Thursday, December 20, 2012

Kota Bata

Jika diibaratkan, bagi seorang arkeolog datang ke Trowulan itu bagaikan naik Haji ke Mekah. Setelahnya datang kesana, pantas sudah jadi seorang arkeolog Indonesia. Akhirnya, saya bisa 'naik haji' itu setelah hampir 6 tahun berkuliah kaki ini bisa menjejakkan langkah ke tempat matahari terasa ada 9 buah membakar  bumi.

Trowulan itu bagaikan kota misterius yang samar-samar ada namun terpendam dalam ingatan masa lalu yang terlampau jauh terendapkan. Kota ini, konon katanya megah berdiri bersamaan dengan dongen Majapahit yang berdiri tegak menyatukan nusantara menjadi satu nafas. Trowulan adalah kota kuno yang hadir dalam dongeng para arkeolog tentang sebuah peradaban kuno, rumah-rumah batu bata, gunungan gerabah dan keramik hingga celengan babi yang ikonik. 

Road trip ke Trowulan adalah perjalanan 'naik haji' ku yang mengesankan. 2 hari tidak tidur, tidak mandi, tidak cuci muka, tidak ganti baju. Perjalanan padat bersama kawanan antar angkatan tua yang tersisa kini melebur jadi teman seperjalanan yang menyenangkan. Untung saja, aku menjelajah Trowulan ketika kabut masih tebal, udara masih membeku, dan subuh baru saja tiba. Jika tidak mungkin gosong banget muka ini.

CKC (Candi ke Candi) dimulai dari Candi Brahu untuk menyambut mentari terbit, lalu Candi Tikus hingga Candi Bajang Ratu. Sore sebelum pulang, mampir ke kolam segaran tempat anak-anak yang sedang penggalian (proyek ambisius tanpa arah bernama PATI II) membuang temuan keramik biar nggak pusing untuk di analisis. 

Mungkin ini adalah trip sebagai mahasiswa ku yang terakhir. Semoga dengan ini jadi arkeolog yang mabrur! 

Candi Brahu

Candi Tikus

Bajang Ratu

Konon katanya Kraton dekat Sumur Upas?


Belum Mandi

Tuesday, September 18, 2012

Lustrum ke Lustrum

Kira-kira sekitar tahun 2007, malam itu, sebagai mahasiswa yang terbilang baru memasuki dunia yang baru aku mengikuti kegiatan tersebut dengan semangat yang luar biasa. Aku dan beberapa teman didapuk jadi penerima tamu untuk acara reunian akbar yang diselenggarakan oleh jurusan dalam rangka lustrum. 5 tahun kemudian, di malam yang serupa aku masih juga ada disana. Berganti peran berjualan kaos salah satu usaha angkatan. Berdiri disana masih dengan label mahasiswa yang melekat namun semua tak lagi sama. Waktu telah berbaik hati untuk merubah kami yang dahulu hanya sekedar anak-anak remaja baru masuk kampus menjadi seseorang yang bisa dikatakan jauh berbeda.

Hidup memang penuh dengan kejutan yang tak terduga. Kita semua dibawa pada cerita masing-masing, tawa yang dulu ada mungkin kini telah berubah menjadikan kami manusia yang tak lagi sama. Persahabatan dan olok-olokan guyon yang menemani bertahun-tahun ada yang masih lucu ada pula yang tak mengundang tawa seperti dulu. Bahkan zona nyaman ku ini pun tiba-tiba mendepak ku dengan kasar dan tidak lagi menjadi nyaman. Hidup terasa lucu. Mungkin inilah yang disebut dengan perubahan, meski dunia masih sama namun isinya telah berganti. 

Terima kasih kampus arkeologi yang sudah memberikan pengalaman luar biasa tak terduga dalam perjalanan hidup ku. Viva Arkeologi! Selamat ulang tahun emas! 50 tahun sudah engkau melangkah membawa tunas-tunas baru untuk berpetualangan memecahkan misteri masa lalu :)

#arkeologi2006

Monday, July 23, 2012

Oh Manila Oh Ayala

Hidup ku, belakangan ini, mungkin merupakan kombinasi antara keberuntungan (hampir kebanyakan) dan kemampuan (yang sebetulnya minim) yang membawa ku menuju kejutan tak terduga di pertengahan tahun 2012 ini. Aku tidak henti-hentinya berucap syukur akan keberuntungan ku dan sedikit kemampuan ini. 

Pada bulan Mei yang lalu, Pak Dosen tiba-tiba memanggilku ke ruangannya. Disambut dengan Pak Dosen lain yang secara mengejutkan--nggak ada angin, nggak ada hujan, secara tiba-tiba menawarkan kesempatan untuk mengikuti workshop tentang Palaeoenvironmental. Ku sambar, tentu saja dengan secepat kilat tawaran tersebut. Dan 2 bulan berikutnya, di awal bulan Juli kemarin ini, aku terbang ke Filipina untuk pertama kalinya. 

