Sunday, December 18, 2011

Life happen: Slug and Clam

Hola!

Kehidupan arkeologis saya akhirnya pada titik sebagai mahasiswa semester akhir yang sedang menyusun skripsi. Sampai juga saya disini. Menulis tugas akhir yang tak kunjung berakhir. Perasaan saya seperti setengah bermimpi, tatkala menengok hari-hari di belakang saya yang jauh itu. Sudah 5 tahun saya asyik kuliah, menghabiskan waktu dengan kegiatan kampus, menjadi petugas perpustakaan, ikut beberapa penggalian disana-sini, bikin pameran dengan berbagai tema, bergelut dengan tugas-tugas kuliah yang bikin tidak tidur semalaman. Itu sudah kemarin. Hari ini saya mengerjakan tugas akhir. Agar esok saya bisa keluar dari kampus untuk merasakan dunia yang sebenarnya.

Namun sebelum hari esok tiba, biarka saya sedikit menjelaskan tentang tugas akhir yang membuat saya berkawan dengan bekicot. Dari gender yang penuh dengan teori humaniora akhirnya saya mendaratkan diri pada kajian arkeologi lingkungan. Berteman dengan kumpulan hewan kecil bernama siput dan kerang. Hampir satu bulan ini saya habiskan untuk analisis temuan di Balai Arkeologi Yogyakarta.

Hidup selalu penuh kejutan. Tahun ini bertemakan tahunnya skripsi. Teman-teman yang lain pun sedang bergegas agar bisa wisuda di bulan Februari besok. Saya? Tanpa target seperti biasa :D

- Ruang Temuan Balar YK

Friday, October 14, 2011

Sweetest Surprise

Saya dapat kejutan manis kemarin. Begitu pulang ke rumah saya mendapati sebuah paket besar dengan sampul warna coklat yang dikirim oleh sepupu saya, Tanya, dari Jakarta. Langsung saya sobek dan mendapati sebuah buku ensiklopedia arkeologi. Ah sweet! Saya berasa dapat hadiah ulang tahun lebih cepat beberapa hari. Thank you dear, you really make my day :)

Tanya mengirimi sebuah buku arkeologi memang jarang sekali bisa didapatkan di toko-toko buku lokal. Makanya, saya bener-bener kaget dengan kejutan ini. Buku ini berjudul "The Illustrated Practical Encyclopedia of Archaeology" dan ditulis oleh Christopher Catling--seorang penulis buku-buku perjalanan yang memiliki ketertarikan terhadap peninggalan-peninggalan kuno, lalu seorang lagi yaitu Paul Bahn--yang nulis bareng Conlin Renfrew dalam buku sakti saya untuk ngerjain skripsi.

Bagi yang tertarik untuk mendalami dunia arkeologi, buku ini dapat membantu untuk menerka-nerka ilmu macam apa arkeologi ini. Isinya yang padat dengan pengenalan teknis ilmu arkeologi serta berbagai profil situs yang di dunia. Kita bisa menjelajah mulai dari situs Afrika hingga Pomppei sambil nengok bentar ke Kamboja. Ada pula cerita-cerita dari tokoh yang berperan penting dalam ilmu arkeologi meskipun banyak nama yang tidak saya ketahui--mungkin karena buku ini lebih memuat kebanyakan tokoh arkeolog dari Eropa. Tapi ketika menemukan nama Leakey sekeluarga yah saya ngerasa gak terlalu ketinggalan dalam membaca sejarah arkeologi deh.

Foto-foto dalam buku ini menyajikan gambar yang benar-benar memuaskan mata. Bisa dibilang bagi yang tidak terlalu suka membaca tulisan dapat membaca secara visual berbagai macam foto yang luar biasa memikat ini. Sekali lagi, terima kasih untuk kiriman dan kejutannya yang luar biasa ini :)

Friday, September 23, 2011

Ketika cerita arkeologis muncul di internet

May 6, 2011 at 7:54 pm, diambil dari Facebook via Notes

Malam ini, seperti biasanya dihabiskan dengan berselancar internet dari satu situs ke situs lain. Disitu lah ketemu artikel di Yahoo! News Indonesia yang cukup menarik karena judulnya agak catchy. "Relief Misterius di Kaki Borobudur". Dari judul ini lah pasti genre tulisannya dibuat populer dengan judulnya yang sangat memenuhi kriteria tulisan ilmiah-populer: membuat orang penasaran untuk membaca lebih lanjut.

