Thursday, December 4, 2008

Lumbung, Asu, Pendem 2 hari 1 malam

Tanggal 29 dan 30 November 2008 kemaren acara Abhiseka Ratri, di Candi Asu, Lumbung dan Pendem, akhirnya digelar juga. Biggest event paling ditunggu anak-anak arkeo dari berbagai angkatan, alhamdulillah banget bisa juga diadain tahun ini. Meski konsep acaranya berubah yakni 2 hari satu malem tapi tetep greget pos per posnya masih heboh!


Dan 2006 siap jaga di pos 1 untuk pertama kalinya!!!! Cihuyyyyyyyyyyy...


Pos 1 jelas pos paling asyik di antara pos yang laen. Adem ayem, nggak nge-resehin maba, ransumnya pun melimpah ruah. Anak-anak emang niat banget buat bawa makanan sebanyak-banyaknya. Bawa kompor, nasting, terus bakar roti sampe' bikin popcorn. Yummmy :)


Konsep pos nggak beda jauh sama yang sebelum-sebelumnya. Mbribik anak 2008 yang jadi peserta Abhiseka dan ngobrol hal-hal enteng. Sayangnya, peserta abhiseka rata-rata stamina nggak nendang! Bayangin aja, baru mulai sweeping udah 3 orang yang tepar. Asma, kecapekan bla..bla..bla. Total ada 6 orang yang ambruk di jalan sampe dibawa ke rumah sakit pula.



Malam abhiseka emang jadi malam paling seru dibanding acara-acara yang lainnya. Nyesel deh buat temen-temen yang pada nggak ikut acara ini. Hahahahahahahahaa *banyak gosip lho!*


Overall, salut buat 2007 yang udah tetep berjuang sampe' akhir acara ini. Hope, we'll see again next year..

*wajah-wajah cerianya pos 1*

Saturday, November 15, 2008

Archy move along with public!

Liat deh daftar link 'The Others' sebelah kanan? Rame ya! Itu nama-nama temen-temen saya yang lagi pada asyik dengan blog. Sebagian besar adalah blog temen-temen arkeologi yang nulis macam-macam soal kegiatan arkeo, dari soal subyek penelitian, penggalian, sampe cerita jalan-jalan. Archeology move along with web blog.
Mendadak nge-blog begini juga atas provokasi dosen Arkeologi Publik, mas Sekti. Apa itu arkeologi publik?Arkeologi Publik adalah salah satu upaya dari pengelolaan ilmu arkeologi secara profesional yang melakukan hubungan timbal balik (dua arah) dengan masyarakat secara luas. Arkeologi Publik dapat dijadikan suatu jembatan penghubung antara para ahli arkeologi serta hasil penelitiannya dengan masyarakat yang lebih awam mengenai ilmu ini namun memiliki ketertarikan akan suatu budaya atau sejarah.

Selama ini dapat dikatakan bahwa hasil-hasil penelitian arkeologi hanya bisa sampai publikasi dalam kandang. Hasil penelitian arkeologi hanya dapat dimengerti dan diakses oleh orang-orang tertentu. Dari sana kemudian muncul pemikiran baru bahwa seharusnya hasil-hasil penelitian tersebut kembali kepada masyarakat karena situs, artefak, dan lansekap budaya juga bisa dinikmati oleh orang sebanyak mungkin.
Kan tak kenal maka tak sayang. Gimana orang mau pacaran kalo kenal aja nggak. Makanya biar orang-orang bisa jatuh cinta atau minimal tertarik maka yang harus move duluan adalah orang-orang arkeo itu sendiri. PDKT lewat blog ini diharapkan berdampak cukup baik. Apalagi jaman sekarang teknologi informasi dan digitalisasi udah ada di mana-mana.
Dunia maya bisa jadi bidikan tepat. Internet bisa diakses oleh siapa saja dan di belahan bumi mana saja. Bahkan ada tren museum online sekarang ini. Hanya dengan membuat link-link tertentu bisa membuat kita terhubung dari web ke web yang lain. Bikin web blog itu gampang dan gratis sehingga nggak heran banyak orang-orang yang memanfaatkan blog sebagai media komunikasi.
Sebenarnya untuk membuat arkeologi menjadi populer sekarang yang penting cuma satu, yaitu kreatifitas. Apapun media yang dipakai, canggih maupun tidak yang penting hanya bagaimana upaya membuatnya menjadi semenarik mungkin.

Sunday, November 2, 2008

Kayaknya cocok kerja di tanah

Mulai kembali ke rutinitas kuliah yang sibuk dan tugas seabrek! Edannnnnnn...tugas bejibun banyaknya. Errr bikin hidup normal 3 bulan kemaren tinggal kenangan. Tugas paper, ini itu means that i have switch my bed-time in the afternoon and sleep so late till mid-nite drop! Kebiasaan menunda pekerjaan.
O ya, heran banget semester ini tugas laporan banyak banget. Apalagi ditambah satu kegiatan baru yaitu Tutorial. Kuliah MAD *gila* (Metode Analisis Data) semester ini mengambil langkah baru buat serius dalam bidang olah data arkeologi. Nah, makanya sang pengampu bikin kegiatan tutorial diluar jam kuliah biar kita makin mantep dalam praktek. Intinya tutorial itu kayak praktikum di laboratorium. Analisa sedimen--tugas, analisa butir pati--tugas, analisa temper--tugas, latian pake' mikroskop, analisa mineral berat--cuci tangan pake' broform *ini jangan ditiru!*
Yang lumayan seru adalah tutorial analisis gerabah. Jadi, kita cuma dikasih sebuah fragmen (pecahan) dari gerabah terus habis itu dari sana kita nyoba interpretasi gimana bentuk gerabahnya kalo utuh. Imajinatif banget kan' tuh! Padahal kadang fragmen gerabah yang ditemuin pas penggalian paling cuma cuilan dari badan atau kalo untung ya dapet fragmen bagian bibir.
Cara gambarnya nih ya..
1. Siapin alat: jangka sorong, pensil, penggaris, sisir antik, sama tabel diameter *yang kayak peta buat fengshui*
2. ambil pecahan gerabah terus dikira-kira berapa diameter gerabah tersebut.
3. Habis itu digambar dalam secarik kertas, boleh secara skalatis *skala 1:4,5 juga boleh*
4. trus fragmen tadi di bentuk di atas sisir antik--detil lekukan
5. baru bisa diinterpretasikan bentuknya kira-kira gimana
Gampang kok, serius gampang! Secara teori. Prakteknya? Ribbeeeeeeeeeeeeeeeeettttt..
Nggak skalatis lah, nggak detillah, interpretasinya nggak jelas! huuuu!
Anyway, dari beberapa tutorial kemaren sih kentara jelas bahan yang dikuasai dan yang nggak mampu sama sekali. Kalo soal itungan--udah deh nyerah..apalagi urusan sama broform yang dengan begonya malah buat cuci tangan.
Jadi kayaknya, saya cocok kerja sama gerabah deh!

