik kelas yang juga sama-sama berniat mengambil situs ini sebagai skripsi.

Penggalian dengan tim yang berbeda itu berarti belajar lagi dengan sistem yang baru. Ini ketiga kalinya aku mengikuti penggalian di luar praktikum kuliah yang berarti ketiga kalinya pula aku beradaptasi dengan sistem yang berbeda. Masing-masing memiliki kelebihan, namun yang paling penting dimana pun kita berada harus memiliki kemauan untuk terus belajar dan tidak merasa congkak dengan pengalaman kita yang sebelumnya.

Rupa-rupanya penggalian tahap kali ini membuah hasil yang luar biasa. Temuannya pun spektakuler yaitu berupa rangka hominid dengan sistem penguburan terlipat--kemungkinan besar merupakan Ras Australomelanesid. Yang berarti total temuan hominid berjumlah 3 individu. Ini pertama kalinya juga penggalian yang ku ikuti menemukan rangka manusia. Situs ini ternyata situs yang spektakuler. 

Namun, sesuai dengan skripsi-tercinta-ku, fokus ku lebih kepada berbagai temuan bekicot dan kerang yang ada. Ini juga yang bikin galau akademis karena data-data jauh lebih menarik dibandingkan dengan pilihan data yang ku ambil.

However, aku benar-benar berterima kasih kepada dosen pembimbing skripsi ku yang telah "membawa" ku kemari. Serta ketua tim penggalian dari Balar yang sudah sangat baik sekali memberiku kesempatan untuk ikut disini. Akhirnya, tugas ku tinggal menyelesaikan ini semua sebagai balas budi. :D

Inilah Kerjaan Saya Sebenarnya
source: Andreas Eka Atmaja (Balar YK)

Friday, March 2, 2012

Kimpulan yang Lebih Modern

Beberapa hari yang lalu, saya melontarkan ajakan untuk menggenjot sepeda dalam upaya melarikan diri dari realita tugas akhir. Akhirnya, arkeo genjot berkumpul lagi, tambah seorang kakak kelas yang kepengen juga jalan-jalan. Tujuan kami nggak se-ambisius kemarin--sepedaan sampai pabrik gula di Klaten kok, cuman menggenjot ke Candi Kimpulan yang letaknya di Kampus UII Jalan Kaliurang Km 14. Saya yang paling semangat karena belum pernah sekalipun ke situs tersebut. Padahal tau sendiri sewaktu ketemu candi di proyek pembangunan kampus, orang-orang super heboh langsung kepengen nonton. 

Akhirnya, saya ke sana dengan sepeda imut andalan :D 

Rupa-rupanya, setelah dapat direkonstruksi, Candi tersebut diberi pagar dan dibuat lahan museum dengan arsitektur yang lumayan meski pengunjung tidak dapat langsung turun ke candi seperti obyek wisata candi pada umumnya. Meski pun demikian, kami sih cukup apresiatif dengan bangunan yang bagus itu. Jaminan untuk pelestariannya pasti panjang umur. 

Andai situs-situs purbakala ditemukan oleh lembaga yang punya banyak uang seperti itu, pasti situs arkeologis akan jadi obyek yang lebih menarik lagi. Tidak hanya sekedar jadi tempat muda-mudi pacaran. Ah, dilema pengelolaan BCB--sounds familiar :p



Sunday, December 18, 2011

Life happen: Slug and Clam

Hola!

Kehidupan arkeologis saya akhirnya pada titik sebagai mahasiswa semester akhir yang sedang menyusun skripsi. Sampai juga saya disini. Menulis tugas akhir yang tak kunjung berakhir. Perasaan saya seperti setengah bermimpi, tatkala menengok hari-hari di belakang saya yang jauh itu. Sudah 5 tahun saya asyik kuliah, menghabiskan waktu dengan kegiatan kampus, menjadi petugas perpustakaan, ikut beberapa penggalian disana-sini, bikin pameran dengan berbagai tema, bergelut dengan tugas-tugas kuliah yang bikin tidak tidur semalaman. Itu sudah kemarin. Hari ini saya mengerjakan tugas akhir. Agar esok saya bisa keluar dari kampus untuk merasakan dunia yang sebenarnya.

Namun sebelum hari esok tiba, biarka saya sedikit menjelaskan tentang tugas akhir yang membuat saya berkawan dengan bekicot. Dari gender yang penuh dengan teori humaniora akhirnya saya mendaratkan diri pada kajian arkeologi lingkungan. Berteman dengan kumpulan hewan kecil bernama siput dan kerang. Hampir satu bulan ini saya habiskan untuk analisis temuan di Balai Arkeologi Yogyakarta.

