Sunday, September 13, 2015

Tanggung Jawab

Jika banyak pepatah bilang, hidup dimulai setelah kita keluar dari zona nyaman, itu betul tidak? Zona nyamanku ada di kampus. Tinggal sebagai mahasiswa arkeologi yang punya mimpi-mimpi untuk berpetualang seperti Indiana Jones. Tapi setelah lulus, apakah aku udah keluar dari zona nyaman itu?

Belum juga. Wong kemudian belum ada setahun lulus aku kembali mendaftarkan diri sekolah. Naik tingkat mencoba menjadi master, tapi masih dengan predikat yang sama seperti sebelumnya, mahasiswa.

Berarti, aku masih saja di zona nyaman. Apakah ini berarti aku tidak keluar sama sekali?
Belakangan ini, di kepala selalu kepikiran. Dengan titel sarjana sastra tapi bukan menulis sama sekali keahliannya, melainkan tukang gali tanah.

Ada ketakutan, ada ketidak puasan. Ada rasa ngeri membayangkan. Apalagi semakin sering berinteraksi dengan banyak orang dan mengerjakan berbagai pekerjaan, rasanya titel arkeolog itu seperti mimpi saja.

Aku ingin jadi arkeolog sejati. Tapi, tetap harus kembali ke realita berkutat dengan administrasi dan birokrasi yang membuat kita sulit untuk bergerak. Mau ini itu. Mimpi ini itu. Semua ada batasannya. Seperti zona nyaman itu tadi. Sebuah zona, ya, pasti ada batasnya. Nyaman pun pasti terbatas. Hidup susah pun harus ditinggalkan karena manusia bergerak terus.

Life isn't pretty, though. Banyak hal yang mengecewakan. Berharap itu tidak boleh. Bermimpi mungkin sekarang lebih banyak yang dikuburkan daripada yang diusahakan. Entah mengapa, aku dan teman-teman lain jadi generasi pesimis. Seolah menyandang titel dan bekerja sebagai arkeolog itu hanya akan jadi jalan buntu tanpa arah, tanpa uang, tanpa masa depan.

Apa betul seperti itu?

Kalo gitu, jika aku memulai menata ulang impianku tentang menjadi arkeolog--tidak terlambat bukan? Aku ingin sukses jadi arkeolog, untuk bertanggung jawab pada pilihan pertama dalam hidupku yang kutentukan sendiri. Tanpa campur tangan orang tua. Tanpa campur tangan orang lain. Ketika aku memilih jurusan arkeologi sebagai pilihan pertamaku di universitas, maka itulah tanggung jawab yang harus kubuktikan kepada ibuku, ayah, dan kakak-kakakku. Hidupku bisa bahagia dengan pilihan yang kuambil.

Baiklah. Mari kita ulang lagi kebanggaan kita. Dari awal.

Saturday, August 16, 2014

The Last Paradise in Earth

Sebetulnya agak super telat kalo menulis cerita ini, tapi teramat sayang kalo kisah ini cuman dibiarkan teronggok di sudut kenangan dalam kepala saja. Aku selalu merasa menjadi seseorang yang diberkahi keberuntungan luar biasa oleh Tuhan. Dan berkah keberuntungan itu kerap membawaku berpetualang ke tempat-tempat baru. Dengan sedikit keberuntungan, kali ini aku melakukan perjalanan semahal menjelajah benua Eropa sana, yaitu pergi menuju Raja Ampat--most people said it is last paradise in earth.

Katanya ini naik haji, kalo buat para penyelam. Bisa datang ke tempat yang selama ini cuman bisa jadi angan belaka buat orang-orang di tanah jawa. Raja Ampat kadang kala seperti sebuah mitos--layaknya kita berbincang tentang surga. Tempat eksotis--katanya, dive spot terindah--katanya, tempat wisata luar biasa seperti halnya surga--katanya. Dan perjalanan kali ini bertujuan untuk membuktikan semua yang katanya orang-orang itu bilang.



Jadi bagian dari tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional membuatku dapat melakukan perjalanan menuju 'surga' itu hanya dengan bermodal isi otak saja. Penelitian kali ini bertujuan untuk mencari potensi tinggalan arkeologis di wilayah Kepulauan Raja Ampat, Prov. Papua Barat. Lokasi penelitian ini berada di Distrik kepulauan Misool. Penelitian selama hampir seminggu di Misool ini sudah membuatku merasa seperti Indiana Jones. Tebing karang, hutan belantara, penjelajahan pulau-pulau kecil, 39 situs gambar cadas (rock art) yang tertoreh di tebing-tebing pulau karang, cave diving, susur gua, semua petualangan di alam liar itu benar-benar tak terlupakan. Sayang cuman kurang ketemu emas seberat 23 ton aja maka petualangan ini layak dijadikan film Indiana Jones dari Indonesia.


Misool memberikan kesan yang luar biasa. Melekat begitu dalam. Bukan hanya tentang lansekap alamnya yang luar biasa cantik. Tapi keramahan orang-orangnya juga. Pertama kali menginjakkan kaki di tanah Papua--wilayah paling timur dari Indonesia, membuatku separo semangat berada di tempat yang baru dan separonya takut karena stigma yang melekat dalam masyarakat selama ini membuat mereka yang berada di timur tampak seperti ter-alienasi oleh bangsanya sendiri.

Ada saat ketika gap budaya membuat adrenalin terpacu. Bahkan pakaian dalamku semapt dicuri berikut dengan sandal jepitku. Bertemu dengan pace-pace mabok di siang bolong. Tapi semau itu, entah mengapa tidak membuatku merasa negatif. Suasana tim bersama dengan orang-orang asli dari Misool yang menjadi pemandu kami membuat semua itu hanya sekedar peristiwa sambil lalu yang membuat tertawa jika mengingatnya lagi. Bersama Pak Muslim, Pak Amin, Pak Basri, Pak Korwa kami diaja menjelajahi kepulauan di Misool dengan speed boat. Dari tebing ke tebing, dari satu gua ke gua lainnya.

