Thursday, May 26, 2011

Pilihan

Ketika kita menginjak usia kesekian, apakah pertanyaan itu pernah menggelembung dikepala? Sesuatu yang ada hubungannya dengan tujuan hidup dan pilihan edukasi yang dipilih. 2 minggu yang lalu saya membaca sebuah novel, Katalis. Ceritanya cukup membuat alis menurun meski tokoh-tokohnya remaja SMA namun mereka dihadapkan pada sebuah pilihan untuk menentukan masa depan. Seperti yang digambarkan salah seorang tokoh laki-laki yang cerdas, awalnya ia memlilih untuk kuliah di jurusan Sejarah Seni (Art History) dan menolak untuk harus mengikuti kemauan orang tua agar kuliah di jurusan Ekonomi Bisnis. Seems so familiar?
Namun pada akhirnya, dia memilih untuk kuliah di jurusan Ekonomi Bisnis demi melakukan sesuatu yang berguna. Bukan berarti jurusan sejarah itu tidak berguna hanya saja dia berpikir bahwa ada yang lebih banyak lagi yang bisa dilakukan untuk menolong orang atau melakukan sesuatu jika melalui pilihan jurusan tersebut.

Novel tersebut tidak serta merta memberikan efek yang besar pada saya. Sudah hampir 5 tahun saya menjalani pilihan edukasi saya ini. Belajar ilmu purbakala yang tidak populer itu. Sudah selama ini itulah saya mengalami sendiri berbagai cerita manis, pahitnya bergelut dibidang yang tidak banyak orang tahu ini. Manis, karena saya bisa jalan-jalan keberbagai daerah yang dulu saya tidak pernah bayangkan bisa kesana. Pahit, karena orang-orang kebanyakan tidak tahu ilmu kami berguna untuk apa bagi mereka. Akan tetapi, pertanyaan dari novel tersebut sempat menggelembung juga. Apa gunanya ilmu ini? Ini sedikit menambah keruwetan pikiran saya. Belum ada jawaban yang tepat yang bisa saya berikan namun dalam hati masih ada keteguhan bahwa setiap ilmu pengetahuan bukannya tidak berguna. Saya memang tidak menyelamatkan nyawa orang, tidak pula menggerakkan roda perekonomian negara, tidak membela orang miskin, apalagi menciptakan teknologi. Apa guna ilmu ini?

Kita lewati pertanyaan ini. Saya tidak bisa menjawabnya sekarang. Sejujurnya malah itu membuat saya semakin ruwet.

Oh, ya. Beberapa waktu lalu ada pembaca blog saya yang menghubungi saya. Mereka bercerita ingin memilih jurusan purbakala ini dan menjadi arkeolog. Bagi mereka dan bagi saya hingga sekarang ilmu ini memang menawarkan petualangan-petualangan eksotis. Apalagi kalau bukan gara-gara dia ini..

Saya pun tersihir gara-gara dia. Meski demikian. Bukan mau meruntuhkan impian masa kecil hanya saja saya ingin memberikan kenyataan agar tidak berharap muluk. Indiana Jones itu arkeolog tahun 1930-an dengan kondisi perang dan negara yang saling berebut kekuasaan. Nah, kalau sekarang ya bisa dibilang Indiana Jones itu cuma sekedar kriminal tukang bongkar makam. Hahaha..

Ilmu arkeologi yang lebih populer sekarang ini jauh lebih sistematis dan tidak asal ambil. Walaupun begitu, saya tidak pernah berhenti berharap suatu hari nanti saya akan memiliki petualangan yang tidak kalah spektaluler seperti dia. Mungkin saya tidak bisa menyelamatkan nyawa seseorang. Akan tetapi menghidupkan masa lalu bukanlah hal yang buruk juga.

Sejauh ini saya belum menyesali pilihan edukasi. Meski demikian harapan untuk melakukan sesuatu itu selalu ada..

Wednesday, April 13, 2011

Museum Adalah Alat

Pagi ini muncul berita yang bikin saya geram. Benda-benda cagar budaya akan dibawa keluar Indonesia sebagai koleksi dari Museum Kerinci yang didirikan di atas tanah negara Malaysia. Dan dengan dana dari Malaysia. Ada beberapa kejanggalan disini. Jika masalah dana--ok. Boleh saja kita mendapat bantuan dana dari pemerintah asing untuk membangun sebuah museum namun ketika bangunan itu akan berdiri di luar batas negara kita?