Hidup selalu penuh kejutan. Tahun ini bertemakan tahunnya skripsi. Teman-teman yang lain pun sedang bergegas agar bisa wisuda di bulan Februari besok. Saya? Tanpa target seperti biasa :D

- Ruang Temuan Balar YK

Friday, October 14, 2011

Sweetest Surprise

Saya dapat kejutan manis kemarin. Begitu pulang ke rumah saya mendapati sebuah paket besar dengan sampul warna coklat yang dikirim oleh sepupu saya, Tanya, dari Jakarta. Langsung saya sobek dan mendapati sebuah buku ensiklopedia arkeologi. Ah sweet! Saya berasa dapat hadiah ulang tahun lebih cepat beberapa hari. Thank you dear, you really make my day :)

Tanya mengirimi sebuah buku arkeologi memang jarang sekali bisa didapatkan di toko-toko buku lokal. Makanya, saya bener-bener kaget dengan kejutan ini. Buku ini berjudul "The Illustrated Practical Encyclopedia of Archaeology" dan ditulis oleh Christopher Catling--seorang penulis buku-buku perjalanan yang memiliki ketertarikan terhadap peninggalan-peninggalan kuno, lalu seorang lagi yaitu Paul Bahn--yang nulis bareng Conlin Renfrew dalam buku sakti saya untuk ngerjain skripsi.

Bagi yang tertarik untuk mendalami dunia arkeologi, buku ini dapat membantu untuk menerka-nerka ilmu macam apa arkeologi ini. Isinya yang padat dengan pengenalan teknis ilmu arkeologi serta berbagai profil situs yang di dunia. Kita bisa menjelajah mulai dari situs Afrika hingga Pomppei sambil nengok bentar ke Kamboja. Ada pula cerita-cerita dari tokoh yang berperan penting dalam ilmu arkeologi meskipun banyak nama yang tidak saya ketahui--mungkin karena buku ini lebih memuat kebanyakan tokoh arkeolog dari Eropa. Tapi ketika menemukan nama Leakey sekeluarga yah saya ngerasa gak terlalu ketinggalan dalam membaca sejarah arkeologi deh.

Foto-foto dalam buku ini menyajikan gambar yang benar-benar memuaskan mata. Bisa dibilang bagi yang tidak terlalu suka membaca tulisan dapat membaca secara visual berbagai macam foto yang luar biasa memikat ini. Sekali lagi, terima kasih untuk kiriman dan kejutannya yang luar biasa ini :)

Friday, September 23, 2011

Ketika cerita arkeologis muncul di internet

May 6, 2011 at 7:54 pm, diambil dari Facebook via Notes

Malam ini, seperti biasanya dihabiskan dengan berselancar internet dari satu situs ke situs lain. Disitu lah ketemu artikel di Yahoo! News Indonesia yang cukup menarik karena judulnya agak catchy. "Relief Misterius di Kaki Borobudur". Dari judul ini lah pasti genre tulisannya dibuat populer dengan judulnya yang sangat memenuhi kriteria tulisan ilmiah-populer: membuat orang penasaran untuk membaca lebih lanjut.

Kebetulan pula saya kuliah di bidang purbakala ini tentunya niat baik untuk menambah refrensi perkuliahan donk Isi artikelnya menarik--bercerita tentang relief Karmawibhangga yang ditutup. Sang penulis bercerita ada 2 versi mengenai penutupan relief tersebut, pertama persoalan teknis dan kedua adanya anggapan relief tersebut menampilkan adegan vulgar. Hingga akhirnya dia tidak memutuskan yang mana yang menyebabkan penutupan itu terjadi. Pun si penulis menuliskan sedikit sejarah konservasi ketika jaman Belanda dan dokumentasi mengenai relief Karmawibhangga yang dilakukan oleh pihak Belanda. Sejauh itu tidak ada masalah dari artikel tersebut buat saya. Well, itu masalah familiar yang sudah sering didiskusikan kala kuliah klasik Hindu-Budha. Buat saya si penulis cukup dapat memberikan info yang berguna dan sedikit mengangkat dunia purbakala dengan bumbu-bumbu seperti judul yang agak mistis. Buat saya nggak masalah.

Namun, saya langsung terperangah tatkala membaca rentetan komentar-komentar mengenai artikel tersebut. Komentarnya cukup banyak, yaitu sekitar 80-an, yang saya rasa jarang ada lho orang banyak berkomentar di sebuah artikel purbakala. Ternyata oh ternyata komentar mereka malah jauh dari diskusi yang saya bayangkan. Banyak yang bicara cerdas dari sisi logis namun lebih banyak lagi yang komentar ngarang. Selalu ada orang iseng diantara forum. Muntahlah segala komentar tentang agama, murtad, pornografi, hingga FPI. Caci maki diantara user terjadi. Aiiihhhh bikin ngakak aja!

