Sunday, August 31, 2008

Museum Trip - Museum Nasional atau Museum Gajah

Museum trip kedua ku di Jakarta adalah museum nasional atau lebih sering disebut dengan museum gajah yang di halaman depannya terdapat sebuah patung gajah yang merupakan hadiah Raja Thailand kepada pemerintah batavia pada masa itu. Museum ini sudah berfungsi sebagai tempat pertemuan ilmiah bagi para ahli-ahli budaya dan sejarah Belanda. Museum ini resmi berdiri pada tahun 1868. Maka dari itu, gaya bangunannya sangat khas kolonial.
Koleksi di museum ini paling lengkap se-Indonesia, jumlahnya yaitu 140.000. Display pamerannya mencangkup dari berbagai aspek kehidupan yang ada di Indonesia, sejak jaman prasejarah hingga etnografi berbagai wilayah daerah Indonesia.
Museum ini sekarang memiliki 2 bangunan, yaitu bangunan lama dan bangunan baru. Di bangunan lama yang paling mencolok adalah ruang arca yang luas. Terdapat ratusan arca-arca dan prasasti yang ditaruh di sana *Dan semoga bukan arca palsu yak!*. Ada pula nekara-nekara dan koleksi berbagai macam peralatan perunggu dari masa prasejarah. Hasil temuan di situs Trowulan yang kebanyakan berupa terakota memiliki ruang khusus bersama dengan keramik-keramik.
Bangunan yang baru merupakan bangunan bergaya lebih modern dan canggih. Displaynya pun dibuat menarik dan megah dengan lampu-lampu spotlight terang benderang. Di sini, barang-barang yang dipamerkan merupakan koleksi yang paling menarik. Tentu saja ruang yang paling spekatakuler adalah ruang penyimpanan koleksi emas. Khasanah penemuan emas di nusantara menjadi perhatian utama.
Kebetulan banget pas dateng ke sana, lantai 4 tempat penyimpanan emas sepi banget--nggak ada siapa-siapa. Jadinya ya puas menggila dan foto-foto narsis! ahahaha :P

*halaman depan*

*Yang tengah itu ada Nandi!*

*arca tinggi nyaris 5 meter lebih!*

*karang yang menempel pada keramik*
*dari Cina!*
*khasanah emas!*

*celengan celeng*
*rangka dari Gilimanuk*
*badak perunggu*

Saturday, August 30, 2008

Museum Trip - Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah atau Museum Batavia

Liburan kemaren ini, aku menyempatkan diri berkunjung ke dua museum di Jakarta. Yang pertama adalah Museum Jakarta a.k.a Museum Fatahillah. Museum Fatahillah ini letaknya di Kota lama Jakarta. Kawasan Kota merupakan sebuah landscape kolonial yang dibangun oleh Belanda sehingga menyerupai kota-kota yang ada Eropa terutama di Belanda.

Bangunan museum ini dahulunya merupakan sebuah gedung Balai Kota yang dibangun pada tahun 1707-1710. Arsitektur bangunannya bergaya Baroque sangat kental terasa. Ruang-ruangnya kemudian dipakai untuk mendisplay berbagai macam artefak-artefak yang sangat penting. Museum dikonsep menjadi museum sejarah kota Jakarta, sehingga barang-barang pameranpun lebih menitik beratkan hubungannya dengan perkembangan kota Jakarta serta wilayah sekitar, dimulai sejak jaman Prasejarah hingga sekarang ini.
Barang-barang yang dipamerkan sangat menarik dan kebanyakan berasal dari masa kolonial, seperti meriam-meriam yang berjejer-jejer dan berbagai sudut, serta lukisan J.P. Coen atau peralatan makan yang berasal dari perak. Ada lagi jangkar kapal yang ditarik dari perairan Jakarta yang menunjukkan bahwa pada masa itu pelabuhan sunda kelapa begitu megahnya. *sayangnya sekarang udah nggak lagi deh!*. Menariknya lagi terdapat sebuah prasasti telapak kaki dewa wisnu yang tenar itu!
Selain barang-barang pameran, yang cukup menyita perhatian adalah bangunan museum itu sendiri. Suasana dingin dari penjara bawah tanah cukup membuat para pengunjung berinterpretasi liar dengan horor di otak mereka. Atau ruang-ruang yang cukup rumit letaknya hingga nggak heran kadang terasa seperti lost begitu saja.
Yeah! Batavia is cool!!

*mejeng! ahaha*

*singa gahar!*

*telapak kaki dewa wisnu, sizenya '50'*

*Kapal Portugis*

*prasasti belanda nih!*

*J.P. Coen ganteng juga yak! ngaha!*

*Jangkar karatan! Awas tetanus!*

*Semua jadi milik Indonesia sekarang!*

Thursday, August 7, 2008

Sejenak Menegok Samudra

Kembali lagi ke Borobudur! Hari terakhir kegiatan Piami XII, kita dapet kesempatan mengunjungi Candi Budha paling spektakuler se-Asia Tenggara itu. Jalan-jalan ke Borobudur udah nggak terlalu baru buatku juga. Mengingat kondisi badan yang baru sembuh dari sakit hepatitis a kemaren, jadinya nggak boleh terlalu capek. Akhirnya nggak naek sampe' ke puncak Candi--melainkan jalan-jalan ke museum Karmawibangga dan Museum Kapal Borobudur.
Sayangnya, enggak tau kenapa--Museum Karmawibangga tiba-tiba beralih jadi kamar operasi yang steril. Masuk akal kadang si PT. Taman ini, bikin museum jadi multifungsi begitu cuma karena ada penyelenggaran event besar--tapi nggak sesuai dan bikin nggak bisa menikmati museum itu secara utuh.
Anyway, forget about that operation room-wannabe!

Kitapun beranjak pergi ke Museum Kapal. Di museum ini terdapat sebuah kapal kayu dengan teknologi tradisional, yang dibuat berdasarkan replika dari kapal yang terdapat pada sebuah panel relief di Borobudur. Kapal tersebut diperkirakan merupakan kapal dagang yang para awaknya nanti turut melakukan penyebaran agama Budha di Nusantara.
Kapal ini dibuat sebagai ekspedisi napak tilas pelayaran dari Indonesia hingga mencapai Ghana. Philip Beale, penggagas pelayaran ini begitu melihat pahatan kapal di Candi Borobudur pada tahun 1982. Akhirnya, setelah beberapa tahun pada tanggal 15 Agusutus 2003 kapal ini berangkat menuju laut lepas. Kapal inipun dinamai Samudraraksa atau Pelindung Lautan.
Dari Indoenesia hingga ke Madagaskar benar-benar sebuah perjalanan sayang panjang. Museum ini mencatat kehidupan para crew-nya hingga cerita-cerita menarik dari tiap negara yang disinggahi. Di museum ini juga menyajikan berbagai panel cerita mengenai kehidupan bahari di Indonesia yang telah berkembang jauh sebelum Masehi.

*anjungan*

*geladak*

*buritan*

*so expensive :( *

*menggila di Samudraraksa*

*melas gak mampu bayar tiket masuk kapal!*