Saturday, August 30, 2008

Museum Trip - Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah atau Museum Batavia

Liburan kemaren ini, aku menyempatkan diri berkunjung ke dua museum di Jakarta. Yang pertama adalah Museum Jakarta a.k.a Museum Fatahillah. Museum Fatahillah ini letaknya di Kota lama Jakarta. Kawasan Kota merupakan sebuah landscape kolonial yang dibangun oleh Belanda sehingga menyerupai kota-kota yang ada Eropa terutama di Belanda.

Bangunan museum ini dahulunya merupakan sebuah gedung Balai Kota yang dibangun pada tahun 1707-1710. Arsitektur bangunannya bergaya Baroque sangat kental terasa. Ruang-ruangnya kemudian dipakai untuk mendisplay berbagai macam artefak-artefak yang sangat penting. Museum dikonsep menjadi museum sejarah kota Jakarta, sehingga barang-barang pameranpun lebih menitik beratkan hubungannya dengan perkembangan kota Jakarta serta wilayah sekitar, dimulai sejak jaman Prasejarah hingga sekarang ini.
Barang-barang yang dipamerkan sangat menarik dan kebanyakan berasal dari masa kolonial, seperti meriam-meriam yang berjejer-jejer dan berbagai sudut, serta lukisan J.P. Coen atau peralatan makan yang berasal dari perak. Ada lagi jangkar kapal yang ditarik dari perairan Jakarta yang menunjukkan bahwa pada masa itu pelabuhan sunda kelapa begitu megahnya. *sayangnya sekarang udah nggak lagi deh!*. Menariknya lagi terdapat sebuah prasasti telapak kaki dewa wisnu yang tenar itu!
Selain barang-barang pameran, yang cukup menyita perhatian adalah bangunan museum itu sendiri. Suasana dingin dari penjara bawah tanah cukup membuat para pengunjung berinterpretasi liar dengan horor di otak mereka. Atau ruang-ruang yang cukup rumit letaknya hingga nggak heran kadang terasa seperti lost begitu saja.
Yeah! Batavia is cool!!

*mejeng! ahaha*

*singa gahar!*

*telapak kaki dewa wisnu, sizenya '50'*

*Kapal Portugis*

*prasasti belanda nih!*

*J.P. Coen ganteng juga yak! ngaha!*

*Jangkar karatan! Awas tetanus!*

*Semua jadi milik Indonesia sekarang!*

Thursday, August 7, 2008

Sejenak Menegok Samudra

Kembali lagi ke Borobudur! Hari terakhir kegiatan Piami XII, kita dapet kesempatan mengunjungi Candi Budha paling spektakuler se-Asia Tenggara itu. Jalan-jalan ke Borobudur udah nggak terlalu baru buatku juga. Mengingat kondisi badan yang baru sembuh dari sakit hepatitis a kemaren, jadinya nggak boleh terlalu capek. Akhirnya nggak naek sampe' ke puncak Candi--melainkan jalan-jalan ke museum Karmawibangga dan Museum Kapal Borobudur.
Sayangnya, enggak tau kenapa--Museum Karmawibangga tiba-tiba beralih jadi kamar operasi yang steril. Masuk akal kadang si PT. Taman ini, bikin museum jadi multifungsi begitu cuma karena ada penyelenggaran event besar--tapi nggak sesuai dan bikin nggak bisa menikmati museum itu secara utuh.
Anyway, forget about that operation room-wannabe!

Kitapun beranjak pergi ke Museum Kapal. Di museum ini terdapat sebuah kapal kayu dengan teknologi tradisional, yang dibuat berdasarkan replika dari kapal yang terdapat pada sebuah panel relief di Borobudur. Kapal tersebut diperkirakan merupakan kapal dagang yang para awaknya nanti turut melakukan penyebaran agama Budha di Nusantara.
Kapal ini dibuat sebagai ekspedisi napak tilas pelayaran dari Indonesia hingga mencapai Ghana. Philip Beale, penggagas pelayaran ini begitu melihat pahatan kapal di Candi Borobudur pada tahun 1982. Akhirnya, setelah beberapa tahun pada tanggal 15 Agusutus 2003 kapal ini berangkat menuju laut lepas. Kapal inipun dinamai Samudraraksa atau Pelindung Lautan.
Dari Indoenesia hingga ke Madagaskar benar-benar sebuah perjalanan sayang panjang. Museum ini mencatat kehidupan para crew-nya hingga cerita-cerita menarik dari tiap negara yang disinggahi. Di museum ini juga menyajikan berbagai panel cerita mengenai kehidupan bahari di Indonesia yang telah berkembang jauh sebelum Masehi.