Semoga ada kesempatan lagi untuk mengunjungi mereka kapan-kapan!
Terima kasih Raja Ampat, untuk membiarkanku mencicipi sebuah surga di dunia. 

courtesy: Adhi Agus Oktivana, Ayu Dipta Kirana

Saturday, November 23, 2013

Gali Rumah?

Apa jadinya jika halaman rumah yang kamu idam-idamkan untuk segera ditinggali, kini justru malah berubah jadi labirin kotak galian? Kalau saya sih pasti pingsan di tempat. 

Anyway, itu pula yang jadi cerita seru kali ini. Saya bersama temen-temen arkeologi veteran (baca: pengangguran ceria) kali ini harus meng-ekskavasi halaman rumah orang untuk mencari candi di Desa Bedingin, Mlati, Cebongan, Sleman, Yogyakarta.

Asal mulanya berawal dari pembangunan rumah di daerah perumahan baru tersebut. Ketika mereka sedang membuat sumur resapan untuk pembuangan kotoran, ditemukan sebuah batu kotak-kota khas bangunan candi, serta sebuah batu berukir yang ternyata merupakan Makara. Temuan itu langsung dilaporkan ke BPCB Yogyakarta. Mereka pun bertindak cepat dan tim ekskavasi inipun dibentuk secara mendadak.

Akhirnya terkumpul para veteran arkeolog yang terlibat dalam penggalian ini. Ekskavasi bersama rekan seperjuang yang sama-sama lama menempuh waktu kuliah. Tentu saja ekskavasi ini kerasa begitu spesial dan hangat. Masing-masing sudah tau karakter satu sama lainnya sehingga tidak ada kesulitan untuk menjalin kerja tim. Suasana seru ini terus berlangsung hingga akhir kegiatan.

Ini merupakan kerja sama pertama ku dengan BPCB Yogyakarta. Akhirnya aku diberi kesempatan untuk bekerja sama dengan instansi ini. Tentu saja ada hal yang baru lagi yang dapat dipelajari. Aku jadi jauh lebih matang dalam teknis ekskavasi kali ini. Yang mengejutkan adalah atmosfir kerjanya yang super santai. Aku tidak begitu keberatan sih.

Ekskavasi kali ini merupakan penggalian untuk penyelamatan benda cagar budaya. Problem muncul karena sempitnya ruang gerak kami untuk mengupas tanah. Hal ini karena bangunan rumahnya sudah berdiri kokoh sehingga yang diharapkan untuk dapat menemukan sebuah struktur fondasi candi agak sulit. Tetapi, kami tetap beruntung karena berhasil menemukan sebuah lempeng emas dalam pecahan periuk. Bisa jadi pripih tetapi bukan pripih utama. Bisa jadi apa saja.

Penggalian kali ini membuatku merenungkan banyak hal. Kalau selama ini, di penggalian prasejarah, saya selalu terlibat pada death monument seperti halnya gua atau situs terbuka seperti Sangiran, penggalian di situs klasik kerap kali bersinggung dengan masyarakat masa kini. Entah tempat tinggal, universitas, sawah dan lain sebagainya. Kurasa ini jadi pengingat tersendiri bagi saya, bahwa apa yang kita agungkan sebagai sebuah penelitian harus berbenturan dengan banyaknya kepentingan. Saya sih merasa kita tidak boleh egois dengan mengatas namakan ilmu pengetahuan. Akan tetapi disatu sisi, idealisme sebagai peneliti pun tergelitik ingin mengetahui lebih dalam lagi.

Pada akhirnya, semua ini jadi bahan perenungan tersendiri. Dimanapun tempatnya. Se-menyebalkan, se-bosan apapun, se-bobrok apapun instansi tempat kita bekerja tetap disana adalah tempat kita untuk terus belajar dan menghasilkan karya.

 courtsey: Cak Cuk Riomandha
 courtsey: Cak Cuk Riomandha


Courtesy: Andi Putranto

Wednesday, August 28, 2013

Job Seeker

Jadi, bagaimana aku harus memulainya?

Kelulusan menjadi salah satu pengantarnya. Lepas dari institusi berjudul sekolahan tentu membuatku agak megap-megap. Setelah ini kemana? Tidak seperti halnya ketika masih berseragam, jalan hidup sudah dicetak sempurna tidak boleh berubah. Lulus SD harus daftar SMP, setelah itu lanjut SMA. Lulus sekolah menengah pun sudah tahu harus melanjutkan ke universitas bukannya bekerja.

Setelah pendadaran, kondisi kaki setelah patah tulang tidak memungkinkan untuk mengurus wisuda di bulan Februari sehingga kuputuskan untuk mengikuti wisuda di periode bulan Mei. Rentang waktu Januari (bulan pendadaran) hingga wisuda tentunya cukup panjang. Hampir 5 bulan. Dengan ketakutan bakalan jadi pengangguran, akhirnya aku menyabet apa saja tawaran yang mampir padaku. Salah satunya adalah pekerjaan di Museum Sonobudoyo ini.

Diantara pekerjaan multi-tasking lainnya, proyek di museum ini memberikan kesan mendalam. Bukan hanya karena jenis pekerjaannya, tapi juga orang-orangnya. Mungkin inilah cermin dari sistem birokrasi kepegawaian negeri di Indonesia. Melihat kondisi museum, aku hanya dapat tersenyum geli sekaligus prihatin.

