Wednesday, August 28, 2013

Job Seeker

Jadi, bagaimana aku harus memulainya?

Kelulusan menjadi salah satu pengantarnya. Lepas dari institusi berjudul sekolahan tentu membuatku agak megap-megap. Setelah ini kemana? Tidak seperti halnya ketika masih berseragam, jalan hidup sudah dicetak sempurna tidak boleh berubah. Lulus SD harus daftar SMP, setelah itu lanjut SMA. Lulus sekolah menengah pun sudah tahu harus melanjutkan ke universitas bukannya bekerja.

Setelah pendadaran, kondisi kaki setelah patah tulang tidak memungkinkan untuk mengurus wisuda di bulan Februari sehingga kuputuskan untuk mengikuti wisuda di periode bulan Mei. Rentang waktu Januari (bulan pendadaran) hingga wisuda tentunya cukup panjang. Hampir 5 bulan. Dengan ketakutan bakalan jadi pengangguran, akhirnya aku menyabet apa saja tawaran yang mampir padaku. Salah satunya adalah pekerjaan di Museum Sonobudoyo ini.

Diantara pekerjaan multi-tasking lainnya, proyek di museum ini memberikan kesan mendalam. Bukan hanya karena jenis pekerjaannya, tapi juga orang-orangnya. Mungkin inilah cermin dari sistem birokrasi kepegawaian negeri di Indonesia. Melihat kondisi museum, aku hanya dapat tersenyum geli sekaligus prihatin.

Sejujurnya, aku cukup menyukai pekerjaan selama hampir 4 bulan lebih ini. Mungkin bekerja di museum tidak memiliki gengsi tinggi seperti halnya mengerjakan event seminar internasional. Tapi, jenis pekerjaan ini membuatku ingin belajar dan mencari tahu mengenai budaya. Atau hal-hal kecil lainnya.

Tapi semuanya masing-masing memiliki sisi terang dan gelapnya. Adanya yang menyenangkan adapula yang mengkhawatirkan. Aku takut hidupku stagnan ketika menjadi pegawai negeri biasa. Tapi ada keinginan tersendiri untuk terjun di dalam bidang permuseuman terutama di Sonobudoyo ini.

Well, life starts here, doesn't?

Lanjuuuuuut Gan!

Setelah melalui proses yang cukup dilematis dengan keadaan blog ini--antara ingin dilanjutkan atau tidak, akhirnya saya putuskan untuk terus berlayar berwahana blog ini. Mungkin dalam perjalanan nanti, judul 'Archeology Diaries' tidak lagi relevan. Bisa jadi karena aku sendiri tidak akan menjadi seorang arkeolog yang sah memiliki sebutan tersebut. 

Apapun. Saya pikir jalan yang sudah dilalui hampir 7 tahun ini kurasa akan sangat sayang bila ditinggalkan begitu saja. Karena itu, hari-hari saya berikutnya. Catatan-catatan seorang sarjana arkeologi yang masih idealis rasanya sayang jika tidak dituliskan.

Banyak yang terjadi dalam kurun waktu 3 bulan setelah kelulusan. Masih menyangkut tentang dunia arkeologi dan, tentu saja, kegamangan saya yang bertumpuk di kepala. Saya sekarang sedang mengerjakan proyek di Museum Sonobudoyo dan keseruan disana sangat luar biasa hingga sayang apabila dilewatkan. 

So? 
Lanjuuuuuuuttttt Gan!

Sunday, June 9, 2013

Graduation

Tidak memungkiri, masa perkuliahanku sangat berkesan. Tahun-tahun yang dihabiskan kebanyakan merupakan gabungan otak akademis dan persahabatan yang menarik. Juga sedikit tentang cinta. Ketika pertama kali membuat blog ini, yaitu sekitar 7 tahun yang lalu--apa yang pertama kali kupikirkan? Bahwa buku harian kehidupanku di dunia arkeologi aku akan mengalami banyak sekali hal yang luar biasa. Aku tidak akan pernah membayangkan bahwa dunia ini mampu membawaku melakukan perjalanan yang luar biasa.

Aku lupa, dan nyaris melewatkan dua peristiwa bersejarah dalam blog ku ini. Yang pertama adalah saat aku pendadaran lalu yang kedua adalah ketika aku diwisuda.

Setelah 6 tahun 4 bulan masa studiku di jurusan arkeologi ini, aku menutup kenangan masa perkuliahanku denga indah.