Kebetulan pula saya kuliah di bidang purbakala ini tentunya niat baik untuk menambah refrensi perkuliahan donk Isi artikelnya menarik--bercerita tentang relief Karmawibhangga yang ditutup. Sang penulis bercerita ada 2 versi mengenai penutupan relief tersebut, pertama persoalan teknis dan kedua adanya anggapan relief tersebut menampilkan adegan vulgar. Hingga akhirnya dia tidak memutuskan yang mana yang menyebabkan penutupan itu terjadi. Pun si penulis menuliskan sedikit sejarah konservasi ketika jaman Belanda dan dokumentasi mengenai relief Karmawibhangga yang dilakukan oleh pihak Belanda. Sejauh itu tidak ada masalah dari artikel tersebut buat saya. Well, itu masalah familiar yang sudah sering didiskusikan kala kuliah klasik Hindu-Budha. Buat saya si penulis cukup dapat memberikan info yang berguna dan sedikit mengangkat dunia purbakala dengan bumbu-bumbu seperti judul yang agak mistis. Buat saya nggak masalah.

Namun, saya langsung terperangah tatkala membaca rentetan komentar-komentar mengenai artikel tersebut. Komentarnya cukup banyak, yaitu sekitar 80-an, yang saya rasa jarang ada lho orang banyak berkomentar di sebuah artikel purbakala. Ternyata oh ternyata komentar mereka malah jauh dari diskusi yang saya bayangkan. Banyak yang bicara cerdas dari sisi logis namun lebih banyak lagi yang komentar ngarang. Selalu ada orang iseng diantara forum. Muntahlah segala komentar tentang agama, murtad, pornografi, hingga FPI. Caci maki diantara user terjadi. Aiiihhhh bikin ngakak aja!

Kalau saya jadi si penulis artikel, saya cuma bisa geleng-geleng karena esensi dari apa yang saya tulis malah jadi salah kaprah. Namun, begitulah jika memasuki ranah dunia menulis kreatif suatu karya-ilmiah-populer. Apalagi jika dilempar ke zona bebas seperti internet. Orang asal bicara, orang asal komentar, lebih parah lagi orang asal ngaco. Diskusi cerdas pun hanya mimpi. Dan seperti melihat cerminan 80% mental orang Indonesia (termasuk saya) yaitu sukanya menyalahkan tanpa tahu keadaannya dan mistis tentu saja!

Sejurus kemudian baru saya sadari, jangan-jangan persepsi orang selama ini adalah dunia purbakala itu berasosiasi dengan segala macam hal mistis dan pornografi (?) cuman karena arca-arca yang sangat represntatif itu? Karena dari membicarakan relief bisa-bisanya menyambung ke hal cabul, mistis bahkan SARA. Saya cuman bisa geleng-geleng kepala saja. Sambil ngakak juga bacanya. Ada-ada saja ini..

Friday, May 27, 2011

Mind-Numbing

Calvin and Hobbes - by Bill Watterson

Thursday, May 26, 2011

Pilihan

Ketika kita menginjak usia kesekian, apakah pertanyaan itu pernah menggelembung dikepala? Sesuatu yang ada hubungannya dengan tujuan hidup dan pilihan edukasi yang dipilih. 2 minggu yang lalu saya membaca sebuah novel, Katalis. Ceritanya cukup membuat alis menurun meski tokoh-tokohnya remaja SMA namun mereka dihadapkan pada sebuah pilihan untuk menentukan masa depan. Seperti yang digambarkan salah seorang tokoh laki-laki yang cerdas, awalnya ia memlilih untuk kuliah di jurusan Sejarah Seni (Art History) dan menolak untuk harus mengikuti kemauan orang tua agar kuliah di jurusan Ekonomi Bisnis. Seems so familiar?
Namun pada akhirnya, dia memilih untuk kuliah di jurusan Ekonomi Bisnis demi melakukan sesuatu yang berguna. Bukan berarti jurusan sejarah itu tidak berguna hanya saja dia berpikir bahwa ada yang lebih banyak lagi yang bisa dilakukan untuk menolong orang atau melakukan sesuatu jika melalui pilihan jurusan tersebut.