Sejujurnya, aku cukup menyukai pekerjaan selama hampir 4 bulan lebih ini. Mungkin bekerja di museum tidak memiliki gengsi tinggi seperti halnya mengerjakan event seminar internasional. Tapi, jenis pekerjaan ini membuatku ingin belajar dan mencari tahu mengenai budaya. Atau hal-hal kecil lainnya.

Tapi semuanya masing-masing memiliki sisi terang dan gelapnya. Adanya yang menyenangkan adapula yang mengkhawatirkan. Aku takut hidupku stagnan ketika menjadi pegawai negeri biasa. Tapi ada keinginan tersendiri untuk terjun di dalam bidang permuseuman terutama di Sonobudoyo ini.

Well, life starts here, doesn't?

Lanjuuuuuut Gan!

Setelah melalui proses yang cukup dilematis dengan keadaan blog ini--antara ingin dilanjutkan atau tidak, akhirnya saya putuskan untuk terus berlayar berwahana blog ini. Mungkin dalam perjalanan nanti, judul 'Archeology Diaries' tidak lagi relevan. Bisa jadi karena aku sendiri tidak akan menjadi seorang arkeolog yang sah memiliki sebutan tersebut. 

Apapun. Saya pikir jalan yang sudah dilalui hampir 7 tahun ini kurasa akan sangat sayang bila ditinggalkan begitu saja. Karena itu, hari-hari saya berikutnya. Catatan-catatan seorang sarjana arkeologi yang masih idealis rasanya sayang jika tidak dituliskan.

Banyak yang terjadi dalam kurun waktu 3 bulan setelah kelulusan. Masih menyangkut tentang dunia arkeologi dan, tentu saja, kegamangan saya yang bertumpuk di kepala. Saya sekarang sedang mengerjakan proyek di Museum Sonobudoyo dan keseruan disana sangat luar biasa hingga sayang apabila dilewatkan. 

So? 
Lanjuuuuuuuttttt Gan!

Sunday, June 9, 2013

Graduation

Tidak memungkiri, masa perkuliahanku sangat berkesan. Tahun-tahun yang dihabiskan kebanyakan merupakan gabungan otak akademis dan persahabatan yang menarik. Juga sedikit tentang cinta. Ketika pertama kali membuat blog ini, yaitu sekitar 7 tahun yang lalu--apa yang pertama kali kupikirkan? Bahwa buku harian kehidupanku di dunia arkeologi aku akan mengalami banyak sekali hal yang luar biasa. Aku tidak akan pernah membayangkan bahwa dunia ini mampu membawaku melakukan perjalanan yang luar biasa.

Aku lupa, dan nyaris melewatkan dua peristiwa bersejarah dalam blog ku ini. Yang pertama adalah saat aku pendadaran lalu yang kedua adalah ketika aku diwisuda.

Setelah 6 tahun 4 bulan masa studiku di jurusan arkeologi ini, aku menutup kenangan masa perkuliahanku denga indah.

Para sahabat-sahabat, yang telah berbagi tawa dan keseruan dalam petualangan ini, selalu hadir pada kedua momen tersebut. Padahal mereka sudah disibukan oleh pekerjaan dan keriuhan dunia nyata, namun masih sempat saja mereka hadir untuk memberikan tawa terbaik mereka padaku.

Aku hampir dapat mengingat semua waktu yang telah dilalui bersama selama ini. Welcome party, Abhiseka Ratri, jadi panitia Abhiseka Ratri, field trip, ekskavasi di Plaosan Kidul, jelajah sungai purba, kegiatan HIMA, seminar proposal, survei skripsi, road trip, pendadaran hingga wisuda. Semua cerita itu menjadi satu bagian sejarah terpenting dalam pembentuk diriku yang kini.

Kini, hidup bergerak cepat. Tibalah di persimpangan jalan. Termasuk juga blog ini yang masih bingung untuk dilanjutkan atau tidak. Sesuai namanya--buku harian arkeologi, aku belum dapat memutuskan menjadi arkeolog profesional atau tidak. Yang pasti, untuk semua petualangan berharga ini. Terima kasih arkeologi :)

Sunday, January 13, 2013

Killing Field

Minggu depan, sekitar antara hari selasa atau rabu adalah hari pembantai. It's killing field dan aku akan mati disana. Namun aku akan memilih mati terhormat. Bukan cuma terpekur, menangis dan merasa jadi korban. Tapi aku merasa sakit hati atas satu setengah tahun yang panjang.

Beberapa saat ini rasanya memang tidak adil. Dan untung, sedikit keberuntungan aku akan tahu bagaimana rasanya maju dan mempersembahkan kepalaku untuk dipenggal. Aku maju untuk mati.
Dan apa yang ku pahami dan kini akan aku sesali adalah kompromi ku. Rupanya aku berkompromi untuk tetap mati. Tidak ada ide brilian yang dapat menyelamatkan diriku. Aku mati karena kesombonganku, berpikir bahwa diriku ini brilian.

Dari setiap pertanda yang Tuhan berikan pada ku, tetap aku melaju dengan kesombongan tak terkira. Namun karena aku tahu ini adalah sebuah kesalahan sejak dari awal maka aku akan mati demi mencari kebenaran itu.

Satu setengah tahun berkompromi selama ini rasanya sungguh menyakitkan. Tak terkira aku tidak dapat apa-apa. It sucks!

Bismillah...

Thursday, December 20, 2012

Kota Bata

Jika diibaratkan, bagi seorang arkeolog datang ke Trowulan itu bagaikan naik Haji ke Mekah. Setelahnya datang kesana, pantas sudah jadi seorang arkeolog Indonesia. Akhirnya, saya bisa 'naik haji' itu setelah hampir 6 tahun berkuliah kaki ini bisa menjejakkan langkah ke tempat matahari terasa ada 9 buah membakar  bumi.