Para sahabat-sahabat, yang telah berbagi tawa dan keseruan dalam petualangan ini, selalu hadir pada kedua momen tersebut. Padahal mereka sudah disibukan oleh pekerjaan dan keriuhan dunia nyata, namun masih sempat saja mereka hadir untuk memberikan tawa terbaik mereka padaku.

Aku hampir dapat mengingat semua waktu yang telah dilalui bersama selama ini. Welcome party, Abhiseka Ratri, jadi panitia Abhiseka Ratri, field trip, ekskavasi di Plaosan Kidul, jelajah sungai purba, kegiatan HIMA, seminar proposal, survei skripsi, road trip, pendadaran hingga wisuda. Semua cerita itu menjadi satu bagian sejarah terpenting dalam pembentuk diriku yang kini.

Kini, hidup bergerak cepat. Tibalah di persimpangan jalan. Termasuk juga blog ini yang masih bingung untuk dilanjutkan atau tidak. Sesuai namanya--buku harian arkeologi, aku belum dapat memutuskan menjadi arkeolog profesional atau tidak. Yang pasti, untuk semua petualangan berharga ini. Terima kasih arkeologi :)

Sunday, January 13, 2013

Killing Field

Minggu depan, sekitar antara hari selasa atau rabu adalah hari pembantai. It's killing field dan aku akan mati disana. Namun aku akan memilih mati terhormat. Bukan cuma terpekur, menangis dan merasa jadi korban. Tapi aku merasa sakit hati atas satu setengah tahun yang panjang.

Beberapa saat ini rasanya memang tidak adil. Dan untung, sedikit keberuntungan aku akan tahu bagaimana rasanya maju dan mempersembahkan kepalaku untuk dipenggal. Aku maju untuk mati.
Dan apa yang ku pahami dan kini akan aku sesali adalah kompromi ku. Rupanya aku berkompromi untuk tetap mati. Tidak ada ide brilian yang dapat menyelamatkan diriku. Aku mati karena kesombonganku, berpikir bahwa diriku ini brilian.

Dari setiap pertanda yang Tuhan berikan pada ku, tetap aku melaju dengan kesombongan tak terkira. Namun karena aku tahu ini adalah sebuah kesalahan sejak dari awal maka aku akan mati demi mencari kebenaran itu.

Satu setengah tahun berkompromi selama ini rasanya sungguh menyakitkan. Tak terkira aku tidak dapat apa-apa. It sucks!

Bismillah...

Thursday, December 20, 2012

Kota Bata

Jika diibaratkan, bagi seorang arkeolog datang ke Trowulan itu bagaikan naik Haji ke Mekah. Setelahnya datang kesana, pantas sudah jadi seorang arkeolog Indonesia. Akhirnya, saya bisa 'naik haji' itu setelah hampir 6 tahun berkuliah kaki ini bisa menjejakkan langkah ke tempat matahari terasa ada 9 buah membakar  bumi.

Trowulan itu bagaikan kota misterius yang samar-samar ada namun terpendam dalam ingatan masa lalu yang terlampau jauh terendapkan. Kota ini, konon katanya megah berdiri bersamaan dengan dongen Majapahit yang berdiri tegak menyatukan nusantara menjadi satu nafas. Trowulan adalah kota kuno yang hadir dalam dongeng para arkeolog tentang sebuah peradaban kuno, rumah-rumah batu bata, gunungan gerabah dan keramik hingga celengan babi yang ikonik. 

Road trip ke Trowulan adalah perjalanan 'naik haji' ku yang mengesankan. 2 hari tidak tidur, tidak mandi, tidak cuci muka, tidak ganti baju. Perjalanan padat bersama kawanan antar angkatan tua yang tersisa kini melebur jadi teman seperjalanan yang menyenangkan. Untung saja, aku menjelajah Trowulan ketika kabut masih tebal, udara masih membeku, dan subuh baru saja tiba. Jika tidak mungkin gosong banget muka ini.

CKC (Candi ke Candi) dimulai dari Candi Brahu untuk menyambut mentari terbit, lalu Candi Tikus hingga Candi Bajang Ratu. Sore sebelum pulang, mampir ke kolam segaran tempat anak-anak yang sedang penggalian (proyek ambisius tanpa arah bernama PATI II) membuang temuan keramik biar nggak pusing untuk di analisis. 

Mungkin ini adalah trip sebagai mahasiswa ku yang terakhir. Semoga dengan ini jadi arkeolog yang mabrur! 

Candi Brahu

Candi Tikus

Bajang Ratu

Konon katanya Kraton dekat Sumur Upas?