*anjungan*

*geladak*

*buritan*

*so expensive :( *

*menggila di Samudraraksa*

*melas gak mampu bayar tiket masuk kapal!*

Saturday, July 26, 2008

sekedar catatan

Tiga belas abad yang lalu
sekumpulan seniman dan rohaniwan yang sampai sekarang
tidak diketahui namanya, mendirikan sebuah bangunan dari
batu masif di suatu daerah yang dianggap keramat di Jawa Tengah
dan dilingkupi oleh beberapa gunung berapi

Mereka kiranya menyadari tak akan berkesempatan menyaksikan
penyelesaian konstruksi yang telah dimulai itu,
namun yakin bahwa generasi mendatang akan
menyempurnakannya, mengagumi ciptaan awal mereka itu
dan berusaha merawatnya

[ Daud Joesoef dalam bukunya, ‘Borobudur ]

Tuesday, July 22, 2008

Katalog Pameran Foto Piami XII

taken by: Indra Andhika

taken by: Umarul Mukhtar

taken by: Sektiadi

taken by: Didik Suhartono

taken by: Asies Sigit P.

taken by: Asies Sigit P.

taken by: Kurnia Prastowo A.

taken by: Damai Tegar Muslim
8 dari 18 foto yang dipamerkan di Benteng Vredeburg, 21-23 Juli 2008, dalam rangka Piami XII, Pertemuan Ilmiah Mahasiswa Arkeologi se-Indonesia.

Saturday, June 21, 2008

Pande Wesi Njodok


Desa Karangasem, Gilangharjo, Pandak, Bantul atau sering disebut daerah Njodok terkenal sebagai daerah Pande wesi. Pande wesi atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan Pandai Besi adalah profesi pengrajin besi. Pengerajin besi di daerah ini menghasilkan alat-alat pertanian seperti sabit, pacul, linggis dan sebagainya.

Dulunya, di Njodok ini tedapat 24 usaha pembuatan alat-alat besi namun sekarang ini hanya tinggal 4 kelompok usaha saja. Salah satunya adalah kelompok usaha milik Pak Sumarsi. Bapak Sumarsi membawahi 4 orang pekerja. Kelompok usaha ini merupakan kegiatan turun-temurun sehingga tidak dapat diketahui pasti kapan berdirinya.

Pande wesi ini mendapat bahan baku kebanyakan dari rongsokan dari bekas besi kapal atau besi bekas jembatan. Alat yang dihasilkan memiliki 2 jenis yaitu, barang kualitas kelas 1 dan kelas 2. Dalam pembuatan alat kualitas kelas 1 biasanya kompisisi baja lebih banyak dibanding alat kelas 2 agar lebih awet dan tahan lama. Perbandingannya biasanya adalah 1 kg besi dan 1 ons baja. Dalam sehari di tempat ini bisa menghasilkan 15 buah sabit dan 8 buah pacul. Tidak hanya menghasilkan alat namun juga bisa memperbaiki alat pertanian yang rusak.

Di tempat kerja pande wesi Pak Sumarsi ini masih bekerja dengan cara tradisional. Baik dari penempaan besinya secara bergantian, juga pompa udara atau yang disebut ububan untuk menghasilkan api di perapen masih tradisional dengan bahan bakar kayu terutama kayu jati karena dapat menghasilkan api yang baik.

Teknologi alat logam atau biasa disebut metalurgi merupakan sebuah kebudayaan yang telah ada sejak masa prasejarah. Penemuan teknologi pembuatan alat logam tidak lepas dari penemuan manusia akan logam masif yang gampang ditemukan di alam. Setelah proses yang sangat panjang akhirnya manusia kemudian belajar untuk mencoba mengendalikan api dan memanfaatkannya untuk pembuatan alat logam dengan berbagai teknik, yang meski sederhana dan bertahan hingga saat ini.
Metalurgi kemudian juga menjadi salah satu dari 10 bukti akan kemajuan sebuah peradaban, menurut Gordon CHile dalam teori civilization.

Monday, April 28, 2008

iseng di arkeo

jum'at 25 april, wow, maybe it was a hectic day ever in my life..
pengalaman pertama juga ngadain acara se-kaliber 'Bedah Buku'
Dalam rangka Arkeologi rePublik 2008 yang digagas HIMA lewat Damai.