Tuesday, September 23, 2008

Tinggal di "Kota Kecil"

Dimana anda harus tinggal jika anda ini orang,
a. Belanda atau ras Kaukasian murni
b. Pedagang dari Asia (Cina, Arab, India)
c. Pribumi Indonesia Tulen

Diskriminasi sudah menjadi cerita sehari-hari jika kita menilik mundur ke abad-abad sekitar 17-an. Kolonialisasi Belanda yang makin meluas ke pelbagai wilayah daerah di Nusantara menyebabkan terjadinya perubahan drastis terhadap perkembangan kota-kota di Indonesia. Namun, yang paling mencolok tentu saja adalah pembangunan pemukiman orang-orang lokal yang terpinggirkan dan tidak layak. Penyebabnya? Tentu saja karena penguasanya adalah orang-orang Belanda yang bisa membangun kota dengan hebatnya pada masa itu. Karena yang mampu membangun kota orang-orang Belanda maka mereka tentu saja mereka bisa dapat tempat yang paling nyaman dibanding golongan ras yang lainnya--apalagi pribuminya.

Contoh cukup mencolok ada di kota Semarang yang sekarang ini merupakan ibukota Provinsi Jawa Tengah. Semarang dulu sering disebut sebagai Little Netherland atau kota kecil Eropa karena master plan kawasan hunian di sana mengadopsi tata ruang kota-kota di Eropa, dimana Gereja Blenduk sebagai pusatnya. Selain itu kawasan Kota Lama Semarang membentuk segitiga emas atau tiga ruas jalan utama yang saling terhubung. Dari sanalah kemudian kota Semarang berkembang.

Jika anda merupakan orang-orang Eropa, maka anda dapat tinggal di Zeestraat (sekarang Jl. Kebon Laut), Poncol, Pendrikan, kawasan Kota Lama (Timur jembatan Berok). Kawasan-kawasan itu merupa kawasan elit yang dibangun oleh pemerintah Belanda.

Jika anda merupakan keturunan ras Cina dan orang timur asing menempati kampung-kampung yang telah ditetapkan. Orang-orang Cina di kampung Pacinan, India (Koja) di kampung Pakojan, dan Arab di kampung Kauman. Lingkungan tempat mereka tinggal cukup memprihatinkan karena kotor dan kekurangan air bersih.

Karena saya ini adalah pribumi lokal maka jika saya hidup di jaman itu saya terpaksa tinggal di pinggiran kota tapi dekat dengan jalan raya. Misalnya di Kampung Lamper Lor, Lamper Tengah, Lamper Kidul, Lamper Sari, Lampermijen, Sayangan, Plampitan, dll. Kebanyakan rumah di daerah tersebut dibangun dengan dinding bambu semi –permanen dan non-permanen.

Jadi, dimana anda tinggal?

Sunday, August 31, 2008

Museum Trip - Museum Nasional atau Museum Gajah

Museum trip kedua ku di Jakarta adalah museum nasional atau lebih sering disebut dengan museum gajah yang di halaman depannya terdapat sebuah patung gajah yang merupakan hadiah Raja Thailand kepada pemerintah batavia pada masa itu. Museum ini sudah berfungsi sebagai tempat pertemuan ilmiah bagi para ahli-ahli budaya dan sejarah Belanda. Museum ini resmi berdiri pada tahun 1868. Maka dari itu, gaya bangunannya sangat khas kolonial.
Koleksi di museum ini paling lengkap se-Indonesia, jumlahnya yaitu 140.000. Display pamerannya mencangkup dari berbagai aspek kehidupan yang ada di Indonesia, sejak jaman prasejarah hingga etnografi berbagai wilayah daerah Indonesia.
Museum ini sekarang memiliki 2 bangunan, yaitu bangunan lama dan bangunan baru. Di bangunan lama yang paling mencolok adalah ruang arca yang luas. Terdapat ratusan arca-arca dan prasasti yang ditaruh di sana *Dan semoga bukan arca palsu yak!*. Ada pula nekara-nekara dan koleksi berbagai macam peralatan perunggu dari masa prasejarah. Hasil temuan di situs Trowulan yang kebanyakan berupa terakota memiliki ruang khusus bersama dengan keramik-keramik.
Bangunan yang baru merupakan bangunan bergaya lebih modern dan canggih. Displaynya pun dibuat menarik dan megah dengan lampu-lampu spotlight terang benderang. Di sini, barang-barang yang dipamerkan merupakan koleksi yang paling menarik. Tentu saja ruang yang paling spekatakuler adalah ruang penyimpanan koleksi emas. Khasanah penemuan emas di nusantara menjadi perhatian utama.
Kebetulan banget pas dateng ke sana, lantai 4 tempat penyimpanan emas sepi banget--nggak ada siapa-siapa. Jadinya ya puas menggila dan foto-foto narsis! ahahaha :P

