Saturday, November 23, 2013

Gali Rumah?

Apa jadinya jika halaman rumah yang kamu idam-idamkan untuk segera ditinggali, kini justru malah berubah jadi labirin kotak galian? Kalau saya sih pasti pingsan di tempat. 

Anyway, itu pula yang jadi cerita seru kali ini. Saya bersama temen-temen arkeologi veteran (baca: pengangguran ceria) kali ini harus meng-ekskavasi halaman rumah orang untuk mencari candi di Desa Bedingin, Mlati, Cebongan, Sleman, Yogyakarta.

Asal mulanya berawal dari pembangunan rumah di daerah perumahan baru tersebut. Ketika mereka sedang membuat sumur resapan untuk pembuangan kotoran, ditemukan sebuah batu kotak-kota khas bangunan candi, serta sebuah batu berukir yang ternyata merupakan Makara. Temuan itu langsung dilaporkan ke BPCB Yogyakarta. Mereka pun bertindak cepat dan tim ekskavasi inipun dibentuk secara mendadak.

Akhirnya terkumpul para veteran arkeolog yang terlibat dalam penggalian ini. Ekskavasi bersama rekan seperjuang yang sama-sama lama menempuh waktu kuliah. Tentu saja ekskavasi ini kerasa begitu spesial dan hangat. Masing-masing sudah tau karakter satu sama lainnya sehingga tidak ada kesulitan untuk menjalin kerja tim. Suasana seru ini terus berlangsung hingga akhir kegiatan.

Ini merupakan kerja sama pertama ku dengan BPCB Yogyakarta. Akhirnya aku diberi kesempatan untuk bekerja sama dengan instansi ini. Tentu saja ada hal yang baru lagi yang dapat dipelajari. Aku jadi jauh lebih matang dalam teknis ekskavasi kali ini. Yang mengejutkan adalah atmosfir kerjanya yang super santai. Aku tidak begitu keberatan sih.

Ekskavasi kali ini merupakan penggalian untuk penyelamatan benda cagar budaya. Problem muncul karena sempitnya ruang gerak kami untuk mengupas tanah. Hal ini karena bangunan rumahnya sudah berdiri kokoh sehingga yang diharapkan untuk dapat menemukan sebuah struktur fondasi candi agak sulit. Tetapi, kami tetap beruntung karena berhasil menemukan sebuah lempeng emas dalam pecahan periuk. Bisa jadi pripih tetapi bukan pripih utama. Bisa jadi apa saja.

Penggalian kali ini membuatku merenungkan banyak hal. Kalau selama ini, di penggalian prasejarah, saya selalu terlibat pada death monument seperti halnya gua atau situs terbuka seperti Sangiran, penggalian di situs klasik kerap kali bersinggung dengan masyarakat masa kini. Entah tempat tinggal, universitas, sawah dan lain sebagainya. Kurasa ini jadi pengingat tersendiri bagi saya, bahwa apa yang kita agungkan sebagai sebuah penelitian harus berbenturan dengan banyaknya kepentingan. Saya sih merasa kita tidak boleh egois dengan mengatas namakan ilmu pengetahuan. Akan tetapi disatu sisi, idealisme sebagai peneliti pun tergelitik ingin mengetahui lebih dalam lagi.

Pada akhirnya, semua ini jadi bahan perenungan tersendiri. Dimanapun tempatnya. Se-menyebalkan, se-bosan apapun, se-bobrok apapun instansi tempat kita bekerja tetap disana adalah tempat kita untuk terus belajar dan menghasilkan karya.

 courtsey: Cak Cuk Riomandha
 courtsey: Cak Cuk Riomandha


Courtesy: Andi Putranto

No comments: