Wednesday, January 16, 2008

Old City Kota Gede


Kotagede dahulu kala merupakan ibu kota kerajaan dari Kerajaan Mataram Islam yang didirikan Ki Ageng Pemanahan. Sebagai kota kerajaan yang bercorak Islam, terdapat kosmologis yang khas yang menjadi ciri khas dari kota Islam. Adanya Kraton, sebuah masjid yang didirikan di sebelah barat dari alun-alun kota, kemudian adanya pasar, dan makam. Semua itu menjadi ciri khas tersendiri yang ada pada kota Islam pada umum di Indonesia.

Kawasan Kotagede saat ini telah banyak berubah. Ada banyak bangunan yang telah hilang dan banyak juga bangunan baru yang dibangun. Kotagede saat ini menjadi sebuah kawasan budaya sekaligus pariwisata yang memiliki banyak potensi untuk dikembangkan. Selain memiliki latar belakang historis yang sangat berharga, kawasan ini juga masih banyak terdapat bangunan-bangunan tua yang layak dilindungi dan dirawat karena memiliki nilai sejarah yang bernilai tinggi.

Begitu juga Masjid Agung Kotagede yang masih berdiri dengan sampai sekarang ini. Masjid ini memiliki gaya bangunan yang masih terkena pengaruh Hindu-Budha. Salah satunya adalah gapura yang berukiran mirip pintu wihara. Di dalam masjidnya sendiri terdapat mimbar berukiran unik, upeti dari Adipati Palembang untuk Sultan Agung.

Mengingat usianya yang telah sangat tua maka tak heran banyak sekali bentuk perawatan yang telah dilakukan di sana.


Jeng..jeng..jeng


Field trip Selasa, 18 Desember 2007, kita mengunjungi kawasan Kota Gede sebagai pengenalan langsung kepada kondisi benda cagar budaya yang rusak dan penyebab kerusakannya itu sendiri. Kuliah lapangan ini kita dibagi beberapa kelompok dan tiap kelompok mesti membuat gambar langsung tembok luar masjid yang ditunjuk kemudian dianalisa kerusakan atau kelapukan apa yang ada bagian tersebut.



Setelah makan siang dan pekerjaan pengamatan tersebut kelar, maka kita langsung beranjak keluar untuk mengamati langsung kawasan kota gede baik di rumah-rumah penduduknya maupun lorong-lorong sempit yang merupakan akses jalan.



Berada di lorong-lorong sempit itu rasanya kita bisa membayangkan betapa kerajaan Mataram berupaya membuat pertahanan yang rumit layaknya labirin. Asyik sekali. Konservasi diupayakan untuk menjaga dan merawat benda-benda cagar budaya tersebut agar masih tetap bisa digunakan dan sebagai data artefaktual. Karena itulah penting bagi para arkeolog untuk bisa mengelola kawasana-kawasan yang bernilai historis tinggi. Selain bisa meneruskan sejarah ke banyak orang, bisa juga dimanfaatkan sebagai aset pariwisata. Namun sayang sekali kayaknya sih masih jauh berharap kalo kawasan ini bisa dijadiin aset pariwisata kayak negara-negara di Eropa atau bahkan Malaysia. Nggak cuma dari pemerintahan aja sih, tapi juga kepeduliaan orang-orang sekitar yang tinggal di sana.



*pedestrian*


*the team*


*at Pasar Kotagede*




*clik clock*




*gapura samping*




No comments: