Sunday, 8 November 2009

Visiting The Palace

Sebuah pengalaman yang sangat luar biasa mengunjungi salah satu dari 4 Istana Kepresidenan yang ada di Indonesia. Jelas saja karena kesempatan yang jarang ada itu lho yang membuat kami berbondong-bondong datang ke Gedung Agung Yogyakarta. Festival Malioboro yang dimulai sejak tanggal 6 - 8 November kemarin memang menyelenggarakan open house Istana Negara untuk masyarkat umum. Sehingga bangunan mgeah yang biasanya hanya bisa dilihat dari luar sekarang bisa kita jelajahi.

Peraturan masuk ke Gedung Agung cukup banyak. Misalnya, harus memakai kemeja atau baju rapi, bersepatu, tidak boleh memotret, tidak boleh membawa handphone berkamera, dsb. Namanya juga kediaman Presiden, sudah pasti banyak peraturan yang harus dipatuhi. Namun ternyata, peraturan mengenai kamera cukup fleksibel jg. Setelah meminta ijin pada salah satu pegawai Rumah Tangga Presiden, ternyata aku diperbolehkan memotret bagian dalam ruangan.

Di halaman depan terdapat sebuah arca tugu yang menarik karena bentuknya yang seperti yoni namun ternyata arca itu justru bergaya budha. Di dalam gedung juga terdapat beberapa koleksi arca--terutama arca Budha yang berasal dari candi-candi sekitar Jogja. Kemungkinan arca ini dibawa oleh pemerintah Hindia-Belanda yang membangun gedung ini, dahulu sebagai kantor pemerintahan mereka pada tahun 1869.

Kamar bola yang dahulu digunakan sebagai tempat bersantai untuk bermain bilyard maupun berdansa oleh orang-orang Belanda sekarang di tangah direnovasi dan rencanannya akan dijadikan sebuah museum.









Sunday, 16 August 2009

Kenang-kenangan skoring: Pemikiran sederhana

Banyak cerita-cerita yang didengar selama perjalanan survey skoring BCB kemarin. 2 minggu di lapangan, yang terkadang terasa panjang dan melelahkan, menjadi sangat menarik karena beragam bangunan kuno berdiri serta cerita-cerita dibaliknya.

Tim yang terdiri dari 3 orang ini kebagian jatah di wilayah Kecamatan Kraton, Yogyakarta. Terdiri dari 3 kelurahan dan 43 bangunan yang ditinjau. Aneka rupa pemilik bangunan bisa ditemui. Ada yang sangat ramah, antusias menyambut, bercerita banyak hal hingga larut malam tapi ada pula yang jutek.

Namun dari kesemua tempat yang didatangi, rata-rata memiliki cerita yang sama. Rumah-rumah kuno yang ditinggali banyak yang berubah bentuk. Rombak total sering sekali dilakukan. Apa boleh buat, bangunan dengan kondisi umur yang sangat tua sudah pasti akan sangat sulit penanganannya. Kadang penggantian bahan dan material yang jauh berbeda dari bahan asli bisa bikin geleng-geleng kepala. Sayang sekali.

Apa boleh buat, tidak perlu menyalahkan pemilik bangunan. Pemahaman mengenai pelestarian bangunan kuno jelas masih minim. Hal ini karena langkah pemerintah yang memang terkesan kurang maksimal dalam mengkampanyekan UU BCB. Tapi tunggu dulu, apakah hal ini juga salah pemerintah? Rasanya kok jadi tidak adil ya? Beban berat bagi pemerintah juga jika harus menangani segala tetek-bengek urusan beginian lho. Jadi muncul pertanyaan, "Apakah Indonesia mampu peduli dengan urusan BCB ini?"

Mungkin ini saatnya, pemerintah-masyarakat awam dan orang yang peduli sama-sama bekerja sama.

Tuesday, 30 June 2009

This Summer

Bulan Juli ini, aku masuk tim skoring untuk penetapan BCB. Tugas yang menyenangkan sekaligus dengan tanggung jawab yang agak berat. Mungkin karena pekerjaan ini dilakukan bareng dengan instansi pemerintah yaitu Dinas Pariwisata. Semoga orang-orang itu nggak old-fashion dan saklek konservatif. Agak sedikit sarkastik memang, dengan men-generalisasikan para pegawai negeri seperti itu. Sebetulnya, aku hanya berharap mereka tidaklah meremehkan kemampuan orang-orang muda. Soal pengalaman mungkin emang masih kalah jauh dibandingkan mereka. Hanya, pemikiran baru bukanlah jelek untuk diterima bukan?