Novel tersebut tidak serta merta memberikan efek yang besar pada saya. Sudah hampir 5 tahun saya menjalani pilihan edukasi saya ini. Belajar ilmu purbakala yang tidak populer itu. Sudah selama ini itulah saya mengalami sendiri berbagai cerita manis, pahitnya bergelut dibidang yang tidak banyak orang tahu ini. Manis, karena saya bisa jalan-jalan keberbagai daerah yang dulu saya tidak pernah bayangkan bisa kesana. Pahit, karena orang-orang kebanyakan tidak tahu ilmu kami berguna untuk apa bagi mereka. Akan tetapi, pertanyaan dari novel tersebut sempat menggelembung juga. Apa gunanya ilmu ini? Ini sedikit menambah keruwetan pikiran saya. Belum ada jawaban yang tepat yang bisa saya berikan namun dalam hati masih ada keteguhan bahwa setiap ilmu pengetahuan bukannya tidak berguna. Saya memang tidak menyelamatkan nyawa orang, tidak pula menggerakkan roda perekonomian negara, tidak membela orang miskin, apalagi menciptakan teknologi. Apa guna ilmu ini?

Kita lewati pertanyaan ini. Saya tidak bisa menjawabnya sekarang. Sejujurnya malah itu membuat saya semakin ruwet.

Oh, ya. Beberapa waktu lalu ada pembaca blog saya yang menghubungi saya. Mereka bercerita ingin memilih jurusan purbakala ini dan menjadi arkeolog. Bagi mereka dan bagi saya hingga sekarang ilmu ini memang menawarkan petualangan-petualangan eksotis. Apalagi kalau bukan gara-gara dia ini..

Saya pun tersihir gara-gara dia. Meski demikian. Bukan mau meruntuhkan impian masa kecil hanya saja saya ingin memberikan kenyataan agar tidak berharap muluk. Indiana Jones itu arkeolog tahun 1930-an dengan kondisi perang dan negara yang saling berebut kekuasaan. Nah, kalau sekarang ya bisa dibilang Indiana Jones itu cuma sekedar kriminal tukang bongkar makam. Hahaha..

Ilmu arkeologi yang lebih populer sekarang ini jauh lebih sistematis dan tidak asal ambil. Walaupun begitu, saya tidak pernah berhenti berharap suatu hari nanti saya akan memiliki petualangan yang tidak kalah spektaluler seperti dia. Mungkin saya tidak bisa menyelamatkan nyawa seseorang. Akan tetapi menghidupkan masa lalu bukanlah hal yang buruk juga.

Sejauh ini saya belum menyesali pilihan edukasi. Meski demikian harapan untuk melakukan sesuatu itu selalu ada..

Wednesday, April 13, 2011

Museum Adalah Alat

Pagi ini muncul berita yang bikin saya geram. Benda-benda cagar budaya akan dibawa keluar Indonesia sebagai koleksi dari Museum Kerinci yang didirikan di atas tanah negara Malaysia. Dan dengan dana dari Malaysia. Ada beberapa kejanggalan disini. Jika masalah dana--ok. Boleh saja kita mendapat bantuan dana dari pemerintah asing untuk membangun sebuah museum namun ketika bangunan itu akan berdiri di luar batas negara kita?

Apakah ini, lagi-lagi, suatu kegagalan pemerintah untuk menjaga kebudayaan materi dan historis bangsa? Jika meniliki alur yang jauh lebih panjang ke belakang--Indonesia memang masih memiliki rumpun melayu yang sama dengan Malaysia. Terlebih lagi bagi masyarakat di kepulauan Sumatera yang secara geografis berdekatan dengan Negeri Jiran tersebut. Tidak menyangkal pula bahwa pada masa lalu, dimana garis batas negara imajiner tersebut belum ada, masyarakat di seputaran selat Malaka memiliki akar kebudayaan yang hampir serupa. Baik adat istiadat, hasil kerajinan, bahasa dan lain sebagainya. Sehingga pun hingga sekarang Malaysia masih merasa kebudayaan tersebut juga mereka kebudayaan milik mereka. Ibaratnya, Indonesia dan Malaysia itu 2 sodara yang sekarang terpisah oleh garis batas arbiter penjajahan di awal abad ke-17 tersebut.