Belum Mandi

Tuesday, September 18, 2012

Lustrum ke Lustrum

Kira-kira sekitar tahun 2007, malam itu, sebagai mahasiswa yang terbilang baru memasuki dunia yang baru aku mengikuti kegiatan tersebut dengan semangat yang luar biasa. Aku dan beberapa teman didapuk jadi penerima tamu untuk acara reunian akbar yang diselenggarakan oleh jurusan dalam rangka lustrum. 5 tahun kemudian, di malam yang serupa aku masih juga ada disana. Berganti peran berjualan kaos salah satu usaha angkatan. Berdiri disana masih dengan label mahasiswa yang melekat namun semua tak lagi sama. Waktu telah berbaik hati untuk merubah kami yang dahulu hanya sekedar anak-anak remaja baru masuk kampus menjadi seseorang yang bisa dikatakan jauh berbeda.

Hidup memang penuh dengan kejutan yang tak terduga. Kita semua dibawa pada cerita masing-masing, tawa yang dulu ada mungkin kini telah berubah menjadikan kami manusia yang tak lagi sama. Persahabatan dan olok-olokan guyon yang menemani bertahun-tahun ada yang masih lucu ada pula yang tak mengundang tawa seperti dulu. Bahkan zona nyaman ku ini pun tiba-tiba mendepak ku dengan kasar dan tidak lagi menjadi nyaman. Hidup terasa lucu. Mungkin inilah yang disebut dengan perubahan, meski dunia masih sama namun isinya telah berganti. 

Terima kasih kampus arkeologi yang sudah memberikan pengalaman luar biasa tak terduga dalam perjalanan hidup ku. Viva Arkeologi! Selamat ulang tahun emas! 50 tahun sudah engkau melangkah membawa tunas-tunas baru untuk berpetualangan memecahkan misteri masa lalu :)

#arkeologi2006

Monday, July 23, 2012

Oh Manila Oh Ayala

Hidup ku, belakangan ini, mungkin merupakan kombinasi antara keberuntungan (hampir kebanyakan) dan kemampuan (yang sebetulnya minim) yang membawa ku menuju kejutan tak terduga di pertengahan tahun 2012 ini. Aku tidak henti-hentinya berucap syukur akan keberuntungan ku dan sedikit kemampuan ini. 

Pada bulan Mei yang lalu, Pak Dosen tiba-tiba memanggilku ke ruangannya. Disambut dengan Pak Dosen lain yang secara mengejutkan--nggak ada angin, nggak ada hujan, secara tiba-tiba menawarkan kesempatan untuk mengikuti workshop tentang Palaeoenvironmental. Ku sambar, tentu saja dengan secepat kilat tawaran tersebut. Dan 2 bulan berikutnya, di awal bulan Juli kemarin ini, aku terbang ke Filipina untuk pertama kalinya. 

Workshop ini diselenggarakan oleh Archaeology Studies Program (ASP) University of The Philippines - Diliman selama 6 hari pada tanggal 9 - 14 Juli 2012. Tema besar mengenai kajian lingkungan purba tentu saja jadi santapan lezat ku mengingat skripsi-tercinta-ku juga mengkaji bidang ini. Akan tetapi, rupa-rupanya fokus workshop ini justru ditekankan pada kajian Botani. Artinya kita berseberang jalan. Ku khianati sebentar fauna-fauna purba ku untuk belajar flora terutama Analisis Pollen atau serbuk sari. Karena peserta workshop tidak hanya dari bidang arkeologi namun juga biologi dan geologi maka contoh sampel pollen diambil dari serbuk sari yang masih segar. Artinya, kita tidak mengambil sampel sedimen. 

Aku bersyukur sekali bisa sampai disana dan kembali belajar dengan orang-orang yang luar biasa pintar dan berilmu lebih. Apalagi workshop ini untuk kelas mahasiswa master atau setidaknya yang sudah lulus sarjana. Nervous. Tentu saja, dalam hati selalu kepikiran kalau-kalau aku berbuat bodoh seperti biasanya. 10 hari di Manila terasa luar biasa. Bertemu dengan wajah familiar dan juga wajah-wajah baru, berkenalan, mingle, dan mencoba kehidupan dengan bahasa yang berbeda dari pagi hingga malam. Rasanya luar biasa. Bahkan aku terharu melihat diri ku sendiri, yang mampu melakukan perjalanan ini sendirian dengan kedewasaan ku yang minim. 

ASP Laboratorium
Palawan Lab