Tuesday, July 22, 2008

Katalog Pameran Foto Piami XII

taken by: Indra Andhika

taken by: Umarul Mukhtar

taken by: Sektiadi

taken by: Didik Suhartono

taken by: Asies Sigit P.

taken by: Asies Sigit P.

taken by: Kurnia Prastowo A.

taken by: Damai Tegar Muslim
8 dari 18 foto yang dipamerkan di Benteng Vredeburg, 21-23 Juli 2008, dalam rangka Piami XII, Pertemuan Ilmiah Mahasiswa Arkeologi se-Indonesia.

Saturday, June 21, 2008

Pande Wesi Njodok


Desa Karangasem, Gilangharjo, Pandak, Bantul atau sering disebut daerah Njodok terkenal sebagai daerah Pande wesi. Pande wesi atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan Pandai Besi adalah profesi pengrajin besi. Pengerajin besi di daerah ini menghasilkan alat-alat pertanian seperti sabit, pacul, linggis dan sebagainya.

Dulunya, di Njodok ini tedapat 24 usaha pembuatan alat-alat besi namun sekarang ini hanya tinggal 4 kelompok usaha saja. Salah satunya adalah kelompok usaha milik Pak Sumarsi. Bapak Sumarsi membawahi 4 orang pekerja. Kelompok usaha ini merupakan kegiatan turun-temurun sehingga tidak dapat diketahui pasti kapan berdirinya.

Pande wesi ini mendapat bahan baku kebanyakan dari rongsokan dari bekas besi kapal atau besi bekas jembatan. Alat yang dihasilkan memiliki 2 jenis yaitu, barang kualitas kelas 1 dan kelas 2. Dalam pembuatan alat kualitas kelas 1 biasanya kompisisi baja lebih banyak dibanding alat kelas 2 agar lebih awet dan tahan lama. Perbandingannya biasanya adalah 1 kg besi dan 1 ons baja. Dalam sehari di tempat ini bisa menghasilkan 15 buah sabit dan 8 buah pacul. Tidak hanya menghasilkan alat namun juga bisa memperbaiki alat pertanian yang rusak.

Di tempat kerja pande wesi Pak Sumarsi ini masih bekerja dengan cara tradisional. Baik dari penempaan besinya secara bergantian, juga pompa udara atau yang disebut ububan untuk menghasilkan api di perapen masih tradisional dengan bahan bakar kayu terutama kayu jati karena dapat menghasilkan api yang baik.

Teknologi alat logam atau biasa disebut metalurgi merupakan sebuah kebudayaan yang telah ada sejak masa prasejarah. Penemuan teknologi pembuatan alat logam tidak lepas dari penemuan manusia akan logam masif yang gampang ditemukan di alam. Setelah proses yang sangat panjang akhirnya manusia kemudian belajar untuk mencoba mengendalikan api dan memanfaatkannya untuk pembuatan alat logam dengan berbagai teknik, yang meski sederhana dan bertahan hingga saat ini.
Metalurgi kemudian juga menjadi salah satu dari 10 bukti akan kemajuan sebuah peradaban, menurut Gordon CHile dalam teori civilization.

Monday, April 28, 2008

iseng di arkeo

jum'at 25 april, wow, maybe it was a hectic day ever in my life..
pengalaman pertama juga ngadain acara se-kaliber 'Bedah Buku'
Dalam rangka Arkeologi rePublik 2008 yang digagas HIMA lewat Damai.

Acaranya mirip tahun kemaren, ada bazar buku ma pameran foto. Yang berubah hanyalah acara nonton film diganti dengan bedah buku "Melacak Batu Menguak Mitos' tulisan Jajang A. Sonjaya a.k.a dosen arkeologi sendiri..

acara ini yang dari kemaren-kemaren hampir menyita semua perhatian dan tenaga. kuliah banyak bolos gila-gilaan, padahal baru kemaren dapet beasiswa! ironic...

Didapuk jadi koordinator buat acara kayak gini bener-bener untuk pertama kalinya buatku. Dan dari seminggu sebelumnya udah lari ke sana kemari. Ambil display bukulah, hubungin pembicara inilah, duit kurang, beli souvenir bareng 5 makhluk nggak jelas se-dunia. Macem-macem..

Dan hasilnya, meski yang dateng udah separuh dari target yang diinginkan, namun buatku tetep mengecewakan. Bukan karena acaranya molor setengah jam dari yang direncanakan, atau kurangnya dana. Melainkan kurang komunikasi sama pembicara. Dan itu adalah kesalahan fatal ku yang jelas bikin aku marah dan kecewa ma diri sendiri. 2 jam sebelum acara aku baru menghubungi pembicara dari luar arkeologi padahal hal itu bisa ku lakuin 3 hari sebelumnya. fatal dan bikin drop moodku.