Namun--meski kebudayaan kita serupa namun tak sama, seharusnya ada penghormatan terhadap garis batas kenegaraan. Urusan ini memang tidak besar seperti pengambilan pulau Ambalat beberapa tahun silam. Namun jika pemerintah Indonesia tidak mampu melindungi BCB yang telah bergerak ke seberang lautan tersebut maka jangan salahkan deh kalau bahkan rakyatnya sendiri tidak percaya kalau Indonesia ini mampu jadi sebuah negara.

Alasannya, bagi yang tidak mengetahui, museum adalah alat politik. Jika berpikir Museum hanyalah sebagai wadah, sarana penyimpanan benda-benda kuno saja, maka sebaiknya anda ikut kuliah Museologi dan belajar lebih banyak lagi soal arkeologis--karena anda bego! Pada era kolonialisasi, pemerintah Hindia-Belanda banyak sekali membangun museum-museum di kota besar kala itu. Mereka akan membangun museum dengan peta yang besar, data etnografis berbagai suku di Indonesia dan sensus penduduk yang tinggal di dalamnya. Museum juga turut menyimpan berbagai macam artefak-artefak berharga--yang kini banyak diboyong ke Leiden. Pemerintah Hindia-Belanda membangun museum--selain sebagai pusat pembelajaran mengenai daerah jajahan mereka, juga sebagai legitimasi kekuasaan mereka terhadap Indonesia. Museum adalah alat politik mereka untuk menyatakan kepada negara-negara barat lainnya (Inggris, Prancis) bahwa mereka menguasai daerah tersebut. Maka pemerintah Hindia-Belanda merasa memiliki hak untuk memboyong kebudayaan Indonesia keluar dari garis batas negara. Namun masih tetap dalam negara yang sama (Pemerintahan Ratu Belanda dengan negara jajahan Hindia-Belanda).

Museum sebagai legitimasi kebudayaan. Maka, jika Malaysia membangun museum dengan kebudayaan Kerinci di negara Malaysia--yang berarti melewati garis batas negara bisa dikatakan kita tidak punya legitimasi atas kebudayaan tersebut. Meski pun apabila nanti pemerintah dijanjikan dibuatkan caption sebesar baliho iklan di jalan tol bahwa kebudayaan itu milik Indonesia itu sama saja bohong. 5-10 tahun lagi cerita pasti akan berganti. Seperti halnya kita yang kini melihat kebanyakan museum-museum di Indonesia sebagai produk Belanda, maka mata dunia akan melihat mengambil kesimpulan Malaysia lah si pemilik kebudayaan Kerinci.

Itu yang tidak dapat dipahami oleh orang-orang pemerintah pusat maupun daerah. Kita terlalu mabuk sejarah hingga lupa caranya menjaganya.

Tuesday, April 12, 2011

Halo, apa kabar?

Sulit juga mau cerita soal apa di blog kali ini? Yang kini terjadi--kepala dipenuhi ide-ide, metodologi, dan hipotesa tentang skripsi. Alhamdulillah banget saya dikasih ide cemerlang. Tuhan telah menyalakan lampu itu untuk saya. Sekarang tinggal memberikan semangat untuk memulainya.

Kabar kampus?
Akhirnya angkatan 2006 ada juga yang sudah resmi lulus. Sudah ada yang memberikan tanda untuk nyusul. Dan mengejar banyak ketertinggalan dibelakang. Mari berkarya!