Kalau saya jadi si penulis artikel, saya cuma bisa geleng-geleng karena esensi dari apa yang saya tulis malah jadi salah kaprah. Namun, begitulah jika memasuki ranah dunia menulis kreatif suatu karya-ilmiah-populer. Apalagi jika dilempar ke zona bebas seperti internet. Orang asal bicara, orang asal komentar, lebih parah lagi orang asal ngaco. Diskusi cerdas pun hanya mimpi. Dan seperti melihat cerminan 80% mental orang Indonesia (termasuk saya) yaitu sukanya menyalahkan tanpa tahu keadaannya dan mistis tentu saja!

Sejurus kemudian baru saya sadari, jangan-jangan persepsi orang selama ini adalah dunia purbakala itu berasosiasi dengan segala macam hal mistis dan pornografi (?) cuman karena arca-arca yang sangat represntatif itu? Karena dari membicarakan relief bisa-bisanya menyambung ke hal cabul, mistis bahkan SARA. Saya cuman bisa geleng-geleng kepala saja. Sambil ngakak juga bacanya. Ada-ada saja ini..

Friday, May 27, 2011

Mind-Numbing

Calvin and Hobbes - by Bill Watterson

Thursday, May 26, 2011

Pilihan

Ketika kita menginjak usia kesekian, apakah pertanyaan itu pernah menggelembung dikepala? Sesuatu yang ada hubungannya dengan tujuan hidup dan pilihan edukasi yang dipilih. 2 minggu yang lalu saya membaca sebuah novel, Katalis. Ceritanya cukup membuat alis menurun meski tokoh-tokohnya remaja SMA namun mereka dihadapkan pada sebuah pilihan untuk menentukan masa depan. Seperti yang digambarkan salah seorang tokoh laki-laki yang cerdas, awalnya ia memlilih untuk kuliah di jurusan Sejarah Seni (Art History) dan menolak untuk harus mengikuti kemauan orang tua agar kuliah di jurusan Ekonomi Bisnis. Seems so familiar?
Namun pada akhirnya, dia memilih untuk kuliah di jurusan Ekonomi Bisnis demi melakukan sesuatu yang berguna. Bukan berarti jurusan sejarah itu tidak berguna hanya saja dia berpikir bahwa ada yang lebih banyak lagi yang bisa dilakukan untuk menolong orang atau melakukan sesuatu jika melalui pilihan jurusan tersebut.

Novel tersebut tidak serta merta memberikan efek yang besar pada saya. Sudah hampir 5 tahun saya menjalani pilihan edukasi saya ini. Belajar ilmu purbakala yang tidak populer itu. Sudah selama ini itulah saya mengalami sendiri berbagai cerita manis, pahitnya bergelut dibidang yang tidak banyak orang tahu ini. Manis, karena saya bisa jalan-jalan keberbagai daerah yang dulu saya tidak pernah bayangkan bisa kesana. Pahit, karena orang-orang kebanyakan tidak tahu ilmu kami berguna untuk apa bagi mereka. Akan tetapi, pertanyaan dari novel tersebut sempat menggelembung juga. Apa gunanya ilmu ini? Ini sedikit menambah keruwetan pikiran saya. Belum ada jawaban yang tepat yang bisa saya berikan namun dalam hati masih ada keteguhan bahwa setiap ilmu pengetahuan bukannya tidak berguna. Saya memang tidak menyelamatkan nyawa orang, tidak pula menggerakkan roda perekonomian negara, tidak membela orang miskin, apalagi menciptakan teknologi. Apa guna ilmu ini?

Kita lewati pertanyaan ini. Saya tidak bisa menjawabnya sekarang. Sejujurnya malah itu membuat saya semakin ruwet.

Oh, ya. Beberapa waktu lalu ada pembaca blog saya yang menghubungi saya. Mereka bercerita ingin memilih jurusan purbakala ini dan menjadi arkeolog. Bagi mereka dan bagi saya hingga sekarang ilmu ini memang menawarkan petualangan-petualangan eksotis. Apalagi kalau bukan gara-gara dia ini..

Saya pun tersihir gara-gara dia. Meski demikian. Bukan mau meruntuhkan impian masa kecil hanya saja saya ingin memberikan kenyataan agar tidak berharap muluk. Indiana Jones itu arkeolog tahun 1930-an dengan kondisi perang dan negara yang saling berebut kekuasaan. Nah, kalau sekarang ya bisa dibilang Indiana Jones itu cuma sekedar kriminal tukang bongkar makam. Hahaha..

Ilmu arkeologi yang lebih populer sekarang ini jauh lebih sistematis dan tidak asal ambil. Walaupun begitu, saya tidak pernah berhenti berharap suatu hari nanti saya akan memiliki petualangan yang tidak kalah spektaluler seperti dia. Mungkin saya tidak bisa menyelamatkan nyawa seseorang. Akan tetapi menghidupkan masa lalu bukanlah hal yang buruk juga.

Sejauh ini saya belum menyesali pilihan edukasi. Meski demikian harapan untuk melakukan sesuatu itu selalu ada..