Trowulan itu bagaikan kota misterius yang samar-samar ada namun terpendam dalam ingatan masa lalu yang terlampau jauh terendapkan. Kota ini, konon katanya megah berdiri bersamaan dengan dongen Majapahit yang berdiri tegak menyatukan nusantara menjadi satu nafas. Trowulan adalah kota kuno yang hadir dalam dongeng para arkeolog tentang sebuah peradaban kuno, rumah-rumah batu bata, gunungan gerabah dan keramik hingga celengan babi yang ikonik. 

Road trip ke Trowulan adalah perjalanan 'naik haji' ku yang mengesankan. 2 hari tidak tidur, tidak mandi, tidak cuci muka, tidak ganti baju. Perjalanan padat bersama kawanan antar angkatan tua yang tersisa kini melebur jadi teman seperjalanan yang menyenangkan. Untung saja, aku menjelajah Trowulan ketika kabut masih tebal, udara masih membeku, dan subuh baru saja tiba. Jika tidak mungkin gosong banget muka ini.

CKC (Candi ke Candi) dimulai dari Candi Brahu untuk menyambut mentari terbit, lalu Candi Tikus hingga Candi Bajang Ratu. Sore sebelum pulang, mampir ke kolam segaran tempat anak-anak yang sedang penggalian (proyek ambisius tanpa arah bernama PATI II) membuang temuan keramik biar nggak pusing untuk di analisis. 

Mungkin ini adalah trip sebagai mahasiswa ku yang terakhir. Semoga dengan ini jadi arkeolog yang mabrur! 

Candi Brahu

Candi Tikus

Bajang Ratu

Konon katanya Kraton dekat Sumur Upas?


Belum Mandi

Tuesday, September 18, 2012

Lustrum ke Lustrum

Kira-kira sekitar tahun 2007, malam itu, sebagai mahasiswa yang terbilang baru memasuki dunia yang baru aku mengikuti kegiatan tersebut dengan semangat yang luar biasa. Aku dan beberapa teman didapuk jadi penerima tamu untuk acara reunian akbar yang diselenggarakan oleh jurusan dalam rangka lustrum. 5 tahun kemudian, di malam yang serupa aku masih juga ada disana. Berganti peran berjualan kaos salah satu usaha angkatan. Berdiri disana masih dengan label mahasiswa yang melekat namun semua tak lagi sama. Waktu telah berbaik hati untuk merubah kami yang dahulu hanya sekedar anak-anak remaja baru masuk kampus menjadi seseorang yang bisa dikatakan jauh berbeda.

Hidup memang penuh dengan kejutan yang tak terduga. Kita semua dibawa pada cerita masing-masing, tawa yang dulu ada mungkin kini telah berubah menjadikan kami manusia yang tak lagi sama. Persahabatan dan olok-olokan guyon yang menemani bertahun-tahun ada yang masih lucu ada pula yang tak mengundang tawa seperti dulu. Bahkan zona nyaman ku ini pun tiba-tiba mendepak ku dengan kasar dan tidak lagi menjadi nyaman. Hidup terasa lucu. Mungkin inilah yang disebut dengan perubahan, meski dunia masih sama namun isinya telah berganti. 

Terima kasih kampus arkeologi yang sudah memberikan pengalaman luar biasa tak terduga dalam perjalanan hidup ku. Viva Arkeologi! Selamat ulang tahun emas! 50 tahun sudah engkau melangkah membawa tunas-tunas baru untuk berpetualangan memecahkan misteri masa lalu :)

#arkeologi2006

Monday, July 23, 2012

Oh Manila Oh Ayala

Hidup ku, belakangan ini, mungkin merupakan kombinasi antara keberuntungan (hampir kebanyakan) dan kemampuan (yang sebetulnya minim) yang membawa ku menuju kejutan tak terduga di pertengahan tahun 2012 ini. Aku tidak henti-hentinya berucap syukur akan keberuntungan ku dan sedikit kemampuan ini. 

Pada bulan Mei yang lalu, Pak Dosen tiba-tiba memanggilku ke ruangannya. Disambut dengan Pak Dosen lain yang secara mengejutkan--nggak ada angin, nggak ada hujan, secara tiba-tiba menawarkan kesempatan untuk mengikuti workshop tentang Palaeoenvironmental. Ku sambar, tentu saja dengan secepat kilat tawaran tersebut. Dan 2 bulan berikutnya, di awal bulan Juli kemarin ini, aku terbang ke Filipina untuk pertama kalinya. 

Workshop ini diselenggarakan oleh Archaeology Studies Program (ASP) University of The Philippines - Diliman selama 6 hari pada tanggal 9 - 14 Juli 2012. Tema besar mengenai kajian lingkungan purba tentu saja jadi santapan lezat ku mengingat skripsi-tercinta-ku juga mengkaji bidang ini. Akan tetapi, rupa-rupanya fokus workshop ini justru ditekankan pada kajian Botani. Artinya kita berseberang jalan. Ku khianati sebentar fauna-fauna purba ku untuk belajar flora terutama Analisis Pollen atau serbuk sari. Karena peserta workshop tidak hanya dari bidang arkeologi namun juga biologi dan geologi maka contoh sampel pollen diambil dari serbuk sari yang masih segar. Artinya, kita tidak mengambil sampel sedimen. 

Aku bersyukur sekali bisa sampai disana dan kembali belajar dengan orang-orang yang luar biasa pintar dan berilmu lebih. Apalagi workshop ini untuk kelas mahasiswa master atau setidaknya yang sudah lulus sarjana. Nervous. Tentu saja, dalam hati selalu kepikiran kalau-kalau aku berbuat bodoh seperti biasanya. 10 hari di Manila terasa luar biasa. Bertemu dengan wajah familiar dan juga wajah-wajah baru, berkenalan, mingle, dan mencoba kehidupan dengan bahasa yang berbeda dari pagi hingga malam. Rasanya luar biasa. Bahkan aku terharu melihat diri ku sendiri, yang mampu melakukan perjalanan ini sendirian dengan kedewasaan ku yang minim. 