Meski ini adalah proses pembelajaran buatku tapi tetep aja telak. Kesalahan telak yang mungkin bakal bikin aku kehilangan kredibilitas atas nama suatu kelompok tertentu..

Lain kali, jika kesempatan itu bakalan dateng untuk kedua kalinya, maka mungkin aku harus lebih siap dan lebih cool lagi ngadepin semua ini. Apalagi berhubungan ma orang banyak...

Haaaaaa....

but it's over now, namun sayang hujan anomaliku tidak turun hari itu..
maybe next year?

Saturday, March 1, 2008

Harapan..

Sebuah harapan dibuat kadang bisa disebabkan oleh sesuatu yang kita ingin jadi baik adanya. Menginginkan semua akan berjalan baik adanya. Tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama dan berkembang menjadi lebih baik dari yang sebelumnya.
Seperti harapan yang ku tumbuh buat anak arkeo angkatan 2007 yang sekarang kebagian jatah jadi panitia Abhiseka Ratri 2008 besok ini.
Lepas dari label koordinator SC (steering commite yang ternyata hanya nama saja!), pinginnya sih abhiseka tahun ini bisa lebih baik dari yang kita, angkatan 2006, bikin. Lebih-lebih bisa melampau AR 2007 kemaren. Harapan seperti itu pasti ada kan'...
Yah, makanya dari ngeliat dari rapat bareng SC-Panitia AR 2008, tanggal 28 Februari 2008 kemaren, aku memulai harapan dari sesuatu yang simpel. Harapan agar mereka bisa lebih solid dan nggak konyol untuk terus tekun bikin acara survey yang berisi nggak hanya sekedar foto-foto narsis aja. Ngeliat kemaren, emang banyak yang timpang dan kurang, seperti juga aku dan anak-anak lainnya dulu. Nggak lebih signifikan progresnya namun jelas pasti apa yang kita lakuin tiap langkahnya.
Punya konsep! Dapet lokasi Candinya, cari lapangan, cari jalur treking, kumpulin duit yang banyak untuk disesuaikan dengan kebutuhan konsumsi dan transport, pendekatan dengan penduduk sekitar, bikin surat peminjaman dan izin, jalan ke instansi cari duit, simulasi, matengin acara, menyiasati kekurangan orang dalam kerjaan, Abhiseka!
Masih banyak hal yang harus dilakuin. Komunikasikan keinginan itu untuk mencapai suatu kesepakatan bersama dengan yang lainnya. Dan, yakin Abhiseka itu bukan cuma acara ospek gak muthu!
Abhiseka itu momen penting buat semua anak arkeo. Untuk pertama kalinya mungkin bener-bener bikin shock tapi selalu ada cerita. Kenal tiap karakter temen-temen sendiri dari sana. Yang penting adalah team work. Ya ampun, hampir selama setahun kemaren rasanya begitu melelahkan sekali. Menyiapkan acara yang bener-bener ditunggu oleh tiap angkatan dan memiliki banyak pengalaman unik di dalam sana.
Harapan itu ku gantungkan ke yang muda agar bisa mendapatkan pengalaman penuh arti di dalam situ. Harapan ini ada agar kami, orang-orang yang udah nunggu nggak sabar buat Abhiseka, bisa terlaksana...

Monday, February 18, 2008

First Job! Ahaaay!