2006 yang masih itu-itu aja

Wednesday, February 23, 2011

Sedikit curhat

Hari ini, seorang teman baik saya diwisuda setelah menempuh studi selama hampir lebih 4 tahun lewat sedikit. Opppsss. Wisuda. Kelulusan. Pendadaran. Skripsi. Dan lihat saya selama memasuki masa studi ke tahun kelima ini. Masih saja berkutat dengan itu-itu saja--niat membuat proposal. Sedikit curhat juga deh, selama setahun kemarin saya ini sama sekali nggak melakukan apa-apa. Terutama setelah semester dengan KKN selepas itu hidup tidak pernah bersentuhan dengan yang namanya karya ilmiah. Salah saya juga lah, karena malas untuk mengerjakan sesuatu yang seharusnya memang sudah jadi tanggung jawab semenjak setahun yang lalu. Namun, rasanya ada saja alasan untuk menunda. Ya penggalian ini-itu, proyek ini-itu, kemalasan ini-itu.

Waktu seperti terbang. Bahkan ide proposal juga turut terbang. Keinginan berganti, deretan pertanyaan membayangi. Saya jalan ditempat. Dan ini tidak baik. Kalau ditanyakan, kenapa mahasiswa Arkeologi itu kalau lulus telat, mungkin saya akan menjawab, dengan jutaan alasan klasik, bahwa kesulitan bidang Arkeologi adalah kita harus turun ke lapangan mencari data. Nah, data itu kadang ada dan kadang tidak akan tetapi lebih sering tidaknya. Berbeda dengan anak HI yang bikin TA tentang konflik Timur Tengah nggak perlu sampai jihad kesana, atau anak Psikologi yang nyebar kuisioner untuk dibagikan ke remaja-remaja. Bidang saya, harus turun ke lapangan, mencari data yang keberadaannya sangat sulit dicari. Kita mempelajari sejarah namun yang tidak berlalu--terkadang data tidak mendukung, menjadi detektif dan mereka-reka namun juga harus valid.

Yah, sedikit curhat colongan. Namun melihat teman-teman saya tadi memakai baju toga dan ketawa lebar itu melecutkan hati juga. Ok. Saya kepengen dandan kayak mereka dan jumawa. Karena itulah, mari kita mulai sekarang!

Mari berkarya :)

Friday, February 11, 2011

Plered sama keramatnya dengan Crop Circle

Arkeo genjot kembali lagi. Mungkin karena terlalu punya banyak waktu senggang akhir-akhir ini makanya jadi sering untuk mengayuh sepeda dan touring. Well, melupakan sejenak (?) beberapa urusan dibelakang. Teman-teman arkeo 2006 plus satu teman 2004 meluncur kembali dijalanan.

Saya kepengen cerita 2 perjalanan touring kami. Yang pertama menuju Plered, Bantul. Dan kedua menuju Berbah, Sleman. Tampaknya kami sudah sering keliling Yogya dengan sepeda. Tujuan pertama ke Plered waktu itu karena mengunjungi kegiatan praktikum ekskavasi angkatan 2009. Salah satu pengalaman baru lagi karena ini melihat penggalian untuk mencari rekonstruksi sejarah dari masa Islam. Jadilah kami berkunjung ke bekas-bekas tinggalan Kraton Plered yang ada. Yang menarik adalah lokasi penggalian yang dekat dengan makam dan 2 pohon besar yang keramat--maklumlah ceritanya ini tempat bekas Masjid-Makam.


- kami dan pohon ratusan tahun

Beberapa minggu kemudian masih dengan keadaan yang "seloooo" sekali, kami melaju lagi untuk mengayuh sepeda ke utara. Tepatnya menuju lokasi fenomenal Crop Circle. Saya rasa kami kena demam invasi alien dan kepengen tahu bentuknya seperti apa sih. Apapun dibalik mitos yang ada--konspirasi, cerita, gimmick, apapun, namun jauh di lubuk hati saya masih tetap berharap kalau alien memang datang mampir ke bumi :p

- naik bukit curam dan licin demi lihat bunderan itu apa namanya kalau bukan kami percaya akan adanya Alien!

Hal baru dalam 2 perjalanan terakhir ini adalah akhirnya saya bisa menaiki sepeda impian ulang tahun--meski warna pink bukan biru serta bergambar. Memang disini yang penting bukan jenis sepeda apa yan kamu pakai namun sejauh mana kamu ingin mengayuh sepedamu.