ASP Laboratorium
Palawan Lab



Sunday, May 20, 2012

Kidang Ku Kan Kembali

10 hari aku berkesempatan belajar dengan serius--agak terpaksa, namun lama-lama terasa menyenangkan karena bergabung dalam sebuah tim yang baru lagi. Akhir bulan April yang lalu, aku berkesempatan ikut penggalian lagi dengan tim dari Balar Yogyakarta di situs Gua Kidang, Blora. Yap! Itu adalah situs yang menjadi obyek dari skripsis-tercinta-ku. Kesempatan untuk ikut penelitian disana pun karena ketua tim tau aku mengerjakan situs hunian masa prasejarah ini sebagai tiket menuju kelulusan (yang belum selesai juga sampai sekarang). Demikian sejarah ku bergabung dalam tim ini bersama seorang adik kelas yang juga sama-sama berniat mengambil situs ini sebagai skripsi.

Penggalian dengan tim yang berbeda itu berarti belajar lagi dengan sistem yang baru. Ini ketiga kalinya aku mengikuti penggalian di luar praktikum kuliah yang berarti ketiga kalinya pula aku beradaptasi dengan sistem yang berbeda. Masing-masing memiliki kelebihan, namun yang paling penting dimana pun kita berada harus memiliki kemauan untuk terus belajar dan tidak merasa congkak dengan pengalaman kita yang sebelumnya.

Rupa-rupanya penggalian tahap kali ini membuah hasil yang luar biasa. Temuannya pun spektakuler yaitu berupa rangka hominid dengan sistem penguburan terlipat--kemungkinan besar merupakan Ras Australomelanesid. Yang berarti total temuan hominid berjumlah 3 individu. Ini pertama kalinya juga penggalian yang ku ikuti menemukan rangka manusia. Situs ini ternyata situs yang spektakuler. 

Namun, sesuai dengan skripsi-tercinta-ku, fokus ku lebih kepada berbagai temuan bekicot dan kerang yang ada. Ini juga yang bikin galau akademis karena data-data jauh lebih menarik dibandingkan dengan pilihan data yang ku ambil.

However, aku benar-benar berterima kasih kepada dosen pembimbing skripsi ku yang telah "membawa" ku kemari. Serta ketua tim penggalian dari Balar yang sudah sangat baik sekali memberiku kesempatan untuk ikut disini. Akhirnya, tugas ku tinggal menyelesaikan ini semua sebagai balas budi. :D

Inilah Kerjaan Saya Sebenarnya
source: Andreas Eka Atmaja (Balar YK)

Friday, March 2, 2012

Kimpulan yang Lebih Modern

Beberapa hari yang lalu, saya melontarkan ajakan untuk menggenjot sepeda dalam upaya melarikan diri dari realita tugas akhir. Akhirnya, arkeo genjot berkumpul lagi, tambah seorang kakak kelas yang kepengen juga jalan-jalan. Tujuan kami nggak se-ambisius kemarin--sepedaan sampai pabrik gula di Klaten kok, cuman menggenjot ke Candi Kimpulan yang letaknya di Kampus UII Jalan Kaliurang Km 14. Saya yang paling semangat karena belum pernah sekalipun ke situs tersebut. Padahal tau sendiri sewaktu ketemu candi di proyek pembangunan kampus, orang-orang super heboh langsung kepengen nonton. 

Akhirnya, saya ke sana dengan sepeda imut andalan :D 

Rupa-rupanya, setelah dapat direkonstruksi, Candi tersebut diberi pagar dan dibuat lahan museum dengan arsitektur yang lumayan meski pengunjung tidak dapat langsung turun ke candi seperti obyek wisata candi pada umumnya. Meski pun demikian, kami sih cukup apresiatif dengan bangunan yang bagus itu. Jaminan untuk pelestariannya pasti panjang umur. 

Andai situs-situs purbakala ditemukan oleh lembaga yang punya banyak uang seperti itu, pasti situs arkeologis akan jadi obyek yang lebih menarik lagi. Tidak hanya sekedar jadi tempat muda-mudi pacaran. Ah, dilema pengelolaan BCB--sounds familiar :p



Sunday, December 18, 2011

Life happen: Slug and Clam

Hola!

Kehidupan arkeologis saya akhirnya pada titik sebagai mahasiswa semester akhir yang sedang menyusun skripsi. Sampai juga saya disini. Menulis tugas akhir yang tak kunjung berakhir. Perasaan saya seperti setengah bermimpi, tatkala menengok hari-hari di belakang saya yang jauh itu. Sudah 5 tahun saya asyik kuliah, menghabiskan waktu dengan kegiatan kampus, menjadi petugas perpustakaan, ikut beberapa penggalian disana-sini, bikin pameran dengan berbagai tema, bergelut dengan tugas-tugas kuliah yang bikin tidak tidur semalaman. Itu sudah kemarin. Hari ini saya mengerjakan tugas akhir. Agar esok saya bisa keluar dari kampus untuk merasakan dunia yang sebenarnya.

Namun sebelum hari esok tiba, biarka saya sedikit menjelaskan tentang tugas akhir yang membuat saya berkawan dengan bekicot. Dari gender yang penuh dengan teori humaniora akhirnya saya mendaratkan diri pada kajian arkeologi lingkungan. Berteman dengan kumpulan hewan kecil bernama siput dan kerang. Hampir satu bulan ini saya habiskan untuk analisis temuan di Balai Arkeologi Yogyakarta.