*halaman depan*

*Yang tengah itu ada Nandi!*

*arca tinggi nyaris 5 meter lebih!*

*karang yang menempel pada keramik*
*dari Cina!*
*khasanah emas!*

*celengan celeng*
*rangka dari Gilimanuk*
*badak perunggu*

Saturday, August 30, 2008

Museum Trip - Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah atau Museum Batavia

Liburan kemaren ini, aku menyempatkan diri berkunjung ke dua museum di Jakarta. Yang pertama adalah Museum Jakarta a.k.a Museum Fatahillah. Museum Fatahillah ini letaknya di Kota lama Jakarta. Kawasan Kota merupakan sebuah landscape kolonial yang dibangun oleh Belanda sehingga menyerupai kota-kota yang ada Eropa terutama di Belanda.

Bangunan museum ini dahulunya merupakan sebuah gedung Balai Kota yang dibangun pada tahun 1707-1710. Arsitektur bangunannya bergaya Baroque sangat kental terasa. Ruang-ruangnya kemudian dipakai untuk mendisplay berbagai macam artefak-artefak yang sangat penting. Museum dikonsep menjadi museum sejarah kota Jakarta, sehingga barang-barang pameranpun lebih menitik beratkan hubungannya dengan perkembangan kota Jakarta serta wilayah sekitar, dimulai sejak jaman Prasejarah hingga sekarang ini.
Barang-barang yang dipamerkan sangat menarik dan kebanyakan berasal dari masa kolonial, seperti meriam-meriam yang berjejer-jejer dan berbagai sudut, serta lukisan J.P. Coen atau peralatan makan yang berasal dari perak. Ada lagi jangkar kapal yang ditarik dari perairan Jakarta yang menunjukkan bahwa pada masa itu pelabuhan sunda kelapa begitu megahnya. *sayangnya sekarang udah nggak lagi deh!*. Menariknya lagi terdapat sebuah prasasti telapak kaki dewa wisnu yang tenar itu!
Selain barang-barang pameran, yang cukup menyita perhatian adalah bangunan museum itu sendiri. Suasana dingin dari penjara bawah tanah cukup membuat para pengunjung berinterpretasi liar dengan horor di otak mereka. Atau ruang-ruang yang cukup rumit letaknya hingga nggak heran kadang terasa seperti lost begitu saja.
Yeah! Batavia is cool!!

*mejeng! ahaha*

*singa gahar!*

*telapak kaki dewa wisnu, sizenya '50'*

*Kapal Portugis*

*prasasti belanda nih!*

*J.P. Coen ganteng juga yak! ngaha!*

*Jangkar karatan! Awas tetanus!*

*Semua jadi milik Indonesia sekarang!*

Thursday, August 7, 2008

Sejenak Menegok Samudra

Kembali lagi ke Borobudur! Hari terakhir kegiatan Piami XII, kita dapet kesempatan mengunjungi Candi Budha paling spektakuler se-Asia Tenggara itu. Jalan-jalan ke Borobudur udah nggak terlalu baru buatku juga. Mengingat kondisi badan yang baru sembuh dari sakit hepatitis a kemaren, jadinya nggak boleh terlalu capek. Akhirnya nggak naek sampe' ke puncak Candi--melainkan jalan-jalan ke museum Karmawibangga dan Museum Kapal Borobudur.
Sayangnya, enggak tau kenapa--Museum Karmawibangga tiba-tiba beralih jadi kamar operasi yang steril. Masuk akal kadang si PT. Taman ini, bikin museum jadi multifungsi begitu cuma karena ada penyelenggaran event besar--tapi nggak sesuai dan bikin nggak bisa menikmati museum itu secara utuh.
Anyway, forget about that operation room-wannabe!

Kitapun beranjak pergi ke Museum Kapal. Di museum ini terdapat sebuah kapal kayu dengan teknologi tradisional, yang dibuat berdasarkan replika dari kapal yang terdapat pada sebuah panel relief di Borobudur. Kapal tersebut diperkirakan merupakan kapal dagang yang para awaknya nanti turut melakukan penyebaran agama Budha di Nusantara.
Kapal ini dibuat sebagai ekspedisi napak tilas pelayaran dari Indonesia hingga mencapai Ghana. Philip Beale, penggagas pelayaran ini begitu melihat pahatan kapal di Candi Borobudur pada tahun 1982. Akhirnya, setelah beberapa tahun pada tanggal 15 Agusutus 2003 kapal ini berangkat menuju laut lepas. Kapal inipun dinamai Samudraraksa atau Pelindung Lautan.
Dari Indoenesia hingga ke Madagaskar benar-benar sebuah perjalanan sayang panjang. Museum ini mencatat kehidupan para crew-nya hingga cerita-cerita menarik dari tiap negara yang disinggahi. Di museum ini juga menyajikan berbagai panel cerita mengenai kehidupan bahari di Indonesia yang telah berkembang jauh sebelum Masehi.

*anjungan*

*geladak*

*buritan*

*so expensive :( *

*menggila di Samudraraksa*

*melas gak mampu bayar tiket masuk kapal!*

Saturday, July 26, 2008

sekedar catatan

Tiga belas abad yang lalu
sekumpulan seniman dan rohaniwan yang sampai sekarang
tidak diketahui namanya, mendirikan sebuah bangunan dari
batu masif di suatu daerah yang dianggap keramat di Jawa Tengah
dan dilingkupi oleh beberapa gunung berapi

Mereka kiranya menyadari tak akan berkesempatan menyaksikan
penyelesaian konstruksi yang telah dimulai itu,
namun yakin bahwa generasi mendatang akan
menyempurnakannya, mengagumi ciptaan awal mereka itu
dan berusaha merawatnya

[ Daud Joesoef dalam bukunya, ‘Borobudur ]

Tuesday, July 22, 2008

Katalog Pameran Foto Piami XII

taken by: Indra Andhika

taken by: Umarul Mukhtar

taken by: Sektiadi

taken by: Didik Suhartono

taken by: Asies Sigit P.

taken by: Asies Sigit P.

taken by: Kurnia Prastowo A.

taken by: Damai Tegar Muslim
8 dari 18 foto yang dipamerkan di Benteng Vredeburg, 21-23 Juli 2008, dalam rangka Piami XII, Pertemuan Ilmiah Mahasiswa Arkeologi se-Indonesia.