Apakah ini, lagi-lagi, suatu kegagalan pemerintah untuk menjaga kebudayaan materi dan historis bangsa? Jika meniliki alur yang jauh lebih panjang ke belakang--Indonesia memang masih memiliki rumpun melayu yang sama dengan Malaysia. Terlebih lagi bagi masyarakat di kepulauan Sumatera yang secara geografis berdekatan dengan Negeri Jiran tersebut. Tidak menyangkal pula bahwa pada masa lalu, dimana garis batas negara imajiner tersebut belum ada, masyarakat di seputaran selat Malaka memiliki akar kebudayaan yang hampir serupa. Baik adat istiadat, hasil kerajinan, bahasa dan lain sebagainya. Sehingga pun hingga sekarang Malaysia masih merasa kebudayaan tersebut juga mereka kebudayaan milik mereka. Ibaratnya, Indonesia dan Malaysia itu 2 sodara yang sekarang terpisah oleh garis batas arbiter penjajahan di awal abad ke-17 tersebut.

Namun--meski kebudayaan kita serupa namun tak sama, seharusnya ada penghormatan terhadap garis batas kenegaraan. Urusan ini memang tidak besar seperti pengambilan pulau Ambalat beberapa tahun silam. Namun jika pemerintah Indonesia tidak mampu melindungi BCB yang telah bergerak ke seberang lautan tersebut maka jangan salahkan deh kalau bahkan rakyatnya sendiri tidak percaya kalau Indonesia ini mampu jadi sebuah negara.

Alasannya, bagi yang tidak mengetahui, museum adalah alat politik. Jika berpikir Museum hanyalah sebagai wadah, sarana penyimpanan benda-benda kuno saja, maka sebaiknya anda ikut kuliah Museologi dan belajar lebih banyak lagi soal arkeologis--karena anda bego! Pada era kolonialisasi, pemerintah Hindia-Belanda banyak sekali membangun museum-museum di kota besar kala itu. Mereka akan membangun museum dengan peta yang besar, data etnografis berbagai suku di Indonesia dan sensus penduduk yang tinggal di dalamnya. Museum juga turut menyimpan berbagai macam artefak-artefak berharga--yang kini banyak diboyong ke Leiden. Pemerintah Hindia-Belanda membangun museum--selain sebagai pusat pembelajaran mengenai daerah jajahan mereka, juga sebagai legitimasi kekuasaan mereka terhadap Indonesia. Museum adalah alat politik mereka untuk menyatakan kepada negara-negara barat lainnya (Inggris, Prancis) bahwa mereka menguasai daerah tersebut. Maka pemerintah Hindia-Belanda merasa memiliki hak untuk memboyong kebudayaan Indonesia keluar dari garis batas negara. Namun masih tetap dalam negara yang sama (Pemerintahan Ratu Belanda dengan negara jajahan Hindia-Belanda).

Museum sebagai legitimasi kebudayaan. Maka, jika Malaysia membangun museum dengan kebudayaan Kerinci di negara Malaysia--yang berarti melewati garis batas negara bisa dikatakan kita tidak punya legitimasi atas kebudayaan tersebut. Meski pun apabila nanti pemerintah dijanjikan dibuatkan caption sebesar baliho iklan di jalan tol bahwa kebudayaan itu milik Indonesia itu sama saja bohong. 5-10 tahun lagi cerita pasti akan berganti. Seperti halnya kita yang kini melihat kebanyakan museum-museum di Indonesia sebagai produk Belanda, maka mata dunia akan melihat mengambil kesimpulan Malaysia lah si pemilik kebudayaan Kerinci.

Itu yang tidak dapat dipahami oleh orang-orang pemerintah pusat maupun daerah. Kita terlalu mabuk sejarah hingga lupa caranya menjaganya.

Tuesday, April 12, 2011

Halo, apa kabar?

Sulit juga mau cerita soal apa di blog kali ini? Yang kini terjadi--kepala dipenuhi ide-ide, metodologi, dan hipotesa tentang skripsi. Alhamdulillah banget saya dikasih ide cemerlang. Tuhan telah menyalakan lampu itu untuk saya. Sekarang tinggal memberikan semangat untuk memulainya.

Kabar kampus?
Akhirnya angkatan 2006 ada juga yang sudah resmi lulus. Sudah ada yang memberikan tanda untuk nyusul. Dan mengejar banyak ketertinggalan dibelakang. Mari berkarya!


2006 yang masih itu-itu aja

Wednesday, February 23, 2011

Sedikit curhat

Hari ini, seorang teman baik saya diwisuda setelah menempuh studi selama hampir lebih 4 tahun lewat sedikit. Opppsss. Wisuda. Kelulusan. Pendadaran. Skripsi. Dan lihat saya selama memasuki masa studi ke tahun kelima ini. Masih saja berkutat dengan itu-itu saja--niat membuat proposal. Sedikit curhat juga deh, selama setahun kemarin saya ini sama sekali nggak melakukan apa-apa. Terutama setelah semester dengan KKN selepas itu hidup tidak pernah bersentuhan dengan yang namanya karya ilmiah. Salah saya juga lah, karena malas untuk mengerjakan sesuatu yang seharusnya memang sudah jadi tanggung jawab semenjak setahun yang lalu. Namun, rasanya ada saja alasan untuk menunda. Ya penggalian ini-itu, proyek ini-itu, kemalasan ini-itu.