Hidup selalu penuh kejutan. Tahun ini bertemakan tahunnya skripsi. Teman-teman yang lain pun sedang bergegas agar bisa wisuda di bulan Februari besok. Saya? Tanpa target seperti biasa :D

- Ruang Temuan Balar YK

Friday, October 14, 2011

Sweetest Surprise

Saya dapat kejutan manis kemarin. Begitu pulang ke rumah saya mendapati sebuah paket besar dengan sampul warna coklat yang dikirim oleh sepupu saya, Tanya, dari Jakarta. Langsung saya sobek dan mendapati sebuah buku ensiklopedia arkeologi. Ah sweet! Saya berasa dapat hadiah ulang tahun lebih cepat beberapa hari. Thank you dear, you really make my day :)

Tanya mengirimi sebuah buku arkeologi memang jarang sekali bisa didapatkan di toko-toko buku lokal. Makanya, saya bener-bener kaget dengan kejutan ini. Buku ini berjudul "The Illustrated Practical Encyclopedia of Archaeology" dan ditulis oleh Christopher Catling--seorang penulis buku-buku perjalanan yang memiliki ketertarikan terhadap peninggalan-peninggalan kuno, lalu seorang lagi yaitu Paul Bahn--yang nulis bareng Conlin Renfrew dalam buku sakti saya untuk ngerjain skripsi.

Bagi yang tertarik untuk mendalami dunia arkeologi, buku ini dapat membantu untuk menerka-nerka ilmu macam apa arkeologi ini. Isinya yang padat dengan pengenalan teknis ilmu arkeologi serta berbagai profil situs yang di dunia. Kita bisa menjelajah mulai dari situs Afrika hingga Pomppei sambil nengok bentar ke Kamboja. Ada pula cerita-cerita dari tokoh yang berperan penting dalam ilmu arkeologi meskipun banyak nama yang tidak saya ketahui--mungkin karena buku ini lebih memuat kebanyakan tokoh arkeolog dari Eropa. Tapi ketika menemukan nama Leakey sekeluarga yah saya ngerasa gak terlalu ketinggalan dalam membaca sejarah arkeologi deh.

Foto-foto dalam buku ini menyajikan gambar yang benar-benar memuaskan mata. Bisa dibilang bagi yang tidak terlalu suka membaca tulisan dapat membaca secara visual berbagai macam foto yang luar biasa memikat ini. Sekali lagi, terima kasih untuk kiriman dan kejutannya yang luar biasa ini :)

Friday, September 23, 2011

Ketika cerita arkeologis muncul di internet

May 6, 2011 at 7:54 pm, diambil dari Facebook via Notes

Malam ini, seperti biasanya dihabiskan dengan berselancar internet dari satu situs ke situs lain. Disitu lah ketemu artikel di Yahoo! News Indonesia yang cukup menarik karena judulnya agak catchy. "Relief Misterius di Kaki Borobudur". Dari judul ini lah pasti genre tulisannya dibuat populer dengan judulnya yang sangat memenuhi kriteria tulisan ilmiah-populer: membuat orang penasaran untuk membaca lebih lanjut.

Kebetulan pula saya kuliah di bidang purbakala ini tentunya niat baik untuk menambah refrensi perkuliahan donk Isi artikelnya menarik--bercerita tentang relief Karmawibhangga yang ditutup. Sang penulis bercerita ada 2 versi mengenai penutupan relief tersebut, pertama persoalan teknis dan kedua adanya anggapan relief tersebut menampilkan adegan vulgar. Hingga akhirnya dia tidak memutuskan yang mana yang menyebabkan penutupan itu terjadi. Pun si penulis menuliskan sedikit sejarah konservasi ketika jaman Belanda dan dokumentasi mengenai relief Karmawibhangga yang dilakukan oleh pihak Belanda. Sejauh itu tidak ada masalah dari artikel tersebut buat saya. Well, itu masalah familiar yang sudah sering didiskusikan kala kuliah klasik Hindu-Budha. Buat saya si penulis cukup dapat memberikan info yang berguna dan sedikit mengangkat dunia purbakala dengan bumbu-bumbu seperti judul yang agak mistis. Buat saya nggak masalah.

Namun, saya langsung terperangah tatkala membaca rentetan komentar-komentar mengenai artikel tersebut. Komentarnya cukup banyak, yaitu sekitar 80-an, yang saya rasa jarang ada lho orang banyak berkomentar di sebuah artikel purbakala. Ternyata oh ternyata komentar mereka malah jauh dari diskusi yang saya bayangkan. Banyak yang bicara cerdas dari sisi logis namun lebih banyak lagi yang komentar ngarang. Selalu ada orang iseng diantara forum. Muntahlah segala komentar tentang agama, murtad, pornografi, hingga FPI. Caci maki diantara user terjadi. Aiiihhhh bikin ngakak aja!

Kalau saya jadi si penulis artikel, saya cuma bisa geleng-geleng karena esensi dari apa yang saya tulis malah jadi salah kaprah. Namun, begitulah jika memasuki ranah dunia menulis kreatif suatu karya-ilmiah-populer. Apalagi jika dilempar ke zona bebas seperti internet. Orang asal bicara, orang asal komentar, lebih parah lagi orang asal ngaco. Diskusi cerdas pun hanya mimpi. Dan seperti melihat cerminan 80% mental orang Indonesia (termasuk saya) yaitu sukanya menyalahkan tanpa tahu keadaannya dan mistis tentu saja!