Saturday, June 21, 2008

Pande Wesi Njodok


Desa Karangasem, Gilangharjo, Pandak, Bantul atau sering disebut daerah Njodok terkenal sebagai daerah Pande wesi. Pande wesi atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan Pandai Besi adalah profesi pengrajin besi. Pengerajin besi di daerah ini menghasilkan alat-alat pertanian seperti sabit, pacul, linggis dan sebagainya.

Dulunya, di Njodok ini tedapat 24 usaha pembuatan alat-alat besi namun sekarang ini hanya tinggal 4 kelompok usaha saja. Salah satunya adalah kelompok usaha milik Pak Sumarsi. Bapak Sumarsi membawahi 4 orang pekerja. Kelompok usaha ini merupakan kegiatan turun-temurun sehingga tidak dapat diketahui pasti kapan berdirinya.

Pande wesi ini mendapat bahan baku kebanyakan dari rongsokan dari bekas besi kapal atau besi bekas jembatan. Alat yang dihasilkan memiliki 2 jenis yaitu, barang kualitas kelas 1 dan kelas 2. Dalam pembuatan alat kualitas kelas 1 biasanya kompisisi baja lebih banyak dibanding alat kelas 2 agar lebih awet dan tahan lama. Perbandingannya biasanya adalah 1 kg besi dan 1 ons baja. Dalam sehari di tempat ini bisa menghasilkan 15 buah sabit dan 8 buah pacul. Tidak hanya menghasilkan alat namun juga bisa memperbaiki alat pertanian yang rusak.

Di tempat kerja pande wesi Pak Sumarsi ini masih bekerja dengan cara tradisional. Baik dari penempaan besinya secara bergantian, juga pompa udara atau yang disebut ububan untuk menghasilkan api di perapen masih tradisional dengan bahan bakar kayu terutama kayu jati karena dapat menghasilkan api yang baik.

Teknologi alat logam atau biasa disebut metalurgi merupakan sebuah kebudayaan yang telah ada sejak masa prasejarah. Penemuan teknologi pembuatan alat logam tidak lepas dari penemuan manusia akan logam masif yang gampang ditemukan di alam. Setelah proses yang sangat panjang akhirnya manusia kemudian belajar untuk mencoba mengendalikan api dan memanfaatkannya untuk pembuatan alat logam dengan berbagai teknik, yang meski sederhana dan bertahan hingga saat ini.
Metalurgi kemudian juga menjadi salah satu dari 10 bukti akan kemajuan sebuah peradaban, menurut Gordon CHile dalam teori civilization.

Monday, April 28, 2008

iseng di arkeo

jum'at 25 april, wow, maybe it was a hectic day ever in my life..
pengalaman pertama juga ngadain acara se-kaliber 'Bedah Buku'
Dalam rangka Arkeologi rePublik 2008 yang digagas HIMA lewat Damai.

Acaranya mirip tahun kemaren, ada bazar buku ma pameran foto. Yang berubah hanyalah acara nonton film diganti dengan bedah buku "Melacak Batu Menguak Mitos' tulisan Jajang A. Sonjaya a.k.a dosen arkeologi sendiri..

acara ini yang dari kemaren-kemaren hampir menyita semua perhatian dan tenaga. kuliah banyak bolos gila-gilaan, padahal baru kemaren dapet beasiswa! ironic...

Didapuk jadi koordinator buat acara kayak gini bener-bener untuk pertama kalinya buatku. Dan dari seminggu sebelumnya udah lari ke sana kemari. Ambil display bukulah, hubungin pembicara inilah, duit kurang, beli souvenir bareng 5 makhluk nggak jelas se-dunia. Macem-macem..

Dan hasilnya, meski yang dateng udah separuh dari target yang diinginkan, namun buatku tetep mengecewakan. Bukan karena acaranya molor setengah jam dari yang direncanakan, atau kurangnya dana. Melainkan kurang komunikasi sama pembicara. Dan itu adalah kesalahan fatal ku yang jelas bikin aku marah dan kecewa ma diri sendiri. 2 jam sebelum acara aku baru menghubungi pembicara dari luar arkeologi padahal hal itu bisa ku lakuin 3 hari sebelumnya. fatal dan bikin drop moodku.

Meski ini adalah proses pembelajaran buatku tapi tetep aja telak. Kesalahan telak yang mungkin bakal bikin aku kehilangan kredibilitas atas nama suatu kelompok tertentu..

Lain kali, jika kesempatan itu bakalan dateng untuk kedua kalinya, maka mungkin aku harus lebih siap dan lebih cool lagi ngadepin semua ini. Apalagi berhubungan ma orang banyak...

Haaaaaa....

but it's over now, namun sayang hujan anomaliku tidak turun hari itu..
maybe next year?

Saturday, March 1, 2008

Harapan..