Waktu seperti terbang. Bahkan ide proposal juga turut terbang. Keinginan berganti, deretan pertanyaan membayangi. Saya jalan ditempat. Dan ini tidak baik. Kalau ditanyakan, kenapa mahasiswa Arkeologi itu kalau lulus telat, mungkin saya akan menjawab, dengan jutaan alasan klasik, bahwa kesulitan bidang Arkeologi adalah kita harus turun ke lapangan mencari data. Nah, data itu kadang ada dan kadang tidak akan tetapi lebih sering tidaknya. Berbeda dengan anak HI yang bikin TA tentang konflik Timur Tengah nggak perlu sampai jihad kesana, atau anak Psikologi yang nyebar kuisioner untuk dibagikan ke remaja-remaja. Bidang saya, harus turun ke lapangan, mencari data yang keberadaannya sangat sulit dicari. Kita mempelajari sejarah namun yang tidak berlalu--terkadang data tidak mendukung, menjadi detektif dan mereka-reka namun juga harus valid.

Yah, sedikit curhat colongan. Namun melihat teman-teman saya tadi memakai baju toga dan ketawa lebar itu melecutkan hati juga. Ok. Saya kepengen dandan kayak mereka dan jumawa. Karena itulah, mari kita mulai sekarang!

Mari berkarya :)

Friday, February 11, 2011

Plered sama keramatnya dengan Crop Circle

Arkeo genjot kembali lagi. Mungkin karena terlalu punya banyak waktu senggang akhir-akhir ini makanya jadi sering untuk mengayuh sepeda dan touring. Well, melupakan sejenak (?) beberapa urusan dibelakang. Teman-teman arkeo 2006 plus satu teman 2004 meluncur kembali dijalanan.

Saya kepengen cerita 2 perjalanan touring kami. Yang pertama menuju Plered, Bantul. Dan kedua menuju Berbah, Sleman. Tampaknya kami sudah sering keliling Yogya dengan sepeda. Tujuan pertama ke Plered waktu itu karena mengunjungi kegiatan praktikum ekskavasi angkatan 2009. Salah satu pengalaman baru lagi karena ini melihat penggalian untuk mencari rekonstruksi sejarah dari masa Islam. Jadilah kami berkunjung ke bekas-bekas tinggalan Kraton Plered yang ada. Yang menarik adalah lokasi penggalian yang dekat dengan makam dan 2 pohon besar yang keramat--maklumlah ceritanya ini tempat bekas Masjid-Makam.


- kami dan pohon ratusan tahun

Beberapa minggu kemudian masih dengan keadaan yang "seloooo" sekali, kami melaju lagi untuk mengayuh sepeda ke utara. Tepatnya menuju lokasi fenomenal Crop Circle. Saya rasa kami kena demam invasi alien dan kepengen tahu bentuknya seperti apa sih. Apapun dibalik mitos yang ada--konspirasi, cerita, gimmick, apapun, namun jauh di lubuk hati saya masih tetap berharap kalau alien memang datang mampir ke bumi :p

- naik bukit curam dan licin demi lihat bunderan itu apa namanya kalau bukan kami percaya akan adanya Alien!

Hal baru dalam 2 perjalanan terakhir ini adalah akhirnya saya bisa menaiki sepeda impian ulang tahun--meski warna pink bukan biru serta bergambar. Memang disini yang penting bukan jenis sepeda apa yan kamu pakai namun sejauh mana kamu ingin mengayuh sepedamu.

Wednesday, August 25, 2010

Song Terus 2010

Yo! Akhirnya kembali juga disini--duduk di depan komputer, sembari memikirkan tulisan-tulisan yang berbau arkeologis untuk blog ini. Mesti vakum sebentar, karena saya sedang mencari-cari pengalaman diluar sana.

Hell yeah, bulan Juli-Agustus kemarin saya berpetualang lagi. Kali ini pergi ke Pacitan--kota seribu gunung. Untuk ikut penggalian ini, sebetulnya saya seperti dapet jackpot besar. Yah, selama sebulan itu saya ikut penggalian dengan Puslitarkenas (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional) yang bekerjasama dengan Museum National de'Historie Naturelle (MNHN) dari Perancis. Kerja sama dua negera ini berlangsung semenjak dari tahun 1990-an dan mencapai penggalian kerjama yang ke-13 tahun ini. Tentu sebuah kesempatan yang sangat luar biasa buat saya bisa bekerja dengan orang-orang profesional dari berbagai negara. Awalnya saya juga merasa agak keder juga, gara-gara masih berstatus mahasiswa undergraduate yang cupu. Apalagi bila ternyata bisa bertemu dengan orang sekaliber Francois Semah, Anne-Marrie Semah, dan Florent Detroit yang ketiganya bisa dibilang adalah jawaranya prehistori di Perancis sana. Ahli geologi, ahli paleo-enviromental (terutama analisis pollen), dan ahli paleantropologi yang sedang lama sekali menaruh perhatian dibidang prasejarah Indonesia terutama di Punung, Pacitan.