Sejurus kemudian baru saya sadari, jangan-jangan persepsi orang selama ini adalah dunia purbakala itu berasosiasi dengan segala macam hal mistis dan pornografi (?) cuman karena arca-arca yang sangat represntatif itu? Karena dari membicarakan relief bisa-bisanya menyambung ke hal cabul, mistis bahkan SARA. Saya cuman bisa geleng-geleng kepala saja. Sambil ngakak juga bacanya. Ada-ada saja ini..

Friday, May 27, 2011

Mind-Numbing

Calvin and Hobbes - by Bill Watterson

Thursday, May 26, 2011

Pilihan

Ketika kita menginjak usia kesekian, apakah pertanyaan itu pernah menggelembung dikepala? Sesuatu yang ada hubungannya dengan tujuan hidup dan pilihan edukasi yang dipilih. 2 minggu yang lalu saya membaca sebuah novel, Katalis. Ceritanya cukup membuat alis menurun meski tokoh-tokohnya remaja SMA namun mereka dihadapkan pada sebuah pilihan untuk menentukan masa depan. Seperti yang digambarkan salah seorang tokoh laki-laki yang cerdas, awalnya ia memlilih untuk kuliah di jurusan Sejarah Seni (Art History) dan menolak untuk harus mengikuti kemauan orang tua agar kuliah di jurusan Ekonomi Bisnis. Seems so familiar?
Namun pada akhirnya, dia memilih untuk kuliah di jurusan Ekonomi Bisnis demi melakukan sesuatu yang berguna. Bukan berarti jurusan sejarah itu tidak berguna hanya saja dia berpikir bahwa ada yang lebih banyak lagi yang bisa dilakukan untuk menolong orang atau melakukan sesuatu jika melalui pilihan jurusan tersebut.

Novel tersebut tidak serta merta memberikan efek yang besar pada saya. Sudah hampir 5 tahun saya menjalani pilihan edukasi saya ini. Belajar ilmu purbakala yang tidak populer itu. Sudah selama ini itulah saya mengalami sendiri berbagai cerita manis, pahitnya bergelut dibidang yang tidak banyak orang tahu ini. Manis, karena saya bisa jalan-jalan keberbagai daerah yang dulu saya tidak pernah bayangkan bisa kesana. Pahit, karena orang-orang kebanyakan tidak tahu ilmu kami berguna untuk apa bagi mereka. Akan tetapi, pertanyaan dari novel tersebut sempat menggelembung juga. Apa gunanya ilmu ini? Ini sedikit menambah keruwetan pikiran saya. Belum ada jawaban yang tepat yang bisa saya berikan namun dalam hati masih ada keteguhan bahwa setiap ilmu pengetahuan bukannya tidak berguna. Saya memang tidak menyelamatkan nyawa orang, tidak pula menggerakkan roda perekonomian negara, tidak membela orang miskin, apalagi menciptakan teknologi. Apa guna ilmu ini?

Kita lewati pertanyaan ini. Saya tidak bisa menjawabnya sekarang. Sejujurnya malah itu membuat saya semakin ruwet.

Oh, ya. Beberapa waktu lalu ada pembaca blog saya yang menghubungi saya. Mereka bercerita ingin memilih jurusan purbakala ini dan menjadi arkeolog. Bagi mereka dan bagi saya hingga sekarang ilmu ini memang menawarkan petualangan-petualangan eksotis. Apalagi kalau bukan gara-gara dia ini..

Saya pun tersihir gara-gara dia. Meski demikian. Bukan mau meruntuhkan impian masa kecil hanya saja saya ingin memberikan kenyataan agar tidak berharap muluk. Indiana Jones itu arkeolog tahun 1930-an dengan kondisi perang dan negara yang saling berebut kekuasaan. Nah, kalau sekarang ya bisa dibilang Indiana Jones itu cuma sekedar kriminal tukang bongkar makam. Hahaha..

Ilmu arkeologi yang lebih populer sekarang ini jauh lebih sistematis dan tidak asal ambil. Walaupun begitu, saya tidak pernah berhenti berharap suatu hari nanti saya akan memiliki petualangan yang tidak kalah spektaluler seperti dia. Mungkin saya tidak bisa menyelamatkan nyawa seseorang. Akan tetapi menghidupkan masa lalu bukanlah hal yang buruk juga.

Sejauh ini saya belum menyesali pilihan edukasi. Meski demikian harapan untuk melakukan sesuatu itu selalu ada..

Wednesday, April 13, 2011

Museum Adalah Alat

Pagi ini muncul berita yang bikin saya geram. Benda-benda cagar budaya akan dibawa keluar Indonesia sebagai koleksi dari Museum Kerinci yang didirikan di atas tanah negara Malaysia. Dan dengan dana dari Malaysia. Ada beberapa kejanggalan disini. Jika masalah dana--ok. Boleh saja kita mendapat bantuan dana dari pemerintah asing untuk membangun sebuah museum namun ketika bangunan itu akan berdiri di luar batas negara kita?

Apakah ini, lagi-lagi, suatu kegagalan pemerintah untuk menjaga kebudayaan materi dan historis bangsa? Jika meniliki alur yang jauh lebih panjang ke belakang--Indonesia memang masih memiliki rumpun melayu yang sama dengan Malaysia. Terlebih lagi bagi masyarakat di kepulauan Sumatera yang secara geografis berdekatan dengan Negeri Jiran tersebut. Tidak menyangkal pula bahwa pada masa lalu, dimana garis batas negara imajiner tersebut belum ada, masyarakat di seputaran selat Malaka memiliki akar kebudayaan yang hampir serupa. Baik adat istiadat, hasil kerajinan, bahasa dan lain sebagainya. Sehingga pun hingga sekarang Malaysia masih merasa kebudayaan tersebut juga mereka kebudayaan milik mereka. Ibaratnya, Indonesia dan Malaysia itu 2 sodara yang sekarang terpisah oleh garis batas arbiter penjajahan di awal abad ke-17 tersebut.