Tapi aku cukup optimis dengan pekerjaan ini. Dinikmati seperti task yang lainnya. Pengalaman survey dengan green map rasanya berguna sekali. Aku cukup beruntung bisa dapat kesempatan ini.

Enjoy this summer!
:)

Monday, 15 June 2009

Menyelami KarimunJawa

Langit sore yang begitu biru terbentang luas tanpa ujung. Ku hirup dalam-dalam udara sekitar, membaui laut serta aroma garam. Karimun--finally!


30 Mei 2009, aku berhasil datang ke KarimunJawa, sebuah gugusan kepulauan yang letaknya di sebelah utara Pulau Jawa. Di Pulau Karimun Jawa ini nantinya selama 3 hari ke depan bakal ku selami lautnya. Yap. Ini pengalaman menyelam dasar air di laut terbuka untuk pertama kalinya dalam hidupku. Setelah belajar berenang selama setahun (dan bisa!), juga berbagai latihan dasar di kolam, dari tanggal 1-3 Juni 2009, aku bakal ujian untuk SIM menyelamku yang sebenarnya. Agak gugup juga dengan diklat ini karena aku cukup sadar diri kalo kemampuan berenang dan lainnya jelek.

Perjalanan di Kapal Muria selama 6 jam, menyeberang sejauh 41 mil laut dan terombang-ambing diatasnya--rasanya sudah terbayar begitu melihat pasir putih di pantai, dan terumbu karang yang nampak jelas dilihat dari atas permukaan air. Rasanya kayak ada disalah satu set syuting film bajak laut. *dan siapa tau ada cewek keren kayak Keira Knightly

Bagaimana nantinya di dalam air ya? Bagaimana dengan bulu babi ya? Kalau ada arus?
Pertanyaan itu terus bergulir di dalam kepala ini. Rasanya super berdebar-debar--antara takut tapi juga penasaran. Menjajal air laut rasanya luar biasa asin. Sampe keselek juga pas berenang 200 m sampai di sebuah karamba. Adaptasi tubuh dengan laut kayaknya nggak tanggung-tanggung. Bibir kering, terasa asin sepanjang hari, rambut kering, dan kulit yang gosong. Tapi aku mengapung karena massa jenis air asin yang membuat tubuh terasa lebih enteng dan itu sangat menyenangkan :)

Diving di hari pertama rasanya agak berat. Mungkin karena ada tekanan tersendiri--rasa takut dan kepikiran soal materi. Susah juga karena poin menyelam adalah nggak panik. Ada perasaan panik karena menyelami tempat yang bukan habitatnya. Kegelapan. Daya penglihatan yang kabur. Lalu makhluk dalam air seperti bulu babi. Hiii bikin merinding. Tapi, dari hari ke hari, aku akhirnya mampu menikmati dasar air dengan asyik. Seru sekali, menyelam sambil memerhatikan kerumunan ikan yang berbelok karena ada orang dihadapannya.

Hari terakhir menyelam di dekat Pulau Menjangan Kecil. Tempatnya super keren! Cukup dengan snorkling aja kita udah bisa menikmati terumbu karang dan ikan-ikan lucu. Aku menyelam sampai di kedalaman 18 meter, menjelajahi karang-karang, baik yang hidup maupun mati (aku belum bisa membedakannya). Rasanya pengen terus melayang di dalam air. Hehehe :)
Menikmati air, sama seperti menikmati udara. Juga ketika menghadapi ketakutanmu, maka kamu harus melawannya bukan justru berlari menjauh.

*courtsey: Madha Ramadhan


Saat Menyelam

Harus:
- Memiliki partner menyelam (buddy)
- Pakai alat scuba!
- Menikmati air laut dan kedalamannya

Tidak Boleh:
- Panik
- Mematahkan terumbu karang
- Lupa komunikasi Bawah Air

Let's have another dive to blue :)

Saturday, 25 April 2009

Tegen Stroom

Arus balik. Kalau tidak salah ingat, itu adalah satu judul buku karangan seorang Belanda mengenai teori arus balik. Pagi itu, kurang lebih--2 setengah tahun yang lalu, Pak Pinardi menyebutkannya sebagai salah satu buku yang sangat baik dibaca alias buku bacaan wajib mata kuliah "Arkeologi Hindu-Budha". Ya ampun, itu sudah lama sekali sejak semester awal saya kuliah dan hingga detik ini menyentuh bukunya pun belum pernah saya lakukan. Tapi mengingat bukunya masih 'pure' bahasa Belanda, maka cukup masuk akal kalau saya nggak pernah baca. Wong, bahasa Belanda aja nggak ngerti sama sekali kok. Hehehee..