Acaranya mirip tahun kemaren, ada bazar buku ma pameran foto. Yang berubah hanyalah acara nonton film diganti dengan bedah buku "Melacak Batu Menguak Mitos' tulisan Jajang A. Sonjaya a.k.a dosen arkeologi sendiri..

acara ini yang dari kemaren-kemaren hampir menyita semua perhatian dan tenaga. kuliah banyak bolos gila-gilaan, padahal baru kemaren dapet beasiswa! ironic...

Didapuk jadi koordinator buat acara kayak gini bener-bener untuk pertama kalinya buatku. Dan dari seminggu sebelumnya udah lari ke sana kemari. Ambil display bukulah, hubungin pembicara inilah, duit kurang, beli souvenir bareng 5 makhluk nggak jelas se-dunia. Macem-macem..

Dan hasilnya, meski yang dateng udah separuh dari target yang diinginkan, namun buatku tetep mengecewakan. Bukan karena acaranya molor setengah jam dari yang direncanakan, atau kurangnya dana. Melainkan kurang komunikasi sama pembicara. Dan itu adalah kesalahan fatal ku yang jelas bikin aku marah dan kecewa ma diri sendiri. 2 jam sebelum acara aku baru menghubungi pembicara dari luar arkeologi padahal hal itu bisa ku lakuin 3 hari sebelumnya. fatal dan bikin drop moodku.

Meski ini adalah proses pembelajaran buatku tapi tetep aja telak. Kesalahan telak yang mungkin bakal bikin aku kehilangan kredibilitas atas nama suatu kelompok tertentu..

Lain kali, jika kesempatan itu bakalan dateng untuk kedua kalinya, maka mungkin aku harus lebih siap dan lebih cool lagi ngadepin semua ini. Apalagi berhubungan ma orang banyak...

Haaaaaa....

but it's over now, namun sayang hujan anomaliku tidak turun hari itu..
maybe next year?

Saturday, March 1, 2008

Harapan..

Sebuah harapan dibuat kadang bisa disebabkan oleh sesuatu yang kita ingin jadi baik adanya. Menginginkan semua akan berjalan baik adanya. Tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama dan berkembang menjadi lebih baik dari yang sebelumnya.
Seperti harapan yang ku tumbuh buat anak arkeo angkatan 2007 yang sekarang kebagian jatah jadi panitia Abhiseka Ratri 2008 besok ini.
Lepas dari label koordinator SC (steering commite yang ternyata hanya nama saja!), pinginnya sih abhiseka tahun ini bisa lebih baik dari yang kita, angkatan 2006, bikin. Lebih-lebih bisa melampau AR 2007 kemaren. Harapan seperti itu pasti ada kan'...
Yah, makanya dari ngeliat dari rapat bareng SC-Panitia AR 2008, tanggal 28 Februari 2008 kemaren, aku memulai harapan dari sesuatu yang simpel. Harapan agar mereka bisa lebih solid dan nggak konyol untuk terus tekun bikin acara survey yang berisi nggak hanya sekedar foto-foto narsis aja. Ngeliat kemaren, emang banyak yang timpang dan kurang, seperti juga aku dan anak-anak lainnya dulu. Nggak lebih signifikan progresnya namun jelas pasti apa yang kita lakuin tiap langkahnya.
Punya konsep! Dapet lokasi Candinya, cari lapangan, cari jalur treking, kumpulin duit yang banyak untuk disesuaikan dengan kebutuhan konsumsi dan transport, pendekatan dengan penduduk sekitar, bikin surat peminjaman dan izin, jalan ke instansi cari duit, simulasi, matengin acara, menyiasati kekurangan orang dalam kerjaan, Abhiseka!
Masih banyak hal yang harus dilakuin. Komunikasikan keinginan itu untuk mencapai suatu kesepakatan bersama dengan yang lainnya. Dan, yakin Abhiseka itu bukan cuma acara ospek gak muthu!
Abhiseka itu momen penting buat semua anak arkeo. Untuk pertama kalinya mungkin bener-bener bikin shock tapi selalu ada cerita. Kenal tiap karakter temen-temen sendiri dari sana. Yang penting adalah team work. Ya ampun, hampir selama setahun kemaren rasanya begitu melelahkan sekali. Menyiapkan acara yang bener-bener ditunggu oleh tiap angkatan dan memiliki banyak pengalaman unik di dalam sana.
Harapan itu ku gantungkan ke yang muda agar bisa mendapatkan pengalaman penuh arti di dalam situ. Harapan ini ada agar kami, orang-orang yang udah nunggu nggak sabar buat Abhiseka, bisa terlaksana...