Sebuah harapan dibuat kadang bisa disebabkan oleh sesuatu yang kita ingin jadi baik adanya. Menginginkan semua akan berjalan baik adanya. Tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama dan berkembang menjadi lebih baik dari yang sebelumnya.
Seperti harapan yang ku tumbuh buat anak arkeo angkatan 2007 yang sekarang kebagian jatah jadi panitia Abhiseka Ratri 2008 besok ini.
Lepas dari label koordinator SC (steering commite yang ternyata hanya nama saja!), pinginnya sih abhiseka tahun ini bisa lebih baik dari yang kita, angkatan 2006, bikin. Lebih-lebih bisa melampau AR 2007 kemaren. Harapan seperti itu pasti ada kan'...
Yah, makanya dari ngeliat dari rapat bareng SC-Panitia AR 2008, tanggal 28 Februari 2008 kemaren, aku memulai harapan dari sesuatu yang simpel. Harapan agar mereka bisa lebih solid dan nggak konyol untuk terus tekun bikin acara survey yang berisi nggak hanya sekedar foto-foto narsis aja. Ngeliat kemaren, emang banyak yang timpang dan kurang, seperti juga aku dan anak-anak lainnya dulu. Nggak lebih signifikan progresnya namun jelas pasti apa yang kita lakuin tiap langkahnya.
Punya konsep! Dapet lokasi Candinya, cari lapangan, cari jalur treking, kumpulin duit yang banyak untuk disesuaikan dengan kebutuhan konsumsi dan transport, pendekatan dengan penduduk sekitar, bikin surat peminjaman dan izin, jalan ke instansi cari duit, simulasi, matengin acara, menyiasati kekurangan orang dalam kerjaan, Abhiseka!
Masih banyak hal yang harus dilakuin. Komunikasikan keinginan itu untuk mencapai suatu kesepakatan bersama dengan yang lainnya. Dan, yakin Abhiseka itu bukan cuma acara ospek gak muthu!
Abhiseka itu momen penting buat semua anak arkeo. Untuk pertama kalinya mungkin bener-bener bikin shock tapi selalu ada cerita. Kenal tiap karakter temen-temen sendiri dari sana. Yang penting adalah team work. Ya ampun, hampir selama setahun kemaren rasanya begitu melelahkan sekali. Menyiapkan acara yang bener-bener ditunggu oleh tiap angkatan dan memiliki banyak pengalaman unik di dalam sana.
Harapan itu ku gantungkan ke yang muda agar bisa mendapatkan pengalaman penuh arti di dalam situ. Harapan ini ada agar kami, orang-orang yang udah nunggu nggak sabar buat Abhiseka, bisa terlaksana...

Monday, February 18, 2008

First Job! Ahaaay!

Ahaaay, deg-deg'an banget nih, 16 Februari 2008 bener-bener moment nggak bakal terlupakan sebagai hari pertama kerja! Horeeeey!
Jadi pemandu buat study tour anak SMA yang piknik ke Sangiran. Kita mengunjungi museum sangiran yang terkenal jadi world herritage nomer puluhan sekian. Selain itu, ada program jelajah kawasan daerah situ sebagai pengenalan bentang alam yang cukup unik, mengingat kawasan Sangiran tersebut memiliki sebuah lapisan-lapisan stratigrafi yang menyimpan banyak informasi mengenai keberadaan umur bumi serta manusia pendukungnya.
Hemmmm. Kerjaan pertama berbau arkeo karena di sini hubungannya udah gak lagi sama orang inner circle yang ngerti soal arkeo (baca: temen sendiri) melainkan sama orang-orang yang bener-bener awam nggak ngerti terlalu banyak soal prasejarah selain dapet informasi dari buku sejarah yang nggak pernah direvisi itu.
Meski di awal cukup shock dengan tingkah polah mereka yang 'agak luar biasa' (baca blog 'menunggu hujan' untuk versi yang lebih ekstrem!) Tapi syukur banget aku bisa nge-jelasin soal stratigrafi dan keadaan lingkungan ke mereka dengan cukup baik dan penuh improvisasi *ngecret!*
Ada 5 Turning Point yang kita kunjungi selain Museum, yaitu bentang alam yang menunjukan jelas stratigrafi atau perlapisan tanah dari formasi pucangan yang kebanyakan mengandung lempung hitam dengan beragam warna.
Kedua adalah Tugu peringatan si manusia sangiran no.27 jenis Meganthropus Palaeojavanicus yang cuma ketemu bagian rahangnya atas saja. Ketiga adalah sumber mata air asin di berada di tengah persawahan penduduk. Mata air asin ini bisa keluar akibat tenaga dari dalam bumi yang mendorong keluar dan mendorong lapisan lumpur laut dari jutaan tahun silam akhirnya keluar dari permukaan tanah. FYI. Sangiran dulunya merupakan laut dalam. Karena proses pengangkatan pulau Jawa akhirnya dulu daerah yang berubah laut berubah jadi rawa-rawa hal ini dibuktikan di turning point yang keempat berupa daerah endapan rawa berwarna kecoklatan dan diatome yang merupakan jejak endapan jasad renik. Di titik terakhir, yang sekarang berupa tegalan sawah, dahulu merupakan rawa-rawa dengan sisa endapan rawa dan banyak sekali temuan gastropoda bertebaran di sana. Di titik ini pula, banyak ditemukan fosil-fosil tulang hewan purba.
Menarik banget Sangiran itu. Karena tempat ini merupakan tempat penghasilan 60% dari penemuan fosil-fosil dan kerangka manusia purba. Apalagi koleksi-koleksi museum yang menarik untuk disimak. Asyik...
Seneng banget akhirnya dateng ke Sangiran, di bayarin, kerja dan yang pasti dapet banyak sekali pengalaman dan peristiwa-peristiwa yang begitu tak terlupakan...
Episode-episode Sangiran bisa dilihat di Blog 'Menunggu Hujan'

Friday, February 8, 2008

a tale of journey to the East!