Mata kuliah Arkeologi Hindu-Budha yang jadi mata kuliah wajib jurusan Arkeologi adalah mata kuliah semester awal yang emang terkenal jadi horor tersendiri buat kami para mahasiswa lugu kala itu. Masa Hindu-Budha, atau biasa disebut oleh kami masa Klasik Indonesia, memang merupakan masa keemasan kemajuan peradaban dan kebudayaan Indonesia di masa lalu. Gimana enggak, masa klasik bisa dibilang masa awal pembangunan kebudayaan di Indonesia untuk mencapai saat sekarang ini. Masa yang dimulai, kurang lebih sejak abad ke-4 Masehi itu banyak meninggalkan tatanan kehidupan manusia Indonesia yang susah banget dilacak hingga saat ini. Masa itu ditandai dengan masuknya kebudayaan India yang kawin dengan kebudayaan lokal sehingga perpaduan dua kebudayaan itu menghasilkan satu kebudayaan yang luar biasa. Banyak banget bangunan candi-candi pemujaan, puluhan batu prasasti yang memuat pajak tanah sima (tanah perdikan), dan ribuan arca-arca beraneka rupa. Banyak yang mesti dihapal dan dipahami. Rekonstruksi kehidupan klasik juga nggak gampang karena bisa dibilang, banyak tatanan kehidupan masa itu sudah hilang sama sekali. Jika masa Klasik Eropa adalah kemegahan kebudayaan Yunani-Romawi, maka Indonesia mempunyai kebudayaan dari masa Hindhu-Budha.

Kenapa? Kenapa mesti masa Hindu-Budha bukannya masa Islam atau masa Kolonial atau bahkan masa kini--abad 21 dengan iPod tersampir di lubang telinga, Blackberry tergenggam kuat di tangan dan internet 24 jam tanpa henti????

Salah satu alasannya adalah masa klasik Indonesia telah menciptakan tatanan kebudayaan yang luar biasa dengan takaran kehidupan saat itu. Belum ada jalan aspal tapi mereka bisa membawa batu-batu turun pegunungan yang jaraknya ribuan kilo, belum ada kertas kalkir tapi mereka sudah membuat blue print di atas daun lontar atau menatah batu, belum ada alat berat dan gilingan semen tapi mereka bisa bikin candi Borobubudur!

Dan satu poin menarik dari teori arus balik adalah penyebutan manusia-manusia Indonesia pada masa lampau itu sebagai local genus. Mereka mencuri ilmu di negeri India tentang keagamaan kala itu, dan menerapkannya dengan cara lokal. Banyak hasil kebudayaan--yang meski bernafaskan agama Hindu-Budha namun berbeda karena kultur lokal yang lebih banyak dimasukkan. Mereka belajar tetapi tidak membajak. Mereka mengambil tapi tidak sama rupa malah jauh lebih kreatif. Lihat saja bentuk arsitektur candi Indonesia yang jauh berbeda dengan candi di India.

Local genus itulah penyebutan sarjana Belanda kepada manusia-manusia masa lampau Indonesia yang telah menciptakan suatu karya budaya yang baru dan namun tidak melupakan akar tradisional. Saya memang berkutat dengan cerita-cerita masa lampau yang seperti itu. Bercermin dari sejarah masa lalu itulah mengapa saya ingin menjadi local genus masa kini. Studi keluar negeri saat ini pastilah tidak sesulit masa lalu. Terbang ke Belanda hanya perlu beberapa jam perjalanan udara bukannya berbulan-bulan dengan kapal layar dan terombang-ambing di laut lepas. Kalo dulu, para sarjana Belanda itu datang Nusantara dengan berkoloni maka saya rasa, saat ini pun kita bisa memulainya.

Bisa dibilang, Belanda adalah salah satu surga untuk belajar arkeologi. Kentalnya hubungan Belanda-Indonesia selama 3, 5 abad bisa dikatakan terjadi pertukaran kebudayaan. Leiden--kota seribu museum, banyak membawa temuan arca-arca dan menyimpannya di museum-museum mereka. Dan demi Bennet Kempres dan Damais yang sudah susah payah merangkum tulisan prasasti Nusantara, saya kepengen membalas mereka dengan merangkum kebudayaan Belanda pula.

Belajar di negeri Belanda, jelas akan jadi tiket saya untuk menuju ke komunitas dunia. Saya ingin menjadi local genus masa kini--mencuri ilmu dan pengalaman bertemu masyarakat kelas dunia agar tidak kalah hebatnya dengan mereka semua.