Ahaaay, deg-deg'an banget nih, 16 Februari 2008 bener-bener moment nggak bakal terlupakan sebagai hari pertama kerja! Horeeeey!
Jadi pemandu buat study tour anak SMA yang piknik ke Sangiran. Kita mengunjungi museum sangiran yang terkenal jadi world herritage nomer puluhan sekian. Selain itu, ada program jelajah kawasan daerah situ sebagai pengenalan bentang alam yang cukup unik, mengingat kawasan Sangiran tersebut memiliki sebuah lapisan-lapisan stratigrafi yang menyimpan banyak informasi mengenai keberadaan umur bumi serta manusia pendukungnya.
Hemmmm. Kerjaan pertama berbau arkeo karena di sini hubungannya udah gak lagi sama orang inner circle yang ngerti soal arkeo (baca: temen sendiri) melainkan sama orang-orang yang bener-bener awam nggak ngerti terlalu banyak soal prasejarah selain dapet informasi dari buku sejarah yang nggak pernah direvisi itu.
Meski di awal cukup shock dengan tingkah polah mereka yang 'agak luar biasa' (baca blog 'menunggu hujan' untuk versi yang lebih ekstrem!) Tapi syukur banget aku bisa nge-jelasin soal stratigrafi dan keadaan lingkungan ke mereka dengan cukup baik dan penuh improvisasi *ngecret!*
Ada 5 Turning Point yang kita kunjungi selain Museum, yaitu bentang alam yang menunjukan jelas stratigrafi atau perlapisan tanah dari formasi pucangan yang kebanyakan mengandung lempung hitam dengan beragam warna.
Kedua adalah Tugu peringatan si manusia sangiran no.27 jenis Meganthropus Palaeojavanicus yang cuma ketemu bagian rahangnya atas saja. Ketiga adalah sumber mata air asin di berada di tengah persawahan penduduk. Mata air asin ini bisa keluar akibat tenaga dari dalam bumi yang mendorong keluar dan mendorong lapisan lumpur laut dari jutaan tahun silam akhirnya keluar dari permukaan tanah. FYI. Sangiran dulunya merupakan laut dalam. Karena proses pengangkatan pulau Jawa akhirnya dulu daerah yang berubah laut berubah jadi rawa-rawa hal ini dibuktikan di turning point yang keempat berupa daerah endapan rawa berwarna kecoklatan dan diatome yang merupakan jejak endapan jasad renik. Di titik terakhir, yang sekarang berupa tegalan sawah, dahulu merupakan rawa-rawa dengan sisa endapan rawa dan banyak sekali temuan gastropoda bertebaran di sana. Di titik ini pula, banyak ditemukan fosil-fosil tulang hewan purba.
Menarik banget Sangiran itu. Karena tempat ini merupakan tempat penghasilan 60% dari penemuan fosil-fosil dan kerangka manusia purba. Apalagi koleksi-koleksi museum yang menarik untuk disimak. Asyik...
Seneng banget akhirnya dateng ke Sangiran, di bayarin, kerja dan yang pasti dapet banyak sekali pengalaman dan peristiwa-peristiwa yang begitu tak terlupakan...
Episode-episode Sangiran bisa dilihat di Blog 'Menunggu Hujan'

Friday, February 8, 2008

a tale of journey to the East!

Alkisah, 9 remaja yang terdiri dari 3 perempuan dan 6 laki-laki memutuskan untuk pergi melakukan perjalan menuju kota sebelah yang tidak begitu jauh untuk ditempuh namun cukup pantas untuk dikunjungi. 9 remaja itu naik kereta pukul 09.00 pagi di stasiun kota namun karena salah mengingat jadwal keberangkatan, ternyata mereka baru berangkat pukul 10.00 pagi.
Seorang perempuan diantara mereka nampak begitu bersemangat dengan perjalanan pertamanya dengan kereta api setelah hidup di dunia ini selama hampir 20 tahun. Dengan muka berseri dan segaris senyum yang nggak ada habisnya kereta berangkat menuju kota sebelah yang bernama Solo.
Begitu menginjakan kaki di sana, dengan spontan tanpa pikir panjang dan hanya dengan intuisi yang nekad. Kesembilan remaja tersebut menyusuri jalan kota yang asing dan padat dengan kaki-kaki yang kuat untuk dilangkahkan. Kaki-kaki melaju meyusuri ruas jalan utama dan jalan kecil padat penuh dengan manusia asing.
"Ke mana kita pergi?" pertanyaan-pertanyaan itu terlontar terus-menerus karena sedikit kekhawatiran akan tujuan mereka yang tidak jelas.
Namun, seorang dari mereka langsung menjawab dengan cukup meyakinkan kita semua akan berjalan menuju Kraton Surakarta yang merupakan istana keluarga kerajaan Pakubuwono yang merupakan kerajaan pisahan yang disebabkan oleh perjanjian Giyanti.
"Di manakah Kraton tersebut?" tanya salah seorang perempuan berambut cepak. Jauh diujung jalan Slamet Riyadi sana. Dan perjalan menyusuri jalan utama tersebut ditempuh dengan waktu yang cukup panjang. Demikian perjalanan itu mereka jalani dengan riang gembira ditemani sendau gurau penuh cela tanpa ampun mereka semua.
Tak terasa Kraton tersebut sudah ada di depan mata. Namun matahari bersinar cukup terik menyebabkan mereka begitu kelelahan dan penuh dengan keringat. Untung saja, tak lama kemudian mereka telah memasuki kawasan Kraton yang adem penuh dengan pepohonan. Banyak sekali benda-benda bersejarah yang dipajang di museum kraton yang mereka masuki. Unik dan penuh dengan benda-benda aneka ragam.
Inilah kejayaan masa lalu yang terus hidup.
Maka kesembilan remaja itu pulang kembali ke kota dengan penuh senyuman senang karena menghabiskan liburan yang mengasyikkan. Sembari menonton senja sore yang turun dari dalam gerbong kereta yang menuju kembali ke rumah, mereka masih tersenyum.
Ah liburan!

Tuesday, February 5, 2008