Alkisah, 9 remaja yang terdiri dari 3 perempuan dan 6 laki-laki memutuskan untuk pergi melakukan perjalan menuju kota sebelah yang tidak begitu jauh untuk ditempuh namun cukup pantas untuk dikunjungi. 9 remaja itu naik kereta pukul 09.00 pagi di stasiun kota namun karena salah mengingat jadwal keberangkatan, ternyata mereka baru berangkat pukul 10.00 pagi.
Seorang perempuan diantara mereka nampak begitu bersemangat dengan perjalanan pertamanya dengan kereta api setelah hidup di dunia ini selama hampir 20 tahun. Dengan muka berseri dan segaris senyum yang nggak ada habisnya kereta berangkat menuju kota sebelah yang bernama Solo.
Begitu menginjakan kaki di sana, dengan spontan tanpa pikir panjang dan hanya dengan intuisi yang nekad. Kesembilan remaja tersebut menyusuri jalan kota yang asing dan padat dengan kaki-kaki yang kuat untuk dilangkahkan. Kaki-kaki melaju meyusuri ruas jalan utama dan jalan kecil padat penuh dengan manusia asing.
"Ke mana kita pergi?" pertanyaan-pertanyaan itu terlontar terus-menerus karena sedikit kekhawatiran akan tujuan mereka yang tidak jelas.
Namun, seorang dari mereka langsung menjawab dengan cukup meyakinkan kita semua akan berjalan menuju Kraton Surakarta yang merupakan istana keluarga kerajaan Pakubuwono yang merupakan kerajaan pisahan yang disebabkan oleh perjanjian Giyanti.
"Di manakah Kraton tersebut?" tanya salah seorang perempuan berambut cepak. Jauh diujung jalan Slamet Riyadi sana. Dan perjalan menyusuri jalan utama tersebut ditempuh dengan waktu yang cukup panjang. Demikian perjalanan itu mereka jalani dengan riang gembira ditemani sendau gurau penuh cela tanpa ampun mereka semua.
Tak terasa Kraton tersebut sudah ada di depan mata. Namun matahari bersinar cukup terik menyebabkan mereka begitu kelelahan dan penuh dengan keringat. Untung saja, tak lama kemudian mereka telah memasuki kawasan Kraton yang adem penuh dengan pepohonan. Banyak sekali benda-benda bersejarah yang dipajang di museum kraton yang mereka masuki. Unik dan penuh dengan benda-benda aneka ragam.
Inilah kejayaan masa lalu yang terus hidup.
Maka kesembilan remaja itu pulang kembali ke kota dengan penuh senyuman senang karena menghabiskan liburan yang mengasyikkan. Sembari menonton senja sore yang turun dari dalam gerbong kereta yang menuju kembali ke rumah, mereka masih tersenyum.
Ah liburan!

Tuesday, February 5, 2008

Tuesday, January 29, 2008

ekskavastor picisan!


akhirnya, kota...

ku lihat jalanan liku yang padat

penuh sesak mirip kerumanan kecoak



sementara ingatan segarku melayang jauh ke belakang sana,

ketika matahari mulai terbenam menyemburat ungu di ujung horizon,

terasa jauh penuh kesunyian,

waktu membungkusnya agar abadi,

untuk terus lekat dalam ingatan kami...



mungkin mirip mimpi,

ketika waktu berdetak merayap berganti menjadi 6 hari yang panjang,

atau saat matahari membakar kulit ini berganti menjadi kusam,

tak sebanding dengan emosi yang membuncah dibawah kompor alami ego manusia



terperangkap di dalam kotak sempit 2x2 m yang mirip tempat perkuburan

sesak hampir menggila di dalam sana..

tanpa kepastian bisa menemukan sesuatu yang berharga selain tatal-tatal keras melambatkan kerja



dan hingga tertidur di atas papan-papan goyang menyebalkan,

keras tanpa ampun menganggu tidur

berlawanan dengan gelak tawa nggak tau diri dini hari ketika nggosipin orang...



kenangan itu telah tertanam jauh dalam spasial otakku..

memadat

memastikannya tetap utuh untuk dikenang dalam beberapa periodik hidupku nantinya..



Indah sekali!

Sunday, January 27, 2008

Cangkul, cangkul, cangkul yang dalam mencari candi di Plaosan!