Selama sebulan kemarin ini, saya melakukan ekskavasi di Song Terus. Situs ini merupakan salah satu situs prasejarah yang tertua yang ada di Indonesia. Didalam tanahnya memuat sejarah panjang kehidupan dan lingkungan alam di Jawa. Temuannya cukup melimpah--terutama temuan tulang mikrofauna, moluska, batu rijang dan batu terbakar. Didalam stratigrafi tanah Song Terus pula termuat sejarah terbentuknya pulau Jawa yang cukup panjang.

Berkegiatan disini menjadi tambahan pengalaman tersendiri, dimana saya mencoba mencuri ilmu sebanyak-banyaknya mengenai prasejarah hingga penanganan preservasi dari ekskavasi sendiri. Sistem data base, sistem field note, sistem pengambilan gambar, sistem penanganan temuan hampir semuanya jauh berbeda dengan sistem yang saya pelajari di kampus. Ada lebih dan kurang. Kesemuanya itu jadi tambahan belajar yang sangat berguna.

source: clement zanolli

Thursday, July 1, 2010

Museum Kaliasa, Dieng

Bila berkunjung ke Dieng, jangan segan-segan untuk masuk ke Museum Kailasa yang letaknya berada di sebelah barat sektor Candi Gatot Kaca. Membayangkan suasana museum yang suram dengan displai koleksi monoton? Lebih baik buang jauh-jauh pikiran macam itu karena Museum Kailasa tidak kalah keren dengan museum negeri di kota-kota besar. Bahkan, museum di kota-kota besar banyak juga kok yang kalah keren bila dibandingkan dengan museum yang baru saja selesai direnovasi dan diresmikan oleh Menteri Pariwisata dan Kebudayaan pada tahun 2008.

Kenapa lebih keren? Tentu pertanyaan ini menggelembung di dalam kepala? Apa ada museum yang keren?

Tentu saja ada museum yang keren. Jika konsultan sekaligus pengerjaannya ditangani oleh pakar museologi tentu dia bisa menyulap museum jadi sekeren apapun. Jika pengerjaan museum ini dikerjakan oleh orang-orang super kreatif yang sudah melihat puluhan museum baik dalam maupun luar negeri, tentunya museum bisa jadi sangat keren ditangan mereka. Dan beruntunglah museum yang diberi nama gunung tempat tinggal Dewa Siwa ini karena ditangani oleh orang-orang terbaik dibidangnya yaitu para dosen saya sendiri. Heheheheh :)

Namun, mereka membawa kreatifas yang modern sehingga menghadirkan suasana museum yang tidak lagi suram seperti kebanyakan museum yang ada di Indoensia. Museum Kaliasa bertransformasi menjadi sebuah museum modern dengan dislpai koleksi yang unik dan menarik. Meski kecil namun sarat akan informasi dan pengetahuan mengenai Dieng.

Begitu memasuki ruangan kita akan dipandu oleh "jejak-jejak" kaki yang ditempel di lantai sebagai alur perjalanan dari satu koleksi ke koleksi yang lain. Story line di museum ini bermula dari wilayah Dieng dengan kondisi geografis dan geologisnya. Kemudian berlanjut mengenai kondisi kultural, subsistensi masyarakat Dieng, kesenian tradisional, dan masyarakat Dieng yang unik. Perjalanan dilanjutkan dengan menonton film pendek mengenai Candi Dieng di ruang audiovisual khusus. Setelah selesai menonton film kemudian kita disuguhkan informasi mengenai keberadaan Candi Dieng dan koleksi museum berupa arca-arca khas.

Museum Kailasa menjadi salah satu contoh museum di Indonesia yang dapat berkembang dengan baik. Asal ditangani oleh orang yang tepat dan kemauan dari pemerintah untuk memperbaiki museum, tentu Tahun Kunjungan Museum 2010 tidak hanya jadi sekedar tagline sambil lalu. Masih banyak museum-museum lain di Indonesia yang tidak seberuntung Museum Kailasa, namun tidak terlambat jika berjuang dari sekarang. Museum mungkin memang tempatnya menyimpan barang-barang kuno namun bukan berarti orang yang bekerja di dalamnya haruslah jadi old skool juga. Yang dibutuhkan adalah orang-orang muda yang kreatif.

Semoga saya bisa jadi orang-orang kreatif itu.