Workshop ini diselenggarakan oleh Archaeology Studies Program (ASP) University of The Philippines - Diliman selama 6 hari pada tanggal 9 - 14 Juli 2012. Tema besar mengenai kajian lingkungan purba tentu saja jadi santapan lezat ku mengingat skripsi-tercinta-ku juga mengkaji bidang ini. Akan tetapi, rupa-rupanya fokus workshop ini justru ditekankan pada kajian Botani. Artinya kita berseberang jalan. Ku khianati sebentar fauna-fauna purba ku untuk belajar flora terutama Analisis Pollen atau serbuk sari. Karena peserta workshop tidak hanya dari bidang arkeologi namun juga biologi dan geologi maka contoh sampel pollen diambil dari serbuk sari yang masih segar. Artinya, kita tidak mengambil sampel sedimen. 

Aku bersyukur sekali bisa sampai disana dan kembali belajar dengan orang-orang yang luar biasa pintar dan berilmu lebih. Apalagi workshop ini untuk kelas mahasiswa master atau setidaknya yang sudah lulus sarjana. Nervous. Tentu saja, dalam hati selalu kepikiran kalau-kalau aku berbuat bodoh seperti biasanya. 10 hari di Manila terasa luar biasa. Bertemu dengan wajah familiar dan juga wajah-wajah baru, berkenalan, mingle, dan mencoba kehidupan dengan bahasa yang berbeda dari pagi hingga malam. Rasanya luar biasa. Bahkan aku terharu melihat diri ku sendiri, yang mampu melakukan perjalanan ini sendirian dengan kedewasaan ku yang minim. 

ASP Laboratorium
Palawan Lab



Sunday, May 20, 2012

Kidang Ku Kan Kembali

10 hari aku berkesempatan belajar dengan serius--agak terpaksa, namun lama-lama terasa menyenangkan karena bergabung dalam sebuah tim yang baru lagi. Akhir bulan April yang lalu, aku berkesempatan ikut penggalian lagi dengan tim dari Balar Yogyakarta di situs Gua Kidang, Blora. Yap! Itu adalah situs yang menjadi obyek dari skripsis-tercinta-ku. Kesempatan untuk ikut penelitian disana pun karena ketua tim tau aku mengerjakan situs hunian masa prasejarah ini sebagai tiket menuju kelulusan (yang belum selesai juga sampai sekarang). Demikian sejarah ku bergabung dalam tim ini bersama seorang adik kelas yang juga sama-sama berniat mengambil situs ini sebagai skripsi.

Penggalian dengan tim yang berbeda itu berarti belajar lagi dengan sistem yang baru. Ini ketiga kalinya aku mengikuti penggalian di luar praktikum kuliah yang berarti ketiga kalinya pula aku beradaptasi dengan sistem yang berbeda. Masing-masing memiliki kelebihan, namun yang paling penting dimana pun kita berada harus memiliki kemauan untuk terus belajar dan tidak merasa congkak dengan pengalaman kita yang sebelumnya.

Rupa-rupanya penggalian tahap kali ini membuah hasil yang luar biasa. Temuannya pun spektakuler yaitu berupa rangka hominid dengan sistem penguburan terlipat--kemungkinan besar merupakan Ras Australomelanesid. Yang berarti total temuan hominid berjumlah 3 individu. Ini pertama kalinya juga penggalian yang ku ikuti menemukan rangka manusia. Situs ini ternyata situs yang spektakuler. 

Namun, sesuai dengan skripsi-tercinta-ku, fokus ku lebih kepada berbagai temuan bekicot dan kerang yang ada. Ini juga yang bikin galau akademis karena data-data jauh lebih menarik dibandingkan dengan pilihan data yang ku ambil.

However, aku benar-benar berterima kasih kepada dosen pembimbing skripsi ku yang telah "membawa" ku kemari. Serta ketua tim penggalian dari Balar yang sudah sangat baik sekali memberiku kesempatan untuk ikut disini. Akhirnya, tugas ku tinggal menyelesaikan ini semua sebagai balas budi. :D

Inilah Kerjaan Saya Sebenarnya
source: Andreas Eka Atmaja (Balar YK)

Friday, March 2, 2012

Kimpulan yang Lebih Modern

Beberapa hari yang lalu, saya melontarkan ajakan untuk menggenjot sepeda dalam upaya melarikan diri dari realita tugas akhir. Akhirnya, arkeo genjot berkumpul lagi, tambah seorang kakak kelas yang kepengen juga jalan-jalan. Tujuan kami nggak se-ambisius kemarin--sepedaan sampai pabrik gula di Klaten kok, cuman menggenjot ke Candi Kimpulan yang letaknya di Kampus UII Jalan Kaliurang Km 14. Saya yang paling semangat karena belum pernah sekalipun ke situs tersebut. Padahal tau sendiri sewaktu ketemu candi di proyek pembangunan kampus, orang-orang super heboh langsung kepengen nonton. 

Akhirnya, saya ke sana dengan sepeda imut andalan :D 

Rupa-rupanya, setelah dapat direkonstruksi, Candi tersebut diberi pagar dan dibuat lahan museum dengan arsitektur yang lumayan meski pengunjung tidak dapat langsung turun ke candi seperti obyek wisata candi pada umumnya. Meski pun demikian, kami sih cukup apresiatif dengan bangunan yang bagus itu. Jaminan untuk pelestariannya pasti panjang umur. 

Andai situs-situs purbakala ditemukan oleh lembaga yang punya banyak uang seperti itu, pasti situs arkeologis akan jadi obyek yang lebih menarik lagi. Tidak hanya sekedar jadi tempat muda-mudi pacaran. Ah, dilema pengelolaan BCB--sounds familiar :p