Dengan ini dianggap sudah sah jadi mahasiswa Arkeologi yang sebenernya karena sudah melakukan ekskavasi. Ekskavasi adalah penggalian yang dilakukan secara sistematis dengan beberapa metode yang dilakukan secara hati-hati. Metode yang dipake' ekskavasi ku kemaren adalah metode spit yang penggaliannya dilakukan dengan membuka tanah dengan interval tertentu (biasanya 20 cm). Pertama, kami membuka kotak dengan ukuran 2x2 m. Baru kemudian menggali tanah dengan kedalaman 20 cm dari SDP (secondary dantum point). Satu spit kedalamannya adalah per 20 cm. Kurang lebih gitu deh teorinya.
Nah, selama 6 hari mulai dari tanggal 21-26 Januari 2008 kemaren, angkatan ekskavasi 2008 tahun ini mengadakan kegiatan di Candi Plaosan. Candi Plaosan terletak di dusun Plaosan sebelah utara dari Candi Prambanan. Candi Plasosan merupakan candi bercorak agama Budha dilihat dari ikonnya yang khas berupa stupa perwara dan di candi induknya memiliki atap stupa di atasnya. Terdapat 2 bangunan Candi yang terletak di berjauhan dan dihubungakan sebuah kanal kuno. Biasanya disebut Plaosan Lor dan Plaosan Kidul. Kegiatan ekskavasi tahun ini diadakan di lokasi Candi Ekskavasi Kidul yang masih banyak belum ditemukan bangunan candinya.
Aku ada di kelompok satu bareng Damai, Marul, Tika, ma mbak Nira angkatan 2005. Kelompok satu ini memutuskan buat gali kotak di P''''26. Penamaan kotak ini diambil dari penampang garis grid imajiner yang ada di Plaosan Kidul dengan kotak-kotaknya (2x2 m). Ambil kotak ini karena diperkiraakan bakal nemuin strukutur fondasi bangunan candi. Setelah digali sampe' (4) / spit 4, akhirnya ketemu walaupun baru berupa pinggiran struktru bukannya sudut. Agak melesat dari dugaan semula. Sampe' buka (3) khawatir juga nggak bakal nemuin apapun selain pecahan gerabah yang lumayan banyak dan batuan andesit gundul dan batu tufa pasiran yang bikin emosi karena gede-gede dan banyak! Sial!
Setelah ketemu pinggiran struktur itu, akhirnya kita buka kotak baru di o''''27. Seperti yang diperkirakan akhirnya kita nemuin juga sudut fondasi bangunan candi perwara itu yang juga terusan dari temuan pinggiran di kotak sebelumnya.
Seneng banget. Selama 6 hari penuh kita bareng terus untuk sebuah kerja sama tim yang untung aja dikelompok satu cukup kompak tanpa masalah. Beruntung banget kelompok ini nggak begitu banyak clash dan adem ayem. Walaupun emang kadang panas dan tekanan bikin cepet jadi emosian. Meski gitu kalo bisa sedikit ngalah dan mengendurkan emosi setidaknya nggak bakal berantem. Keadaan temen-temen yang lain juga lumayan kok, nggak yang terlalu rame kecuali saat-saat gosip dan ngeceng-cenging orang.
Kegiatan kayak gini emang bikin kita tambah akrab temen seangkatan, angkatan atas, ma dosen-dosen. Makin kenal kebiasaan satu sama lain. Iyalah, 6 hari penuh terus bareng ngapa-ngapain, kegiatan, tidur, makan, bikin laporan, mandi. 6 hari kerasa padat banget dan yang pasti badan sakit dan pegel-pegel. Pagi bangun, sarapan jam 6.30, langsung ekskavasi jam 8, tea break bentar jam 10, makan siang jam 12an, trus ekskavasi lagi sampe' jam 4 sore, diskusi mulai dari jam 8 kadang baru selesai jam 10an, udah gitu mesti bikin laporan sampe' jam 12an, dan belum langsung tidur kalo ada yang piket dan biasanya pasti ada yang gosip dan ngecengin orang sampe' jam 2 pagi.
Tapi rasanya 6 hari ini bakal jadi kenangan yang menyenangkan dari berbagai kegiatan arkeologi yang lain. Gimana nggak, dari sini kita berawal untuk saling kenal dan kayak udah tau kebiasaan satu sama lainnya. Banyak ketawa, banyak cerita, banyak yang berubah karena ekskavasi memang merubah semuanya.
Untuk beberapa orang mungkin ekskavasi bakal bikin mereka lebih bervokal dari yang dulu cuma diem. Bram yang anteng jadi banyak ngomong dan bahkan ngomong pake' logat sok english yang bikin ngekek. Kadang emang kepaksa bikin kita ngomong karena beda pendapat dan bikin panas.
Untuk satu dua orang mungkin ekskavasi bikin mereka berubah jadi lebih diam dan nggak lagi mau bersikap menonjol. Ada yang ngerasa kapok, atau merasa lebih baik diem.
Untuk satu dua orang pasti ada yang jadi bahan gosip atau ceng-cengan temen-temen bahkan dosen.
Untuk satu dua orang pasti ada yang lebih mengenal karakter masing-masing temen.
Untuk satu dua orang mungkin ada yang jatuh cinta ma orang yang di deket kita.
Untuk satu dua orang mungkin bakal nemuin arti kejujuran.
Untuk beberapa orang bakala nemuin arti sebuah kesabaran.
Dan untuk satu orang ada yang menemukan kenangan indah selama ekskavasi kemaren..

Saturday, January 19, 2008

Ekskavasi!

Ekskavasi 2008
Plaosan, 21 - 26 Januari 2008

Wednesday, January 16, 2008

Old City Kota Gede


Kotagede dahulu kala merupakan ibu kota kerajaan dari Kerajaan Mataram Islam yang didirikan Ki Ageng Pemanahan. Sebagai kota kerajaan yang bercorak Islam, terdapat kosmologis yang khas yang menjadi ciri khas dari kota Islam. Adanya Kraton, sebuah masjid yang didirikan di sebelah barat dari alun-alun kota, kemudian adanya pasar, dan makam. Semua itu menjadi ciri khas tersendiri yang ada pada kota Islam pada umum di Indonesia.

Kawasan Kotagede saat ini telah banyak berubah. Ada banyak bangunan yang telah hilang dan banyak juga bangunan baru yang dibangun. Kotagede saat ini menjadi sebuah kawasan budaya sekaligus pariwisata yang memiliki banyak potensi untuk dikembangkan. Selain memiliki latar belakang historis yang sangat berharga, kawasan ini juga masih banyak terdapat bangunan-bangunan tua yang layak dilindungi dan dirawat karena memiliki nilai sejarah yang bernilai tinggi.

Begitu juga Masjid Agung Kotagede yang masih berdiri dengan sampai sekarang ini. Masjid ini memiliki gaya bangunan yang masih terkena pengaruh Hindu-Budha. Salah satunya adalah gapura yang berukiran mirip pintu wihara. Di dalam masjidnya sendiri terdapat mimbar berukiran unik, upeti dari Adipati Palembang untuk Sultan Agung.

Mengingat usianya yang telah sangat tua maka tak heran banyak sekali bentuk perawatan yang telah dilakukan di sana.


Jeng..jeng..jeng


Field trip Selasa, 18 Desember 2007, kita mengunjungi kawasan Kota Gede sebagai pengenalan langsung kepada kondisi benda cagar budaya yang rusak dan penyebab kerusakannya itu sendiri. Kuliah lapangan ini kita dibagi beberapa kelompok dan tiap kelompok mesti membuat gambar langsung tembok luar masjid yang ditunjuk kemudian dianalisa kerusakan atau kelapukan apa yang ada bagian tersebut.