Namun--meski kebudayaan kita serupa namun tak sama, seharusnya ada penghormatan terhadap garis batas kenegaraan. Urusan ini memang tidak besar seperti pengambilan pulau Ambalat beberapa tahun silam. Namun jika pemerintah Indonesia tidak mampu melindungi BCB yang telah bergerak ke seberang lautan tersebut maka jangan salahkan deh kalau bahkan rakyatnya sendiri tidak percaya kalau Indonesia ini mampu jadi sebuah negara.

Alasannya, bagi yang tidak mengetahui, museum adalah alat politik. Jika berpikir Museum hanyalah sebagai wadah, sarana penyimpanan benda-benda kuno saja, maka sebaiknya anda ikut kuliah Museologi dan belajar lebih banyak lagi soal arkeologis--karena anda bego! Pada era kolonialisasi, pemerintah Hindia-Belanda banyak sekali membangun museum-museum di kota besar kala itu. Mereka akan membangun museum dengan peta yang besar, data etnografis berbagai suku di Indonesia dan sensus penduduk yang tinggal di dalamnya. Museum juga turut menyimpan berbagai macam artefak-artefak berharga--yang kini banyak diboyong ke Leiden. Pemerintah Hindia-Belanda membangun museum--selain sebagai pusat pembelajaran mengenai daerah jajahan mereka, juga sebagai legitimasi kekuasaan mereka terhadap Indonesia. Museum adalah alat politik mereka untuk menyatakan kepada negara-negara barat lainnya (Inggris, Prancis) bahwa mereka menguasai daerah tersebut. Maka pemerintah Hindia-Belanda merasa memiliki hak untuk memboyong kebudayaan Indonesia keluar dari garis batas negara. Namun masih tetap dalam negara yang sama (Pemerintahan Ratu Belanda dengan negara jajahan Hindia-Belanda).

Museum sebagai legitimasi kebudayaan. Maka, jika Malaysia membangun museum dengan kebudayaan Kerinci di negara Malaysia--yang berarti melewati garis batas negara bisa dikatakan kita tidak punya legitimasi atas kebudayaan tersebut. Meski pun apabila nanti pemerintah dijanjikan dibuatkan caption sebesar baliho iklan di jalan tol bahwa kebudayaan itu milik Indonesia itu sama saja bohong. 5-10 tahun lagi cerita pasti akan berganti. Seperti halnya kita yang kini melihat kebanyakan museum-museum di Indonesia sebagai produk Belanda, maka mata dunia akan melihat mengambil kesimpulan Malaysia lah si pemilik kebudayaan Kerinci.

Itu yang tidak dapat dipahami oleh orang-orang pemerintah pusat maupun daerah. Kita terlalu mabuk sejarah hingga lupa caranya menjaganya.

Tuesday, April 12, 2011

Halo, apa kabar?

Sulit juga mau cerita soal apa di blog kali ini? Yang kini terjadi--kepala dipenuhi ide-ide, metodologi, dan hipotesa tentang skripsi. Alhamdulillah banget saya dikasih ide cemerlang. Tuhan telah menyalakan lampu itu untuk saya. Sekarang tinggal memberikan semangat untuk memulainya.

Kabar kampus?
Akhirnya angkatan 2006 ada juga yang sudah resmi lulus. Sudah ada yang memberikan tanda untuk nyusul. Dan mengejar banyak ketertinggalan dibelakang. Mari berkarya!


2006 yang masih itu-itu aja

Wednesday, February 23, 2011

Sedikit curhat

Hari ini, seorang teman baik saya diwisuda setelah menempuh studi selama hampir lebih 4 tahun lewat sedikit. Opppsss. Wisuda. Kelulusan. Pendadaran. Skripsi. Dan lihat saya selama memasuki masa studi ke tahun kelima ini. Masih saja berkutat dengan itu-itu saja--niat membuat proposal. Sedikit curhat juga deh, selama setahun kemarin saya ini sama sekali nggak melakukan apa-apa. Terutama setelah semester dengan KKN selepas itu hidup tidak pernah bersentuhan dengan yang namanya karya ilmiah. Salah saya juga lah, karena malas untuk mengerjakan sesuatu yang seharusnya memang sudah jadi tanggung jawab semenjak setahun yang lalu. Namun, rasanya ada saja alasan untuk menunda. Ya penggalian ini-itu, proyek ini-itu, kemalasan ini-itu.

Waktu seperti terbang. Bahkan ide proposal juga turut terbang. Keinginan berganti, deretan pertanyaan membayangi. Saya jalan ditempat. Dan ini tidak baik. Kalau ditanyakan, kenapa mahasiswa Arkeologi itu kalau lulus telat, mungkin saya akan menjawab, dengan jutaan alasan klasik, bahwa kesulitan bidang Arkeologi adalah kita harus turun ke lapangan mencari data. Nah, data itu kadang ada dan kadang tidak akan tetapi lebih sering tidaknya. Berbeda dengan anak HI yang bikin TA tentang konflik Timur Tengah nggak perlu sampai jihad kesana, atau anak Psikologi yang nyebar kuisioner untuk dibagikan ke remaja-remaja. Bidang saya, harus turun ke lapangan, mencari data yang keberadaannya sangat sulit dicari. Kita mempelajari sejarah namun yang tidak berlalu--terkadang data tidak mendukung, menjadi detektif dan mereka-reka namun juga harus valid.

Yah, sedikit curhat colongan. Namun melihat teman-teman saya tadi memakai baju toga dan ketawa lebar itu melecutkan hati juga. Ok. Saya kepengen dandan kayak mereka dan jumawa. Karena itulah, mari kita mulai sekarang!

Mari berkarya :)