Setelah makan siang dan pekerjaan pengamatan tersebut kelar, maka kita langsung beranjak keluar untuk mengamati langsung kawasan kota gede baik di rumah-rumah penduduknya maupun lorong-lorong sempit yang merupakan akses jalan.



Berada di lorong-lorong sempit itu rasanya kita bisa membayangkan betapa kerajaan Mataram berupaya membuat pertahanan yang rumit layaknya labirin. Asyik sekali. Konservasi diupayakan untuk menjaga dan merawat benda-benda cagar budaya tersebut agar masih tetap bisa digunakan dan sebagai data artefaktual. Karena itulah penting bagi para arkeolog untuk bisa mengelola kawasana-kawasan yang bernilai historis tinggi. Selain bisa meneruskan sejarah ke banyak orang, bisa juga dimanfaatkan sebagai aset pariwisata. Namun sayang sekali kayaknya sih masih jauh berharap kalo kawasan ini bisa dijadiin aset pariwisata kayak negara-negara di Eropa atau bahkan Malaysia. Nggak cuma dari pemerintahan aja sih, tapi juga kepeduliaan orang-orang sekitar yang tinggal di sana.



*pedestrian*


*the team*


*at Pasar Kotagede*




*clik clock*




*gapura samping*




Friday, January 4, 2008

ooh bencana lanksekap!

oooh, awal tahun yang sedikit mengerikan! deadline tugas survei b dan c dikumpul tanggal 3, tapi sampe' tanggal 2 malem, blom juga digambar!
ahaayyy...
Jadi gini, tugas yang hampir menghabiskan dan bikin gila ini bernama Survei B dan Survei. Secara teori, gampanglah, bikin gambar denah, gambar tampak depan dari bangunan. Untuk si B, bangunan yang ditentukan adalah standing building yang punya nilai historik baik dari masa klasik, islam, maupun kolonial. Sementara yang si C adalah gambar denah yang sebuah kompleks yang ada juga punya historik tinggi. Masing-masing semuanya harus bangunan yang berkaitan dengan arkeologi. Hubungan lansekap dengan arkeologi? Kerjaan ini emang mirip banget kerjaan anak arsitek yang istilah tukang gambar bangunan. Sebagai sebuah pencatat dan koleksi data mengenai bangunan-bangunan monumental arkeologi maka menggambar denah, gambar tampak ini pastinya penting banget. Apalagi nanti kalo lepas dari kuliah dan mesti kerja di instansi pemerintah seperti, BP3, BALAR, atau PUSLIT.
Satu bangunan bisa aja dikerjain beberapa orang sebagai field crew untuk membantu pengukuran lapangan. Alat yang dipake', tongkat pengukur 2 m, roll meter 50 m, dan kompas bidik. Jangan lupa field note, kamera, dan kesabaran yang tinggi.
Sebenernya gampang, baik dalam teori maupun praktek. Namun banyak banget kendala yang terjadi di lapangan. Sedikit curhat, untuk survei b, standing buliding yang aku pilih adalah rumah kolonial di kawasan Kota Baru Jogja yang sekarang digunakan untuk Bank. Berhubungan denah dalam bangunan udah punya, maka maju tak gentar-semangat buat ambil gedung ini. Cuma tinggal minta ijin untuk foto tampak depan sama liat-liat bangunan dalem buat deskripsi nanti di laporan verbal. Siapa tahu ada bangunan yang direnovasi dan mungkin dihilangkan. Maju ke Fakultas untuk minta dibuatin surat ijin penelitian buat pihak bank. Kecewa banget, soalnya ditunda sampe' seminggu dan nggak nepatin janji kasih suratnya. Alasannya ya, surat yang dibikin nggak cuma ini, yang diurus nggak cuma ini, bla...bla...! Emang sih akhirnya dapet juga suratnya. Tapi kemudian libur natal dan tahun baru 2 minggu. Sehari sebelum natal, surat ijin ku masukin ke bank. Udah ngobrol sama satpamnya sih, minta ijin dan ngelobi siapa tau boleh tanpa surat. Sayang nggak berhasil. Ok. tetep harus nungguin kepastian suratnya. Konfirmasi pertama kali, 'Maaf, penyelianya lagi rapat mungkin nanti siang.' Mencoba telpon, 'Maaf, mbak mungkin suratnya baru bisa diproses tanggal 2 januari karena libur tahun baru.' Tepat sehari sebelum pengumpulan tugas. Ehm, sempet mati kutu juga sih, tapi udah ah terusin aja terlanjur! Akhirnya...
'Maaf mbak, kami dari pihak bank tidak mengijinkan karena ada beberapa ruangan yang tidak boleh sembarangan orang masuk.'
Pesen moral yang dipetik dari pengalaman kali ini. Jangan menunda tugas kalo nggak pingin kepenthok dalam sebuah penelitian. Harus ada plan A, B, C sampe' Z. Jangan berharap pada janji dapat memberikan konfirmasi tepat waktu. Dan mending nggak usah ambil bank sebagai standing building buat survei b kalo nggak mau kepenthok dengan alasan kerahasiaan kecuali kamu anak CEO Bank tersebut, anak kepala cabangnya, atau anak Presiden R.I
Yup, urusan perijinan adalah hal yang paling ribet untuk urusan seperti ini. Makanya, cari link sebanyak-banyaknya. Bahkan temen bapak yang ternyata penjaga jiwasraya juga bisa bantuin masuk ke dalam ruang tanpa mesti bikin surat. Atau kakak kamu pernah dapet tugas bikin denah bangunan waktu dulu kuliah di arsitek. Jika ternyata Bapakmu adalah Kepala BP3 jateng makanya beruntunglah kamu.